Merapi Keluarkan Wedhus Gembel

Jika sebelumnya hanya aktivitas gugaran disertai lava pijar, kali ini mulai terdeteksi mengeluarkan awan panas atau biasa disebut wedhus gembel.
Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak - Bisnis.com 31 Januari 2019  |  01:34 WIB
Merapi Keluarkan Wedhus Gembel
Aliran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (30/1/2019) dini hari. Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali terjadi luncuran lava pijar Gunung Merapi pada tanggal (29/1/2019) yakni yang teramati 11 kali ke arah Kali Gendol dan satu kali ke arah timur laut dengan jarak aliran 50 -1400 m. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, YOGYAKARTA — Aktivitas Gunung Merapi mengalami babak baru. Jika sebelumnya hanya aktivitas gugaran disertai lava pijar, kali ini mulai terdeteksi mengeluarkan awan panas atau biasa disebut wedhus gembel.

Tidak hanya sekali, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogja mencatat keluarnya awan panas dari Merapi sebanyak tiga kali pada Selasa (29/1) malam. Awan panas guguran pertama terlihat pada pukul 20.17 WIB. Tercatat jarak luncurnya mencapai 1.400 meter dengan durasi 141 detik.

Adapun awan panas guguran kedua terjadi pada pukul 20.53 WIB jarak luncur 1.350 meter dan durasi 135 detik. Awan panas guguran ketiga terjadi pada pukul 21.41 WIB dengan jarak luncur kurang lebih 1.100 meter dengan durasi 111 detik. Luncuran tiga kali awan panas itu belum termasuk sembilan kali guguran lava pijar yang semuanya mengarah ke Kali Gendol.

"Kecepatan luncuran awan panas hanya 10 meter perdetik. Suhunya merapi secara umum sekitar 800 derajat celcius. Itu material atau magma baru. Semua awan panas guguran itu mengarah ke Kali Gendol," ungkap Kepala BPPTKG Jogja Hanik Humaida saat jumpa pers di Kantor BPPTKG Jogja, Rabu (30/1/2019).

Menurutnya, kesimpulan ketiga guguran tersebut merupakan awan panas didasarkan pada analisis visual dan deposit. Perubahan aktivitas tersebut, menurut Hanik menunjukkan adanya perubahan sifat dan laju pertumbuhan magma di Merapi. Hanya saja aktivitas yang terjadi masih tergolong sangat kecil.

"Makanya meskipun terdeteksi adanya awan panas, kami tetap tidak meningkatkan status Merapi. Selain masih kecil ancaman kepada penduduk belum ada. Menaikkan status konsennya kepada ada tidaknya ancaman kepada masyarakat," katanya.

Proses Awan Panas

Proses terjadinya awan panas, lanjut Hanik akibat keluarnya magma dari dalam, muncul guguran lava pijar disertai adanya gas. Hal itu menyebabkan terjadinya awan panas. Aktifitas tersebut, tidak ada kaitannya dengan cuaca tetapi lebih pada aktivitas internal atau suplai magma di dalam gunung Merapi.

Adanya ekstrusi magma dari dalam sehingga menimbulkan awan panas. Dari deposit materialnya bisa menunjukkan itu adalah awan panas. "Volume atau suplai magma dari dalam masih relatif kecil sehingga itu salah satu dasar kami tidak menaikkan status. Apalagi volume magma masih kecil. Itu yang utama jangan membuat masyarakat resah tapi tetap waspada," katanya.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Seksi Gunung Merapu BPPTKG Agus Budi Santoso. Dia menjelaskan yang membedakan guguran dan awan panas adalah dari sifat magma dan laju ekstrusi magma, dari sebelumnya lava pijar menjadi awan panas.

"Proses pertama materialnya kedua mekanisme luncurannya. Apalagi ada juga unsur gas," katanya.

Apakah ke depan akan terus terjadi aktivitas awan panas? Budi mengaku hal itu tergantung dari proses dan faktor yang memicu awan panas. Kalau mendukung terjadinya awan panas bisa terjadi lagi. Sekarang kami punya acuan untuk identifikasi selanjutnya.

"Tadi malam memang tidak bisa langsung disimpulkan melalui seismik, karena berbeda sinyal seismik dengan awan panas. Karena kondisi saat ini berbeda makanya dilakukan indentifikasi visual dulu, " katanya.

Kejadian tersebut merupakan awan panas guguran pertama yang terjadi sejak status Merapi ditetapkan Waspada. Meski arah guguran lava dan awan panas ke Kali Gendol, namun hujan abu tipis terjadi di beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Berdasarkan laporan, hujan abu tipis terjadi di sekitar Kota Boyolali, Kecamatan Musuk, Mriyan, Mojosongo, Teras, Cepogo, Simo, Kabupaten Boyolali dan Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. "Jarak luncuran awan panas masih pendek sementara hujan abu kenapa ke Boyolali itu tergantung dengan arah mata angin," katanya.

Status Merapi, kata Hanik, masih waspada. "Saya menekankan kembali. Rekomendasi kami, masyarakat di kawasan KRB III diminta tetap tenang tapi waspada. Tetap beraktivitas seperti biasa, dan radius tiga km dari Puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk," kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung merapi

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top