Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Okupansi Hotel Berbintang di DI Yogyakarta Tembus 60 Persen

Pelonggaran PPKM serta mulai menggeliatnya agenda-agenda MICE ikut mendorong pemulihan sektor pariwisata di DI Yogyakarta.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 01 Desember 2021  |  16:44 WIB
Okupansi Hotel Berbintang di DI Yogyakarta Tembus 60 Persen
Awan mendung di atas Kota Yogyakarta, Rabu (17/11/2021). - Antara/Andreas Fitri Atmoko.
Bagikan

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Sektor pariwisata di DI Yogyakarta mulai menunjukkan pemulihan, salah satu indikatornya peningkatan okupansi hotel. 

Sugeng Arianto, Kepala BPS Provinsi DI Yogyakarta, mengatakan untuk tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada bulan Oktober 2021 mencatat kenaikan sebesar 20,52 poin. "Sebuah kenaikan yang cukup besar. Sementara secara year-on-year (yoy), dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu, terjadi kenaikan 16,13 poin,” jelas, Rabu (1/12/2021).

Dalam siaran pers yang dilakukan secara daring, Sugeng menyampaikan bahwa kenaikan okupansi secara signifikan terjadi pada hotel-hotel berbintang di DI Yogyakarta. Sementara itu, untuk hotel non-bintang, tetap terjadi kenaikan meskipun tidak sedemikian besar.

“Untuk hotel non-bintang, kenaikannya tidak sebesar pada hotel berbintang. Pada bulan Oktober [TPK] naik sedikit sebesar 4,19 poin. Sementara secara year-on-year naik 2,58 poin,” jelas Sugeng.

BPS mencatat TPK hotel berbintang di DI Yogyakarta pada bulan Oktober 2021 mencapai 61,65 persen. Sementara itu, TPK hotel non-bintang dilaporkan berada di angka 17,40 persen. Sebagai catatan, baik TPK hotel berbintang maupun TPK hotel non-bintang pada periode tersebut mencatatkan rekor angka tertingginya sepanjang tahun 2021.

Sugeng menjelaskan bahwa kenaikan okupansi kamar hotel di DI Yogyakarta didorong oleh pelonggaran kebijakan penanganan pandemi covid-19. Menurut Sugeng, berbagai pelonggaran yang dilakukan pemerintah telah berkontribusi pada geliat sektor usaha Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition atau MICE.

“Ini karena, salah satunya, adalah efek dari diturunkannya level PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sehingga banyak terjadi event-event MICE di DI Yogyakarta, terutama sejak memasuki bulan Oktober 2021,” jelas Sugeng.

Kenaikan juga terjadi pada jumlah kedatangan penumpang angkutan udara. Pada bulan Oktober 2021, jumlah kedatangan di Bandara Adi Sutjipto mengalami kenaikan 37,16 persen (m-to-m). Sementara itu, di Yogyakarta International Airport, kenaikan jumlah kedatangan mencapai 57,34 persen (m-to-m).

Secara kumulatif, jumlah kedatangan tamu domestik ke DI Yogyakarta mencapai 70.367 orang. Jika dibandingkan dengan bulan September 2021, jumlah tersebut mengalami kenaikan 55,12 persen.

Sementara itu, Sugeng menambahkan bahwa Rata-rata Lama Menginap (RLM) pada hotel berbintang di DI Yogyakarta mengalami kenaikan sebesar 0,03 poin. “Dari sebelumnya 1,53 hari jadi 1,56 untuk hotel bintang. Sementara untuk hotel non-bintang, justru terjadi penurunan dari sebelumnya 1,28 jadi 1,27,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perhotelan yogyakarta diy
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top