Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lagi! Ganjar Klaim Jateng Bebas Zona Merah, Satgas Sebut Ada 6 Daerah Risiko Tinggi

Data zona risiko penularan Covid-19 di Jawa Tengah kembali tidak sinkron antara pusat dan daerah.
Muhammad Faisal Nur Ikhsan dan Alif Nazzala R.
Muhammad Faisal Nur Ikhsan dan Alif Nazzala R. - Bisnis.com 03 Maret 2021  |  07:09 WIB
Grafis pergerakan kasus positif Covid/19 di Jawa Tengah.
Grafis pergerakan kasus positif Covid/19 di Jawa Tengah.

Bisnis.com, SEMARANG - Data zona risiko penularan Covid-19 di Jawa Tengah kembali tidak sinkron antara pusat dan daerah.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengklaim wilayahnya tidak ada lagi zona merah alias risiko tinggi penularan Covid-19. Sedangkan Satgas Penanganan Covid-19 nasional mengumumkan ada enam zona merah di Jawa Tengah.

Klaim Jateng bebas zona merah Covid-19 juga terjadi dua pekan sebelumnya. Namun demikian, Satgas Covid-19 tetap mempublikasikan beberapa kabupaten/kota zona risiko tinggi Covid-19.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyebutkan grafik kasus aktif di 35 Kabupaten/Kota di Jateng terus mengalami penurunan.

"Kalau dilihat dari sisi epidemiologi, zona risiko tinggi pada 7 Februari ada 5 Kabupaten di Jateng. Tapi pada minggu setelahnya sampai hari ini tidak ada satu pun zona merah di 35 Kabupaten/Kota," kata Ganjar, Selasa (2/3/2021).

Baca Juga : Zona Merah di Jateng Bertambah, Kini Jadi 8 Wilayah, Ganjar Klaim Berbeda

Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di Jawa Tengah 67 persen.

Tak hanya itu, jumlah zona merah di Kecamatan dan kelurahan yang ada di Jawa Tengah juga terus menurun. Dari data yang ada, awalnya terdapat 25 kecamatan masuk zona merah pada 7 Februari. Namun, pada 14 Februari turun jadi 10 kecamatan dan pada 21 Februari hanya 4 kecamatan masuk zona merah.

"Begitu juga di desa, pada 7 Februari ada 158 desa masuk zona merah, turun jadi 98 pada 14 Februari dan turun lagi jadi 30 pada 21 Februari. Artinya apa, saya melihat kondisi ini bagus, dan PPKM mikro berjalan dengan baik," terang Ganjar.

Selain itu, angka kasus harian juga terus mengalami penurunan. Per hari ini, jumlah kasus baru harian tertinggi di Banyumas sebanyak 52, Jepara 26, Klaten 23, Boyolali 22 dan Kota Semarang 17 kasus.

"Bahkan di daerah lain seperti Wonogiri, Rembang, Kota Tegal, Salatiga dan Cilacap tidak ada penambahan kasus," jelas Ganjar.

Artinya, lanjut dia, semua mengalami penurunan cukup signifikan. Untuk kasus aktif juga terus menurun, tertinggi di Kota Semarang 508, diikuti Banyumas 466, dan Cilacap 326 kasus. "Tempat isolasi juga sepi, di Donohudan saja sekarang hanya terisi 22 orang. Artinya selama satu tahun evaluasi kami, semuanya menunjukkan penurunan bagus sambil kami genjot upaya vaksinasi dan minta semua Kabupaten/Kota mengawal agar semuanya lancar," ucap Ganjar.

Baca Juga : Setahun Covid-19, Jateng Masih Miliki Zona Merah

Tingkat kematian pasien Covid-19 di Jateng 4,1 persen.

Sementara publikasi Satgas Penanganan Covid-19 menyebutkan di Jawa Tengah, per 28 Februari 2021, ada 6 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang masih berstatus zona merah. Beberapa wilayah tersebut adalah Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Rembang, dan Kota Surakarta.

Kabupaten Banyumas menjadi wilayah tertinggi kedua dengan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Jawa Tengah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 2 Maret 2021, secara kumulatif, terdapat 6.824 kasus Covid-19 di Banyumas. Sementara itu, di Wonosobo, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 4.847 kasus. Kabupaten Wonogiri tercatat memiliki 3010 kasus Covid-19 terkonfirmasi, sementara di Rembang dan Kota Surakarta, jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 2.220 dan 5.035 kasus.

Secara kumulatif, jumlah kasus terkonfirmasi di Jawa Tengah telah mencapai 154.945 kasus. Per 2 Maret 2021, terjadi penambahan 1.446 kasus baru dibanding hari sebelumnya. Jumlah pasien yang dirawat mencapai 6.725 pasien dengan penambahan 750 pasien baru. Sementara itu, jumlah pasien yang dinyatakan sembuh mencapai 138.511 pasien.

Untuk menekan laju penularan, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di Kota Solo terus melakukan proses tracing dengan metode PCR.

Ahyani, Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Solo, mengklaim bahwa proses tracing yang dilakukan tersebut menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah. “Kami enggak mengurangi jumlah tracing. Catatan kami, jumlah tes secara RT-PCR tertinggi se-Jawa Tengah, yakni sebanyak 55.111 sasaran,” jelasnya, Senin (1/3/2021) lalu.

Sementara itu, di Boyolali, Dinas Kesehatan mulai mencatat penurunan pertambahan kasus harian. Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S. Survivalina, mengungkapkan bahwa Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) di Rusunawa Kemiri masih terus melayani pasien Covid-19. “Tingkat hunian RSDC di Boyolali sebelumnya mencapai 90 persen hingga 100 persen, kini sudah mulai menurun. Bahkan, ada satu bangsal yaitu di Brotowali II tidak ada pasiennya atau kosong,” klaimnya.

Baca Juga : Mantap! Sudah Tiga Minggu, Tidak Ada Zona Merah di Jateng

Jawa Tengah menempati posisi tiga kasus Covid-19 terbanyak nasional. Indikator tingkat kesembuhan dan kematian di provinsi ini juga lebih tinggi dari rata-rata nasional.

Satgas Covid-19 menjelaskan peta zonasi risiko daerah dihitung berdasarkan indikator-indikator kesehatan masyarakat dengan menggunakan skoring dan pembobotan.
Indikator-indikator yang digunakan adalah sbb:

Indikator Epidemiologi:
1) Penurunan jumlah kasus positif & probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
2) Penurunan jumlah kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
3) Penurunan jumlah meninggal kasus positif & probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
4) Penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
5) Penurunan jumlah kasus positif & probable yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
6) Penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak
7) Persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif & probable
8) Laju insidensi kasus positif per 100,000 penduduk
9) Mortality rate kasus positif per 100,000 penduduk
10) Kecepatan Laju Insidensi per 100,000 penduduk

Catatan: Data probable didapatkan dari data PHEOC utk nomor 1, 3, 7
Sedangkan data probable untuk nomor 6 didapatkan dari data RS Online

Indikator Surveilans Kesehatan Masyarakat
1) Jumlah pemeriksaan sampel diagnosis meningkat selama 2 minggu terakhir
2) Positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel positif dari seluruh orang yang diperiksa)

Indikator Pelayanan Kesehatan
1) Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung s.d >20 persen jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di RS
2) Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung s.d >20 persen jumlah ODP, PDP, dan pasien positif Covid-19 yang dirawat di RS

Kasus Covid-19 di Jawa Tengah didominasi usia produktif.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng ganjar pranowo Virus Corona
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top