Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gaya Hidup Serba Instan Ancam Keamanan Nasional

Hari ini, ancaman keamanan nasional tak melulu soal kedaulatan teritorial. Justru, ancaman terbesar datang dari perubahan pola pikir di masyarakat.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 12 Oktober 2021  |  15:35 WIB
Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yos Johan Utama. - Antara
Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Yos Johan Utama. - Antara

Bisnis.com, SEMARANG – Yos Johan Utama, Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, menyebut bahwa perkembangan teknologi telah mendorong banyak perubahan di masyarakat. Salah satu yang paling mencolok adalah mulai menjamurnya gaya hidup serba instan.

“Kita menghadapi dunia baru, semuanya sudah serba instan. Anak-anak jarang pergi keluar karena bisa mendapat segala sesuatu dengan mudah melalui daring. Banyak sekali perubahan nilai di situ, inilah yang justru kita takutkan, kita khawatirkan, sebagai suatu bangsa,” jelas Yos, Selasa (12/10/2021).

Yos menyebut bahwa apabila tidak diantisipasi, berbagai perubahan tersebut dapat mengancam keamanan nasional. Oleh sebab itu, pendidikan memiliki peran lebih untuk berkontribusi pada upaya menjaga kedaulatan negara.

“Ini yang bisa kita sumbangsihkan kepada negara. Nilai-nilai [kebangsaan] itu kita tanamkan kepada mereka, dalam setiap kuliah kita, dalam setiap tulisan kita, dalam setiap pengabdian kita,” tutur Yos.

Hal tersebut disampaikan Yos dalam pembukaan Seri Kuliah Bestari yang diadakan oleh Dewan Profesor Senat Akademik Undip. Acara digelar secara daring dan dihadiri oleh beberapa narasumber, salah satunya Karim Suryadi, Ketua Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (MDGB PTN-BH).

Karim menyebut bahwa isu keamanan nasional tersebut sangat penting untuk dibahas. Meskipun demikian, pada praktiknya, masih banyak kontradiksi yang terjadi di lapangan.

“Penting karena keamanan, seperti halnya perang dan damai telah ditafsir ulang. Juga kita melihat pergeseran pusat atau episentrum ancaman, tidak lagi berkisar di darat, di laut, dan di udara. Tetapi ancaman keamanan nasional sekarang terjadi di otak warga negaranya. Otak kita masing-masing,” jelas Karim.

Meskipun demikian, Karim menilai bahwa pemerintah lebih sering mengambil kebijakan yang bertentangan dengan fakta ancaman tersebut. “Pemerintah masih senang untuk menambah personil aparat keamanan, aparat pertahanan. Padahal, ancaman sesungguhnya ada pada otak kita masing-masing,” jelasnya.

Komaruddin Hidayat yang juga hadir sebagai salah seorang narasumber, menyebut bahwa ideologi Pancasila memiliki peran penting dalam menjaga persatuan bangsa dan negara. Menurutnya, hal tersebut perlu terus dibahas ketika membicarakan mengenai isu ketahanan nasional.

“Saya rasa, Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa dari massa yang plural ini sudah tidak diragukan lagi. Andaikan tidak ada ideologi Pancasila, mungkin bangsa ini bisa bubar,” jelas Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

undip pertahanan
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top