PENEMUAN INSPIRATIF, Lebih Dekat dengan Padi Rp100 Juta

Oleh: Taufiq Sidik Prakoso/JIBI 18 Mei 2018 | 07:40 WIB
Gabah bertesktur kulit lurik (foto sisi kiri), kombinasi warna kuning dan coklet dihasilkan dari hasil perkawinan tiga jenis padi lokal./JIBI

Bisnis.com, KLATEN—Niatan mengawinkan berbagai jenis padi lokal itu muncul pada 2012. Saat itu, Wisnu Kusworo, 44, yang berasal dari Imogiri, Bantul, DIY prihatin kondisi pertanian.

Keresahaan atas kondisi pertanian itu lantas ia sampaikan ke temannya, Eko Mardiyono, 33, warga Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Klaten.

“Waktu itu juga terjadi kemarau panjang. Sedangkan petani umumnya butuh air. Karena kekurangan air, akibatnya padi puso. Bagaimana caranya agar petani itu tetap dapat hasil meski ketika kondisi kurang air,” kata Wisnu saat berbincang dengan JIBI di Desa Gadungan, Senin (14/5/2018).

Hingga akhirnya mereka sepakat melakukan pemuliaan tanaman padi berbekal ilmu pertanian yang dikuasai Wisnu semasa kuliah di UPN Veteran Yogyakarta dengan tujuan mendapatkan padi yang tahan terhadap kondisi tanah minim kadar air.

“Kami ada laboratorium di Desa Jabung, Kecamatan Jogonalan dan di Bantul. Tapi jangan dibayangkan laboratoriumnya itu canggih. Peralatan yang ada itu sederhana,” ungkapnya.

Mereka dibantu pakar geologi dari UGM, Heru Indrayana. Heru menjadi konsultan, mendukung pendanaan, hingga membantu mencarikan lahan uji coba varietas padi hasil perkawinan di berbagai daerah terutama wilayah tandus. Salah satu metode perkawinan dilakukan dengan menempelkan benang sari dari induk jantan pada putik dari induk betina.

“Metodenya memang terlihat sederhana. Namun, prosesnya itu membutuhkan waktu. Seperti untuk menunggu keluar putik sarinya itu biasanya sebelum subuh,” kata Eko.

Untuk mendapatkan varietas-varietas baru, mereka membutuhkan waktu setidaknya empat tahun mulai tahap perkawinan hingga uji coba dengan penanaman dengan sistem organik. Dari berbagai pengembangan yang dilakukan, ada 35 varietas padi hasil perkawinan dan seluruhnya belum diberi nama. Penamaan hanya mereka lakukan untuk membedakan hasil perkawinan melihat dari tekstur padi yang dihasilkan.

Dari puluhan varietas, mereka mampu mendapatkan varietas padi dengan beras berwarna ungu. Varietas itu dihasilkan setelah mengawinkan lima varietas padi lokal diantaranya padi merah dan hitam. Dari hasil uji laboratorium di Sucofindo pada 2017 lalu, beras ungu tak memiliki kandungan glukosa serta kandungan karbohidrat hingga 74,47 persen.

“Soal kualitas beras saya bicara apa adanya dari para warga yang mengonsumsi beras ungu. Banyak yang tertarik terutama untuk orang yang terkena diabetes karena glukosa nol,” kata Eko.

Selain beras ungu, mereka juga bisa mendapatkan jenis beras putih dengan tesktur gabah berupa lurik lantaran kombinasi warna kulit gabah antara kuning dan cokelat. Hasil coba-coba itu dilakukan dengan mengawinkan tiga jenis padi lokal.

“Kalau berasnya setelah dimasak itu harum serta pulen. Bulirnya memang kecil tetapi antep,” kata Wisnu.

Mereka memberanikan diri melakukan kemitraan dengan petani sejak 2017 yang tersebar di Kecamatan Jogonalan, Prambanan, Gantiwarno, Wedi, Cawas, serta Karangdowo. Total luas lahan kemitraan saat ini mencapai 3 ha.

“Benih, pupuk kompos, serta imun kami berikan dari hasil pengembangan kami pula. Kami juga dampingi selama tanam serta hasil panen kami beli di atas harga pasar saat itu,” kata dia.

Mereka juga mulai mendirikan perusahaan dengan badan usaha berbentuk CV sejak 2017 lalu. Hasil pengembangan varietas padi terutama jenis ungu mereka pasarkan lewat media online.

“Kali terakhir kami pasarkan 974 kg beras ungu. Harganya memang lebih tinggi dibanding jenis beras lainnya yakni Rp25.000/kg,” ungkapnya.

Padi dengan tesktur gabah lurik sempat dilirik perusahaan dari luar negeri. Mereka mendapat tawaran Rp100 juta untuk melepaskan gabah itu termasuk metode pemuliaannya. Namun, mereka memilih enggan dan tetap menginginkan agar gabah hasil perkawinan menjadi hak cipta mereka yang direncanakan akan diajukan sertifikasi.

Hasil temuan gabah lurik diharapkan bisa menjadi pilihan untuk jenis padi lokal khas Klaten selain Raja Lele sesuai dengan ciri khas salah satu kerajinan tenun yakni tenun lurik.

“Kami inginnya itu dikembangkan di Klaten dan menyejahterakan petani lokal. Bukan mereka tetap harus membeli dari perusahaan untuk mendapatkan benih yang bagus,” jelasnya.

Proses pemuliaan padi terus dilakukan termasuk menjajal menanam padi hasil perkawinan di daerah ekstrim atau minim air. Hal itu seperti yang mereka lakukan menanam varietas padi di daerah tandus.

“Kami pernah mencoba menanam di bekas pertambangan kapur. Hasilnya, tanaman mampu bertahan hidup dan menghasilkan padi,” kata Eko.

Salah satu petani yang bermitra ikut mengembangkan padi dengan tekstur gabah lurik yakni Naryo, 45, dari Desa Tlogo, Kecamatan Prambanan. Ia sudah sekali memasuki musim panen untuk jenis gabah tersebut yang ia tanam di lahan seluas 4.000 meter persegi.

“Kemarin itu hasilnya dari 2.000 meter persegi dapat beras 8 kuintal. Berasnya wangi dan pulen. Karena kualitasnya bagus, saya beranikan jual Rp12.000/kg. Kenyataannya banyak yang membeli dan menanyakan,” kata Naryo.

Sumber : Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya