Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peneliti: Pembangunan yang Masif Turut Sebabkan Banjir di Semarang

Perubahan penggunaan ruang menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Semarang.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 07 April 2021  |  21:05 WIB
Ilustrasi - Proses pembangunan Jalan Tol Semarang - Demak - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Ilustrasi - Proses pembangunan Jalan Tol Semarang - Demak - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG – Koalisi Pesisir Kendal-Semarang-Demak menyampaikan temuan awal hasil penelitiannya terkait penyebab banjir di Semarang.

Umi Ma’rufah, peneliti sekaligus anggota KPKSD menjelaskan banjir yang terjadi pada Februari lalu menjadi salah satu pemantik penelitian ini.

“Riset ini berawal dari perbincangan tentang adanya fenomena banjir besar di Semarang dua bulan yang lalu, bulan Februari, yang terjadi dua kali antara 5 - 7 Februari dan 23 Februari, kedua banjir ini terhitung paling besar dalam 10 tahun terakhir,” jelas Umi, Rabu (7/4/2021).

Menurut Umi, perbincangan mengenai penyebab banjir di Semarang didominasi oleh narasi tingginya curah hujan yang terjadi, serta usaha-usaha pemerintah dalam menangani bencana tersebut.

“Kami mengangkat kritisisme netizen dalam merepolitisasi penyebab banjir, apakah benar banjir itu hanya karena curah hujan yang ekstrem?” jelasnya.

Bosman Batubara, fasilitator penelitian sekaligus mahasiswa program doktoral Water Governance Department, University of Amsterdam, menyampaikan bahwa perubahan penggunaan ruang menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Semarang.

“Kami mencoba memetakan perubahan penggunaan ruang di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Semarang sejak tahun 1970-an sampai ke sini,” jelasnya.

Dari temuan awal tersebut, terlihat pola pembangunan yang memakan lahan resapan air hujan dan tutupan vegetasi di Semarang.

“Perubahan masif di keseluruhan DAS, dimana Kota Semarang berada ini, terjadi terutama sejak tahun 1980-an ke sini dan area terbangun melebihi tutupan vegetasi pada tahun 2000-an akhir, sementara secara umum tutupan airnya menurun,” jelas Bosman.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Bosman, terlihat pada tahun 1973 area terbangun di Semarang berkisar di angka 12,5 persen dari keseluruhan DAS.

Tutupan vegetasi tercatat di angka 84,1 persen, sedangkan titik resapan air berada di angka 3,5 persen.

Pada tahun 2020, angka tersebut berubah drastis. Area terbangun melonjak hingga 66,2 persen, sementara tutupan vegetasi menyusut hingga tersisa 32,7 persen.

Tren yang cukup ekstrem secara khusus terlihat di DAS Silandak.

Data evolusi penggunaan DAS Silandak pada periode 1973 – 2020 menunjukkan perubahan yang sangat signifikan.

Di wilayah tersebut luas area terbangun mulanya hanya berkisar di angka 9,9 persen, sementara tutupan vegetasi mencapai 62,5 persen.

Pada tahun 2020, angkanya berbalik. Luas area terbangun mencapai 93 persen, sementara tutupan vegetasi tersisa hanya 2 persen dari keseluruhan luas DAS.

Pemerintah di tingkat kota, provinsi, hingga pusat, telah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana banjir di Semarang.

Di ujung utara, misalnya, proyek pembangunan Jalan Tol Semarang – Demak bakal difasilitasi oleh tanggul laut yang diharapkan mampu meminimalisir resiko banjir rob.

Tak hanya tanggul laut, kolam-kolam penampungan air hujan juga bakal disiapkan. Kolam tersebut diharapkan dapat menampung luapan air dari Kali Babon apabila curah hujan tinggi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

semarang Banjir Semarang
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top