Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Lika-liku Berburu Penyambung Napas Pasien Akibat Corona

Pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi saturasi oksigen agak turun. Artinya, kondisi pasien terpapar Covid-19 itu termasuk kategori sedang dan berat.
Sri Sumi Handayani
Sri Sumi Handayani - Bisnis.com 11 Juli 2021  |  07:50 WIB
Kisah Lika-liku Berburu Penyambung Napas Pasien Akibat Corona
Ilustrasi. - Antara/Novrian Arbi

Bisnis.com, KARANGANYAR—Ketersediaan oksigen di rumah sakit pada masa pandemi Covid-19 menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Terutama saat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terus meningkat beberapa waktu terakhir.

Rumah sakit yang menjadi rujukan penanganan Covid-19 memasang “status waspada” terkait ketersediaan oksigen. Tidak terkecuali Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karanganyar. Rumah sakit pelat merah di Kabupaten Karanganyar itu memiliki strategi memastikan ketersediaan oksigen untuk pasien selama pandemi Covid-19.

Plt Kepala Dinas (Dinkes) Kabupaten Karanganyar, Purwati, menuturkan kondisi “darurat” ketersediaan oksigen tidak hanya terjadi di Kabupaten Karanganyar. “Ini, [ketersediaan] oksigen itu kondisinya tidak hanya di Karanganyar saja. Memang semuanya se-Jawa Tengah. Kalau yang di rumah sakit [Karanganyar] saya rasa masih cukup,” kata Purwati saat dihubungi JIBI, Jumat (9/7/2021).

Kepala Bidang (Kabid) Penunjang Medik dan Nonmedik RSUD Karanganyar, Katarina Iswati, menceritakan rumah sakit berburu oksigen setiap hari. Lokasi perburuan tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi hingga Yogyakarta.

RSUD Karanganyar tidak hanya sekali berburu oksigen per hari. “Kami bekerja sama dengan sejumlah pemasok. Sampai ke Yogyakarta untuk hunting [berburu] oksigen. Itu upaya. Ada grup yang menginformasikan pemasok mana yang siap. Kami ke sana. Cuma kan kondisinya memang enggak bisa,” kata Katarina saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat.

Dia mengaku baru perjalanan pulang mengantre ke tempat salah satu pemasok oksigen bersama petugas RSUD Karanganyar pukul 16.20 WIB.

Katarina menceritakan pemantauan ketersediaan oksigen di bangsal isolasi Covid-19 RSUD Karanganyar dilakukan tiga kali sehari. Pemantauan melalui grup WhatsApp bangsal isolasi Covid-19.

“Kami memiliki grup WhatsApp [namanya] bangsal isolasi Covid-19. Saya minta setiap bangsal melapor stok oksigen tiga kali sehari pada jam tertentu. Mereka kan bisa memperkirakan stok yang ada bertahan sampai sekian jam. Nah, sebelum itu [habis] harus hunting. Jadi saat batas waktu, [oksigen] sudah ada,” ujar dia.

Pada kondisi tertentu, dilakukan pengelolaan oksigen antarbangsal isolasi Covid-19 di RSUD Karanganyar. “Kalau bangsal sana ada sisa oksigen, dioper ke bangsal lain yang membutuhkan. Kolaborasi per bangsal. Selama ini begitu,” tutur dia.

Perempuan berambut cepak itu tersenyum saat ditanya berapa kali bolak balik ke tempat pemasok dalam sehari. Dia menuturkan tidak ada jam pasti berburu oksigen dalam sehari. Dia mencontohkan hari itu, Jumat. Rombongannya mulai mengantre pukul 08.00 WIB dan baru dapat oksigen pukul 14.30 WIB.

“Ngeri pokokke. Pagi itu ada [tabung] kosong berapa, naikkan truk. Berangkat ke pemasok. Dapat oksigen, pulang ke rumah sakit. Turunkan oksigen, distribusikan ke bangsal. Naikkan lagi tabung kosong lalu berangkat ke pemasok. Jadi kami berusaha sebelum [oksigen] habis, sudah berburu,” ceritanya.

Katarina membocorkan proses pemasakan oksigen hingga siap digunakan masyarakat selama empat jam. Setiap pemasok memiliki kapasitas produksi tertentu. Dia mencontohkan satu pemasok memiliki kapasitas kran 30 tabung per pengisian.

Katarina meminta JIBI membayangkan kondisi saat ini, permintaan oksigen meningkat. Permintaan oksigen meningkat seiring kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tinggi.

Katarina menyebut pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi saturasi oksigen agak turun. Artinya, kondisi pasien terpapar Covid-19 itu termasuk kategori sedang dan berat.

“Antre ya dilakoni.”

Dalam perkembangan berbeda, Kementerian Kesehatan menyediakan aplikasi 'Farma Plus' yang dapat diakses masyarakat untuk memantau ketersediaan obat terapi COVID-19 di berbagai fasilitas layanan kesehatan.

"Kemenkes membuat aplikasi Farma Plus dimana ketersediaan obat di apotek bisa diakses masyarakat. Kita bekerja sama dengan industri BUMN dan swasta," kata Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Arianti Anaya dalam konferensi pers secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Sabtu sore.

Arianti mengatakan aplikasi yang segera diluncurkan itu memungkinkan masyarakat mengetahui informasi terkait keberadaan stok obat terapi Covid-19 di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, seperti apotek maupun rumah sakit. "Jejaringnya sampai ke seluruh pelosok Indonesia," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng kabupaten karanganyar oksigen

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top