Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Kuliner Lerep Kembali Dibuka Demi Dorong Perekonomian Warga

Setelah dua bulan tutup, kini pasar kuliner tersebut kembali dibuka. Aneka makanan dan minuman tradisional ditawarkan. Tingginya animo wisatawan yang datang jadi harapan tersendiri bagi warga sekitar.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 28 Maret 2021  |  13:23 WIB
Suasana Pasar Kuliner Tempo Doeloe di Desa Wisata Lerep, Ungaran Barat, Minggu (28/3/2021).  - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Suasana Pasar Kuliner Tempo Doeloe di Desa Wisata Lerep, Ungaran Barat, Minggu (28/3/2021). - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG – Berlokasi di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Desa Wisata Lerep tak sekedar menawarkan pemandangan alam yang menarik. Berbagai agenda wisata juga rutin diadakan di daerah tersebut, salah satunya Pasar Kuliner Tempo Dulu.

Menawarkan berbagai makanan dan minuman tradisional, pasar tersebut dilaksanakan rutin setiap pasaran atau penanggalan jawa Minggu Pon. Minggu (28/3/2021) ini, Pasar Kuliner Tempo Dulu kembali diadakan, setelah dua bulan sebelumnya ditutup akibat pandemi Covid-19.

“Setelah Ungaran Barat dinyatakan zona hijau kami buka kembali,” jelas Yanwar Faizin, Ketua Kuliner Desa Wisata Lerep, kepada Bisnis.

Yanwar mengungkapkan bahwa di awal masa pandemi, agenda Pasar Kuliner Tempo Dulu masih tetap diadakan. “Walaupun pandemi kami berusaha tetap buka karena [ingin] menjalankan ekonomi masyarakat, tapi karena kita mengontrol protokol kesehatannya sangat kesulitan, akhirnya kita memutuskan untuk diberhentikan dulu,” jelasnya.

Sebelum masa pandemi, agenda wisata tersebut bisa mendatangkan omzet hingga Rp70 – 80 juta dalam sekali pelaksanaan. “Tapi itu tidak bisa kita jadikan patokan, karena kadang pelaksanaannya dibarengi kunjungan dari rombongan wisatawan atau memang kebetulan Minggu Pon-nya berada di akhir bulan,” ungkap Yanwar.

Kini, setelah pandemi Covid-19, omzet dari acara tersebut menurun drastis. “Sekitar Rp15 – 17 juta,” jelasnya.

Menurunnya omzet agenda wisata tersebut juga berpengaruh pada pendapatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) secara keseluruhan. Pasalnya, Pasar Kuliner Tempo Dulu bisa menyetorkan 2,5 persen omzet keseluruhan acara ke kas BUMDes.

“Sisanya dibagikan ke panitia acara dan juga untuk pengembangan fasilitas wisata,” papar Yanwar.

Kini, akibat pandemi, agenda Pasar Kuliner Tempo Dulu terpaksa menghentikan sumbangan kas BUMDes tersebut. Tak hanya itu, pedagang yang berasal dari warga sekitar juga tak diwajibkan membayarkan 10 persen dari omzet penjualannya di hari tersebut kepada panitia acara.

“Dalam masa pandemi ini, untuk memberi semangat pedagang, [iuran dari pedagang sebesar]10 persennya kita tiadakan dulu. Setoran ke BUMDES juga kita berhentikan terlebih dulu,” jelas Yanwar.

Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan pedagang yang juga warga sekitar desa wisata. Tak hanya itu, langkah tersebut juga dilakukan sembari menunggu normalnya jumlah kunjungan wisatawan ke agenda wisata tersebut.

Tak hanya Desa Wisata Lerep, di Jawa Tengah sendiri setidaknya ada 641 desa wisata yang beroperasi. Berdasarkan data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Semarang tercatat memiliki 51 desa wisata.

Lesunya kinerja sektor pariwisata di Jawa Tengah akibat pandemi tak hanya dirasakan pengelola pariwisata, pengusaha hotel, restoran, hingga sektor pendukung lainnya pun mengalami hal serupa.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top