Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Sejarah Terbentuknya Pecinan di Kota Semarang

Warga Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) tentu sudah tak asing dengan Pasar Semawis yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Imlek setiap tahunnya, begitu juga pada 2018 ini.
Ginanjar Saputra./JIBI
Ginanjar Saputra./JIBI - Bisnis.com 14 Februari 2018  |  12:25 WIB
Begini Sejarah Terbentuknya Pecinan di Kota Semarang
Pembukaan Pasar Semawis 2018 di kawasan pecinan, Kota Semarang, Jateng, Senin (12/2 - 2018) malam.
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG – Warga Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) tentu sudah tak asing dengan Pasar Semawis yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Imlek setiap tahunnya, begitu juga pada 2018 ini.

Pasar Semawis itu selalu digelar di kawasan pecinan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang setiap tahunnya.

Kawasan pecinan di Kota Semarang yang ramai dengan Pasar Semawis pada Imlek 2018 ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pecinan adalah permukiman orang-orang etnis Tionghoa.

Dikutip dari laman resmi milik Pemkot Semarang, kawasan pecinan di Kota Semarang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan Kota Semarang. Kawasan pecinan di Kota Semarang disebut-sebut memiliki nilai sejarah dan merupakan kawasan yang memiliki potensi wisata budaya.

Kawasan pecinan di Kota Semarang yang selalu ramai setiap Tahun Baru Imlek, termasuk pada 2018 ini, terbentuk setelah ada pemberontakan orang-orang etnis Tionghoa terhadap pemerintahan Hindia-Belanda di kawasan Batavia pada 1740 silam.
Karena pemberontakan di Batavia itu, orang-orang etnis Tionghoa di Kota Semarang yang semula bermukim di kawasan Gedong Batu kemudian dipindah ke kawasan Semarang bagian tengah, yang merupakan kawasan pecinan sekarang.

Pemindahan itu bertujuan agar pemerintah Hindia-Belanda lebih mudah mengawasi gerak-gerik orang-orang etnis Tionghoa di Kota Semarang. Pasalnya, dahulu tangsi atau markas tentara Belanda berada di dekat kawasan yang sekarang merupakan kawasan.

Setelah dipindah, kawasan pecinan di Semarang bagian tengah itu kemudian menjadi kawasan yang menjadi pusat perdagangan orang-orang etnis Tionghoa. Seiring berkembangnya zaman, kawasan tersebut memiliki daya tarik pariwisata yang cukup memikat.

Hingga pada 2005, Pemkot Semarang, melalui Surat Keputusan Wali Kota No. 650/157 Tanggal 28 Juni 2005, mulai mengatur kawasan pecinan untuk direvitalisasi. Kawasan pecinan yang semula hanya pusat perdagangan orang-orang etnis Tionghoa kemudian berubah menjadi pusat wisata yang menampilkan kebudayaan orang-orang etnis Tionghoa di Kota Semarang.

Berdasarkan data yang dibeberkan Pemkot Semarang, kini ada sembilan kelenteng di kawasan pecinan Kota Semarang. Kelenteng yang berada di kawasan Pecinan Kota Semarang adalah Kelenteng Siu Hok Bio, Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa, Kelenteng Tay Kak Sie, Kelenteng Kong Tik Soe, Kelenteng Hoo Hok Bio, Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Wie Hwie, Kelenteng Ling Hok Bio, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong.

Dikutip dari Semarangkota.com, kini, kawasan pecinan di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang itu selalu menjadi pusat keramaian kala Tahun Baru Imlek tiba, termasuk pada 2018 ini. Bukan hanya orang-orang etnis Tionghoa, oran-orang dari berbagai etnis terpantau juga kerap memadati kawasan pecinan saat Tahun baru Imlek tiba.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ktp-el
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top