Relokasi Pabrik Bakal Dorong Investasi Sektor Manufaktur di Jawa Tengah

Ekspor manufaktur sempat tertahan pada Kuartal IV/2022, namun pasar domestik masih menjanjikan. Relokasi pabrik juga membuka peluang investasi bagi Jawa Tengah.
Ilustrasi: Pekerja konstruksi tengah merampungkan pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Ilustrasi: Pekerja konstruksi tengah merampungkan pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG - Industri pengolahan di Jawa Tengah mendominasi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Jawa Tengah. Pada kuartal IV/2022 lalu, lapangan usaha industri menyumbang 33,96 persen dari keseluruhan PDRB Jawa Tengah secara year-on-year.

Namun demikian, jika ditelisik lebih lanjut. Kinerja industri per kuartal IV/2022 tersebut menunjukkan tren penurunan. Laju pertumbuhan pada lapangan usaha industri hanya 2,67 persen. Bandingkan misalnya dengan lapangan usaha yang meskipun struktur PDRB-nya rendah namun mampu tumbuh hingga 62,78 persen (yoy).

"Sektor utama yang juga mengalami peningkatan yaitu pertanian, perdagangan, dan konstruksi. Namun demikian, pertumbuhan sektor utama lainnya yaitu industri pengolahan melambat. Perlambatan industri pengolahan disebabkan oleh permintaan global yang cenderung menurun di tengah permintaan domestik yang masih kuat," jelas Rahmat Dwi Saputra, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (9/2/2023).

Rahmat menuturkan bahwa dari sisi domestik, konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih cukup baik. Atas kondisi itu pula, peluang investasi pada sektor manufaktur masih terbuka lebar di tahun 2023 ini.

"Tahun ini mungkin ekspor masih akan tertahan. Kuartal IV/2022 sempat tertahan, namun permintaan domestik masih tinggi dan investasi masih lumayan bagus," jelas Rahmat dalam konferensi pers yang digelar di Kota Semarang.

Lebih lanjut, Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) digadang-gadang sebagai primadona investasi pada sektor manufaktur itu. Dari data Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, sudah ada 15 investasi yang masuk di kawasan industri berstatus proyek strategis nasional itu.

"Di Batang ada 5 penanaman modal dalam negeri (PMDN), artinya cukup menjanjikan. Cukup prospektif," jelas Rahmat. Secara khusus, pada sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), Rahmat mengungkapkan bahwa Jawa Tengah masih menyimpan peluang investasi dari relokasi pabrik-pabrik asal Jawa Barat.

Sebelumnya, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah mencatat relokasi pabrik sudah terjadi di beberapa daerah di Jawa Tengah. Kabupaten Klaten, Kabupaten Brebes, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Semarang, juga Kabupaten Purbalingga menjadi primadona relokasi pabrik TPT.

Ratna Kawuri, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah juga berharap agar relokasi pabrik TPT dari Jawa Barat dan Banten bisa berdampak positif pada realisasi investasi dan kinerja ekspor Jawa Tengah di tahun ini. "Industri TPT atau garmen menempati peringkat ketiga dari realisasi investasi tahun 2022, 13,3 persen. Jadi tetap menjadi unggulan ekspor Jawa Tengah, sehingga kinerjanya sangat diharapkan," jelasnya kepada Bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper