Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pembatasan Registrasi Kartu Telpon Genggam Rugikan Pedagang

Keberadaan pedagang outlet tradisional macam dirimua juga mampu memberi lapangan pekerjaan kepada masyarakat pelosok pedesaan.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 29 Maret 2018  |  10:46 WIB

Bisnis.com, SEMARANG - Pembatasan kepemilikan SIM card telepon genggam yang dilakukan pemerintah pusat, mematik reaksi keras dari para pedagang Semarang. 

Ratusan pedagang kartu perdana yang tergabung dalam Komunitas Nomor Cantik Indonesia (KNCI) Jawa Tengah mendesak pemerintah segera membatalkan aturan tersebut.

"Kita menuntut serahkan kembali kewenangan ke tradisional outlet untuk registrasi pembeli kartu," ungkap Ketua KNCI Jateng, Muhamad Nur Khotim, saat berunjuk rasa bersama rekan-rekannya di depan Gedung DPRD Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (28/3/2018).

Dia mengklaim adanya pembatasan kepemilikan SIM card telepon genggam maksimal tiga biji, cukup memberatkan beban para pedagang. Sebab, aturan itu justru membuatnya kalah saingan dengan outlet-outlet modern.

Padahal, keberadaan pedagang outlet tradisional macam dirimua juga mampu memberi lapangan pekerjaan kepada masyarakat pelosok pedesaan.

"Dihitung aja per kelurahan ada berapa outlet, dan berapa pekerja. Jual pulsa dapat berapa kita? Kita jual dari provider udah lebih besar dari pada nominal, cuma untung Rp600 Sementara di Modern Outlet bisa murah," tuturnya.

Dalam aksi tersebut, terdapat 1.300 pemilik toko kartu perdana yang ikut berunjuk rasa. Bahkan, Sigit, pemilik toko kartu perdana asal Boyolali mengerahkan 80 pegawainya untuk berdemo.

"Kita memperjuangkan agar tetap bisa jualan perdana, kalau tetap tidak bisa jualan, bagaimana nasib kami," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ktp-el
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top