Rekening Sampah Warga Suryodiningratan Mencapai Jutaan Rupiah

Oleh: Sunartono 29 Agustus 2018 | 07:56 WIB
Rekening Sampah Warga Suryodiningratan Mencapai Jutaan Rupiah
Pengelola BSSR RW13 Suryodiningratan saat menimbang sampah nonorganik setoran nasabah, Minggu (26/8)./JIBI-Sunartono

Bisnis.com, YOGYAKARTA – Tak kurang dari sembilan ibu-ibu mengenakan kaos dominan warna kuning dan bawahan hitam sibuk di kediaman Cahya Dona, Ketua RT44 Suryodiningratan, Yogyakarta, Minggu (26/8) pagi.

Di rumah permanen itulah halaman dan bangunan sisi selatan dijadikan sebagai tempat menampung berbagai jenis sampah. Rumah ini jualah yang kemudian dijadikan sebagai basecamp Bank Sampah Suryo Resik. Warga biasa menyingkatnya dengan BSSR.

Bangunan sisi utara rumah utama dijadikan sekretariat yang menyimpan ratusan file nasabah, di sebuah meja berdiri sejumlah piala dan tertempel piagam penghargaan sebagai bukti BSSR pernah mendapat pengakuan juara atas inisiatif dalam pengelolaan sampah, salah satunya kompetisi Green and Clean tingkat DIY selama empat tahun terakhir berturut-turut.

Ruang itu sekaligus sebagai tempat pembuatan kerajinan tangan olahan barang bekas yang tak laku di pengepul. Bungkus plastik berbagai merek minuman bisa menjadi barang bernilai tinggi di tangan personel BSSR. Mulai dari baju rompi, topi, piring, bunga, tirai dan lain-lain.

Warga pantang membuang plastik sisa guntingan hasil kerajinan, serpihan itu kemudian dimasukkan ke dalam botol air mineral untuk keperluan pembuatan dinding bangunan.

Pagi itu, adalah waktu bagi warga harus menyerahkan sampah yang dimiliki sesuai jadwal dua pekan sekali. Mereka berbondong-bondong membawa kardus, botol, plastik dan berbagai barang bekas non organik. Para ibu-ibu petugas BSSR ini dengan sabar nan telaten melayani, ada yang memilah sesuai jenis sampah serta menimbang dan mencatatkan hasil rupiah sesuai perhitungan harga sampah di buku tabungan sampah milik nasabah dan buku besar sebagai basis data administrasi.

Karena dedikasi dan ketelatenan para srikandi itulah, BSSR bisa bertahan selama bertahun-tahun, di tengah banyak bank sampah di tempat lain tetapi hanya berjalan seumur jagung. Layaknya sebuah usaha, berdiri sejak 15 September 2013 silam, BSSR berkembang dengan jumlah nasabah terus bertambah.

Tertib administrasi dan keterbukan menjadi kunci. Selain mencatatkan hasil transaksi di buku tabungan nasabah, pengurus BSSR juga menuliskan berat sampah sesuai jenisnya yang disetor sekaligus total berat setoran setiap nasabah sebagai pangkalan data. Sehingga setiap nasabah bisa melihat perbandingan jumlah yang disetorkan setiap bulan.

Periode September 2017 hingga Agustus 2018 mampu mengumpulkan 4,8 ton kertas, kemudian 1,6 ton plastik, 468 kilogram logam dan 523 kilogram botol kaca. BSSR juga menerima dua jenis sampah makanan yaitu sisa nasi kering sebanyak 48 kilogram dan minyak jelantah tercatat 73 liter.

Jumlah itu merupakan hasil setoran 780 transaksi dari sekitar 150 nasabah selama setahun terakhir. Nasabah tidak perlu banyak bertanya, update harga barang bekas sudah terpasang di papan informasi, sekaligus memberikan contoh barang bekas yang tidak laku dengan ditempelkan juga di papan tersebut. Evaluasi terhadap nasabah juga dilakukan agar mendorong untuk terus menabung sampah.

"Misalnya ada nasabah yang pekan lalu menyetor tetapi kok pekan ini tidak, itu kami tanyakan penyebabnya kenapa tidak menyetor, kalau terjadi penurunan jumlah setoran juga kami tanya, sehingga evaluasi jalan terus," ucap Ketua II BSSR Endah Marendah sembari menunjukkan buku besar sebagai basis data.

Bermula dari Diri

Endah termasuk pendiri BSSR bersama empat ibu-ibu di RT44 yaitu Murjilah, Nani, Indah dan Yuni. Semangat awal ingin menjadikan lingkungan RT44 bersih dan asri.  Endah mengenang, medio 2013 silam bersama keempat ibu tersebut mengumpulkan sampah masing-masing di depan rumah salah satu di antara mereka yaitu Nani.

Setelah sampah terkumpul di rumah Nani, mereka memanggil tukang pengepul barang bekas untuk datang dan menimbang lalu menjual barang bekas itu.

"Awalnya hanya sampah dari rumah kami berlima, kemudian muncul semangat membuat bank sampah," ucap wanita yang juga dosen salah satu PTS di Jogja ini.

Dari lima kepala keluarga (KK) kemudian berkembang kepada warga sekitar hingga sebagian besar warga RT44 menyetor sampah. Pembentukan bank sampah hingga memiliki nama BSSR itu kemudian dikukuhkan melalu SK Lurah Suryodiningratan nomor 04/KEP/2013.

Minat pengelola bertambah menjadi 19 personel dengan Ketua RW13, Hardjono sebagai pembina. Begitu juga minat nasabah, dari awalnya hanya lingkup RT, kini BSSR ditetapkan sebagai bank sampah RW13 yang 92% KK sudah bergabung. Ada sekitar 26 nasabah tamu dari luar RW13, termasuk sejumlah instansi pemerintah dan swasta yang dekat dengan kawasan RW13 Suryodiningratan juga turut menjadi nasabah BSSR.

Beberapa nasabah memiliki tabungan hingga jutaan rupiah, salah satu di antaranya ada yang terkumpul Rp2 juta. Dana tersebut pun tak diendapkan begitu saja, oleh para pengurus BSSR dikelola menjadi sebuah usaha seperti penjualan pulsa dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Sehingga para nasabah seringkali transaksi kebutuhan harian menggunakan uang sampah itu.

"Nasabah butuh pulsa tinggal bilang ke kami lalu ditransfer pulsa dengan mengurangi saldo rekening nasabah," katanya.

Bagi Endah, konsep BSSR ini lahir karena menarik bagi warga sekaligus mengkolaborasikan dengan perbankan melalui buku rekening dan unit usaha. "Selain penyelamatan lingkungan, ada konsep menabung, kemudian dari tabungan ini uang kami putar kan untuk simpan pinjam anggota atau nasabah bank sampah," ucapnya.

Camat Mantrijeron Kota Jogja Guritno mengapresiasi semangat pengurus BSSR yang tetap konsisten mengelola sampah. Ia memiliki keyakinan, jika seluruh warga Kota Jogja dapat menerapkan pengelolaan sampah seperti di RW13 Suryodiningratan ini maka Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Piyungan tidak overload karena sampah non organik tidak ikut terbuang tetapi didaur ulang.

"Semangat ibu-ibu pengelola bank sampah di RW13 ini luar biasa semoga bisa menular ke warga Kota Jogja lainnya," ucap dia.

Dinas PUP-ESDM DIY sendiri ikut mengeluhkan tingginya volume sampah yang masuk ke TPS Piyungan dalam sehari mencapai volume 600 ton. Penyebabnya, karena proses pemanfaatan sampah di masyarakat tidak berjalan. Sehingga semua jenis sampah baik organik dan non organik masuk ke TPS.

Plt Kepala Dinas PUP-ESDM DIY Mansyur berharap warga DIY dapat mengelola sampah dengan memanfaatkannya tanpa seluruhnya dimasukkan ke TPS. "Harusnya yang masuk ke TPS itu residunya saja namun praktiknya semua jenis sampah masuk," ujarnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya