Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DESA WISATA Banyak yang Tetap Bertahan Jadi Embrio

Dinas Pariwisata Bantul menyatakan sekitar 25 persen dari total 38 desa wisata Bantul dinyatakan produktif.
Salsabila Annisa Azmi/JIBI
Salsabila Annisa Azmi/JIBI - Bisnis.com 13 Februari 2018  |  21:00 WIB
DESA WISATA Banyak yang Tetap Bertahan Jadi Embrio
Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, BANTUL—Dinas Pariwisata Bantul menyatakan sekitar 25 persen dari total 38 desa wisata Bantul dinyatakan produktif, sementara sisanya masih kurang produktif. Keproduktifan diukur dari kunjungan wisatawan yang stabil dan perekonomian masyarakat disekitarnya membaik.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan adanya desa wisata yang tidak produktif disebabkan karena tidak semua desa memiliki pergerakan yang selaras. Ada desa yang masih stagnan, tumbuh perlahan, bahkan tumbuh pesat. Dia menjelaskan, akibat dari pergerakan ekonomi desa, akan menimbukkan beberapa kelas desa wisata yang dikategorikan menjadi desa wisata embrio, desa wisata berkembang dan desa wisata maju.

"Contohnya di Mangunan tiga tahun dari embrio langsung maju, tapi di desa lain tidak bergerak dari embiro masih embrio saja ada, yang berkembang malah tidak maju juga ada, bahkan kalau diteliti mungkin ada banyak desa yang masih embrio," kata Kwintarto, Selasa (13/2/2018).

Kwintarto menambahkan, bahkan pergerakan desa wisata yang tidak seimbang dalam satu kawasan sangat memungkinkan terjadi, seperti contoh kawasan GMT (Gabusan, Manding dan Tembi) yang berada dalam satu kawasan jalur wisata atau Jalan Parangtritis.

"Kalau berbicara GMT itu yang Gabusan saya anggap gagal, tapi Manding dengan wisata belanja kerajinan kulit dan Tembi dengan 'home stay' itu relatif bagus, dan kunjungan wisatawannya cukup banyak dan produktif, masyarakat menikmati dan itu yang saya sebut sehat," kata dia.

Menurut Kwintarto, ada satu desa wisata yang sudah maju bahkan dikenal wisatawan mancanegara yaitu Desa Wisata Kasongan dengan kerajinan gerabah, namun di desa wisata lain yang tidak jauh dari Kasongan seperti Jipangan perkembangan dinyatakan masih jauh.

Sebelumnya, peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM Destha Titi Raharjana mengatakan banyak tingkat kunjungan desa wisata yang masih minim. Selain itu, desa wisata masih perlu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

“Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah kita semua bagaimana caranya agar desa wisata dilirik dan diminati oleh wisatawan manca negara,” kata Destha, Selasa (6/2/2018).

Peningkatan pengunjung dinilai Destha berbanding lurus dengan kualitas desa wisata. Namun untuk menyesuaikan tampilan fisik dan kualitas desa wisata tak hanya sampai di situ saja, pengelola diwajibkan untuk melakukan pendataan pengunjung. Hal tersebut agar jumlah pengunjung dan asalnya bisa dipetakan sekaligus dinilai berkala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ktp-el
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top