GELIAT UMKM, Perajin Tembaga Jangkau Pasar Mancanegara

Oleh: Nadia Lutfiana Mawarni 12 September 2018 | 04:20 WIB
GELIAT UMKM, Perajin Tembaga Jangkau Pasar Mancanegara
Gambar seorang pengrajin tembaga bekerja di bengkelnya yang terletak di Desa Mliwis, Cepogo, Boyolali, Selasa (11/9/2018) siang./JIBI-Nadia Lutfiana Mawarni

Bisnis.com, BOYOLALI – Perajin tembaga di Kawasan Cepogo, Boyolali mulai menjangkau pasar internasional semenjak mengenal sistem pemasaran berbasis jaringan internet/marketplace.

Sentra kerajinan tembaga Boyolali berada di Desa Tumang dan Desa Mliwis, Cepogo. Pusat perajin ini mulai mengubah gaya pemasaran sejak tujuh tahun lalu. Saat ini perajin banyak memanfaatkan jaringan sosial media dan laman daring.

Salah satu perajin di Mliwis, Soleh Asrofi, 45, mengaku gaya rekan-rekan di Desa Mliwis dan Tumang berubah sekitar tujuh tahun lalu. “Saat itu ada pelatihan dari Jogja soal pemasaran produk ke luar negeri lewat web, tapi saya lupa bentuk pelatihannya,” ujar Soleh ketika berbincang dengan JIBI di bengkelnya, Selasa (11/9/2018) siang.

Semenjak menyasar pasar impor, Soleh memilih memproduksi barang-barang yang bisa dibuat dengan banyak model ketimbang sekadar kebutuhan rumah tangga. Dia kini memprioritaskan kerajinannya pada perkakas ruang seperti meja, kursi, dan lampu, ketimbang peralatan dapur seperti wajan dan cerek. Peralatan itu dia kombinasikan dengan bahan kayu untuk menambah model.

“Biasanya memang begitu yang banyak disukai orang-orang luar,” kata Soleh.

Soleh bercerita akhir-akhir ini dia sedang menggarap pesanan dari Yunani, Spanyol, dan Rusia. Mereka kebanyakan memesan wastafel dan meja yang terbuat dari tembaga. Selain itu garapan seperti kubah masjid tetap dilakukan tergantung pesanan.

Pesanan-pesanan itu biasanya dia koordinir dalam jumlah besar, sekitar 10-20 buah dengan kisaran harga di atas Rp2 juta untuk tiap produknya. “Biasanya juga ada permintaan ketebalan produk tergantung buyer, kalau yang standar saya bikin 1 mm,” kata dia.

Lewat usaha kerajinan tembaga ini, jika dirata-rata per hari dia bisa memperoleh untung sekitar Rp300.000. Sementara lima orang karyawan dia gaji Rp70.000.

Meski tak memiliki marketplace sendiri, Soleh mengaku tak kesulitan dalam menjual produknya. Dia biasanya akan menitipkan barang dagangan kepada perajin lain yang telah memiliki galeri sendiri.

Perajin lain di Desa Tumang, Santoso, 40, mengatakan kerajinan bikinannya kini dijual lewat AA Gallery. Selain dalam bentuk bangunan fisik, AA Gallery juga memiliki situs daring www.aagallery.co.id yang aktif sejak enam tahun lalu.

Galeri digital tersebut banyak memajang barang-barang kerajinan yang terbuat dari tembaga dan kuningan yang menjadi produk unggulan seperti wastafel, vas, dan kerajinan relief.

Penelusuran JIBI ada beberapa situs daring serupa yang bisa diakses seperti www.davidgallery.net, www.tembagatumang.com, dan www.tembagaart.com. Semuanya berbasis di Desa Tumang, Cepogo.

Soleh yang mengelola bengkel tembaganya sendiri menuturkan kini paling banyak bahan tembaga, kuningan, dan alumunium dipasok dari Cina. “Kini rata-rata untuk tembaga Rp140.000 per kilo, kuningan Rp120.000 per kilo, dan alumunium Rp40.000 per kilo,” kata dia.

Harga ini diperkirakan akan terus naik seiring merangkaknya dolar di angka Rp15.000. Untuk mensiasatinya, Soleh biasanya akan menipiskan ukuran produk atau menaikkan harga jual. “Tapi kebanyakan opsi pertama, tapi hingga kini angka kenaikan belum berdampak,” kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya