Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Merapi Siaga, Melihat Persiapan Warga Kemalang Antisipasi Erupsi

Salah satu bentuk kesiapsiagaan warga seperti setiap RT memiliki SOP ketika harus melakukan evakuasi.
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 07 November 2020  |  09:24 WIB
Pembeli memilih mainan tradisional yang dijual di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Minggu (1/11/2020). Berbagai kerajinan, aksesoris seni, busana dan mainan tradisional yang dijual seharga Rp15.000 hingga Rp260.000 tersebut banyak dibeli untuk souvernir bagi para turis di kawasan wisata di Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta, Pasar Klewer dan Masjid Agung Solo. - Antara/Maulana Surya
Pembeli memilih mainan tradisional yang dijual di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Minggu (1/11/2020). Berbagai kerajinan, aksesoris seni, busana dan mainan tradisional yang dijual seharga Rp15.000 hingga Rp260.000 tersebut banyak dibeli untuk souvernir bagi para turis di kawasan wisata di Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta, Pasar Klewer dan Masjid Agung Solo. - Antara/Maulana Surya

Bisnis.com, KLATEN – Warga yang tinggal di kawasan rawan bahaya di Klaten mulai meningkatkan kewaspadaan mereka seiring peningkatan status Merapi ke level siaga.

Seperti yang dilakukan warga di wilayah Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten. Salah satu warga Dukuh Mbangan, RT 027/RW 009, Desa Sidorejo, Sarjino, menjelaskan peningkatan status Merapi tak memengaruhi aktivitas warga.

“Aktivitas warga yang masih seperti biasa. Tetapi, kewaspadaan warga tetap meningkat. Selain terus memperbarui informasi dari BPPTKG, warga juga semakin sering melihat gunung. Yang menjadi acuan warga itu visual. Kalau visual tidak terlihat, selanjutnya alarm,” kata Sarjino saat ditemui di kawasan Deles Indah, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Jumat (6/11/2020).

Sarjino mengatakan salah satu bentuk kesiapsiagaan warga seperti setiap RT memiliki SOP ketika harus melakukan evakuasi. Warga di masing-masing RT memetakan jalur evakuasi mandiri termasuk mendata kelompok rentan serta angkutan yang mengangkut mereka.

Begitu pula dengan ternak yang sudah didata dan dilakukan pemetaan kendaraan pengangkut. Data itu menjadi acuan ketika harus dilakukan evakuasi terutama kelompok rentan dan ternak dengan mempertimbangkan ketersediaan angkutan.

Proses pendataan itu rutin dilakukan warga di wilayah Sidorejo terutama mereka yang tinggal di daerah teratas atau paling dekat dengan Merapi. Pendataan dilakukan rutin saban 35 hari sekali.

Namun, sejak status Merapi meningkat pada level siaga, Kamis (5/11/2020), intensitas pendataan kian ditingkatkan menjadi saban hari. Pendataan dilakukan melalui sukarelawan di masing-masing RT.

“Kami lakukan setiap hari karena untuk jumlah ternak itu bisa bertambah dan berkurang setiap harinya. Begitu pula dengan kondisi kendaraan setiap hari juga bisa berubah, mana yang kondisinya rusak mana yang baik,” kata Sarjino.

Kesiapsiagaan lainnya yang dilakukan warga terhadap ancaman erupsi Gunung Merapi yakni menyimpan aneka surat berharga dalam satu tas. Hal itu dilakukan sejak warga pulang dari tempat pengungsian pasca erupsi Merapi 2010 silam.

Penyimpanan surat berharga dalam satu tas itu dimaksudkan agar mudah dibawa ketika sewaktu-waktu harus melakukan evakuasi. Lagkah kesiapsiagaan lainnya dengan selalu mengarahkan sepeda motor ke sisi jalan atau mengarah sesuai jalur evakuasi ketika parkir.

Hal itu pula yang selalu diingatkan warga lereng Merapi ketika ada warga luar desa yang datang ke kampung mereka. Cara itu dimaksudkan agar memudahkan upaya menyelamatkan diri ketika sewaktu-waktu Merapi bergejolak.

Kaur Keuangan Desa Sidorejo, Susanto, mengatakan hal serupa. Selain menyimpan surat berharga dalam satu tas serta mengarahkan sepeda motor ke sisi jalan, selama ini warga juga sudah terbiasa menempatkan pakaian mereka pada satu tas.

Hal itu juga dimaksudkan untuk mempercepat penyelamatan diri ketika harus dilakukan evakuasi. Hal serupa dilakukan warga yang tinggal di daerah teratas di Desa Tegalmulyo.

Salah satu warga Dukuh Pajegan, Desa Tegalmulyo, Kemalang, Klaten, Martono, 42, menuturkan selain menyimpan surat berharga dalam satu tas, dia juga sudah terbiasa menyimpan pakaian dalam satu tas. Hal itu dia lakukan sejak status Merapi dinyatakan pada level waspada, 21 Mei 2018 silam.

“Ketika keadaan darurat mudah dibawa. Di desa kami juga ada pendataan secara rutin untuk proses evakuasi mandiri,” kata Martono yang tinggal di daerah yang berjarak sekitar 3,7 km dari puncak Merapi.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Kemalang, Klaten, Jainu, mengatakan salah satu bentuk kesiapsiagaan warga di wilayahnya yakni secara rutin melakukan pembaruan data jumlah penduduk, kelompok rentan, kendaraan, hingga ternak.

Hal itu untuk memudahkan proses evakuasi mandiri. Selain itu, masing-masing RT kini sudah memiliki handy talky (HT) yang difungsikan menjadi alat komunikasi dengan sukarelawan. HT memudahkan koordinasi warga antarwilayah.

“Setiap RT sudah ada HT. Jadi kalau ada apa-apa tinggal menginformasikan saja. Untuk evakuasi, pada 2010 itu memang ada sebagian warga yang susah diajak untuk mengungsi. Pasca 2010 itu warga sudah mudah. Seperti saat terjadi beberapa kali erupsi freatik, warga tanpa diinstruksikan sudah melakukan evakuasi mandiri,” jelas Jainu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng gunung merapi

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top