Polisi Tahan 5 Tersangka Pengeroyok Kasat Reskrim Wonogiri

Polres Wonogiri menahan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan yang mengakibatkan Kasat Reksrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani kritis.
TIM JIBI | 17 Mei 2019 13:00 WIB
Kakak Kasatreskrim Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani, Yudha Mulya Angga Sasmita didampingi pihak rumah sakit dr Oen Solo Baru tengah memberikan keterangan pers terkait kondisi Aditia di ruang humas rumah sakit tersebut, Senin (13 - 5).

Bisnis.com, WONOGIRI — Polres Wonogiri menahan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan yang mengakibatkan Kasat Reksrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani kritis.

Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan untuk menangkap pelaku-pelaku lainnya. Dari kelima tersangka itu semuanya orang dewasa. Mereka adalah warga Kabupaten Wonogiri.

Menurut informasi yang dihimpun polisi, pelaku pengeroyokan AKP Aditia pada Rabu malam itu banyak dan sebagian berasal dari Solo bahkan Jawa Timur.

“Kami periksa 10 lebih saksi. Kami tidak identifikasi mereka [tersangka] dari kelompok mana. Kami di sini berbicara orang per orang. Orang berbuat apa, bertanggung jawab apa,” kata Kasat Reskrim Polres Wonogiri AKP Purbo Ajar Waskito mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Uri Nartanti Istiwidayati, saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (16/5/2019).

Menurut pengakuan tersangka, pengeroyokan dilakukan dengan tangan kosong dan menggunakan ranting. Namun, dari barang bukti yang disita polisi ranting itu berukuran besar. “Mungkin dahan ya bukan ranting,” ujar dia.

Tak hanya itu, polisi juga mendapatkan rekaman CCTV dari SPBU tak jauh dari lokasi kejadian. Namun, di CCTV itu hanya tampak massa yang sedang mengisi bensin di SPBU. Polisi juga berhasil menemukan HT AKP Aditia yang sempat hilang di semak-semak saat menggelar olah tempat kejadian perkara keesokan harinya.

“AKP Aditia waktu kejadian pengeroyokan enggak bawa pistol. Kurang tahu di mana pistolnya berada. Hasil penyelidikan juga ditemukan tidak ada barang-barang pribadi yang hilang,” imbuh dia.

Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan mencari tahu berapa lama pengeroyokan terjadi. Sebab, dari lima tersangka yang ditahan semuanya menuturkan sudah melihat pengeroyokan terlebih dahulu dan jumlahnya sangat banyak.

“Jadi sebelum mereka ikut mengeroyok, mereka melihat pengeroyokan dulu. Kami juga masih mencari tahu bagaimana Pak Adit bisa terpisah dengan rekan-rekannya,” beber dia.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar menyampaikan informasi apapun terkait kasus pengeroyokan itu. Sekecil apapun informasi akan sangat berguna bagi pengungkapan kasus itu.

“Kepada para pelaku juga lebih baik menyerahkan diri daripada kami melakukan upaya paksa. Kami tunggu upaya kooperatif dari mereka,” imbau Purbo.

Dikirim ke Singapura

Mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani yang menjadi korban pengeroyokan kelompok perguruan silat pada Rabu (8/5) malam, akhirnya dipindahkan ke Singapore General Hospital (SGH), Kamis (16/5/2019).

Sejumlah tenaga medis tampak sibuk membawa tas jinjing berisi peralatan medis ke luar dari ruang ICU RS dr Oen Solo Baru menuju ke dalam mobil ambulan. Mobil ambulan ini terparkir tepat di belakang ruang ICU.

Sementara tampak puluhan anggota Polres Wonogiri seolah membuat pagar betis di sekitar pintu berwarna hijau. Pintu ini terletak di bagian belakang ruang ICU yang menjadi akses keluar masuk pasien dari dan akan dipindahkan ke mobil ambulan. Tepat pukul 15.45 WIB, AKP Aditia terlihat dibawa menggunakan tempat tidur pasien keluar dari pintu belakang itu.

Mantan Kapolsek Pasar Kliwon Polresta Solo ini lantas dinaikkan ke dalam ambulan milik RS Dr.Oen berpelat Nomor AD 1982 AH. Menyertai dalam rombongan mobil mendampingi pasien adalah dr. Yohanes dari perwakilan SGH. Begitu pula keluarga Aditia yang juga menyertai menggunakan mobil berbeda.

Kakak pertama Aditia, Yudha Mulya Angga Sasmita tampak merekam proses pemindahan sang adik dengan menggunakan kamera ponselnya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Yudha bahkan tak kuasa menahan air mata dan mengusapnya menggunakan sorban saat mobil ambulan pergi meninggalkan rumah sakit.

Mobil ambulan meninggalkan rumah sakit pukul 15.50 WIB dengan pengawalan ketat mobil Patwal Satlantas Polres Sukoharjo dan Polresta Surakarta. Aditia dibawa ke Singapura melalui Bandara Adi Sumarmo Boyolali dan langsung di terbangkan ke Singapura.

Korban Bentrok

Dalam kesempatan berbeda, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menjelaskan Aditia mengalami luka parah usai dikeroyok massa saat terjadi bentrok dua perguruan silat di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (9/5) pukul 01.30 WIB.

Kejadian itu bermula saat Kasatreskrim sedang mengamankan terjadinya bentrok dua perguruan besar di Sidoharjo. Kemudian terpisah dari rombongan anggota dan keroyok massa di SPBU Sudimoro Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri.

"Kemungkinan besar dia [Aditia] dikira salah salah satu kelompok pendukung perguruan silat tertentu sehingga langsung dikeroyok. Apalagi saat bertugas menggenakan baju biasa bukan seragam dinas," kata Kapolda.

Ditanya terkait penyebab gesekan antar kedua perguruan silat itu, Kapolda menjelaskan hanya masalah sepele yakni saling ejek. Gesekan ini, menurutnya, bagian dari rentetan kasus sebelumnya. Kasus gesekan serupa sudah berlangsung sejak Selasa (7/5).

"Gesekan terparah terjadi Kamis dini hari sampai ada korban luka dari anggota Polres Wonogiri," kata dia.

Kapolda mengemukakan bentrokan antar massa di Wonogiri, sudah memasuki malam yang ketiga. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut agar tak terulang lagi, Kapolda meminta kedua kubu yang bertikai untuk menyelesaikan secara hukum maupun kekeluargaan. Apalagi permasalahan yang memicu bentrokan bukanlah masalah yang besar.

"Kalau dengan kekeluargaan tidak bisa, ya selesaikan dengan cara hukum. Serahkan kepada kepolisian, tidak perlu melakukan tindakan sendiri yang bisa merugikan orang lain," pintanya.

Polisi Polisi berdialog dengan perwakilan massa konvoi di Wonogiri, Rabu (8/5) malam./Ist

Dua Perguruan

Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Melaporkan  konvoi massa PSHT Rabu (8/5/2019) disebut-sebut mencapai 5.000-7.000 orang. Mereka kebanyakan mengendarai sepeda motor. Sebagian dari mereka membawa pentungan dan beragam senjata. Mereka berasal dari Klaten, Sukoharjo, Solo, Sragen, Karanganyar, termasuk dari Magetan dan Pacitan.

Konvoi bergerak dari barat menghancurkan tugu lambang PSH Winongo yang ada di sekitar terminal Sidoharjo, Wonogiri. Rombongan itu lalu bergerak ke timur menuju Kismantoro. Namun, saat tiba di Sudimoro, Sidoharjo, konvoi bisa dihalau aparat Polres Wonogiri. Mereka diminta membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.

“Pengurus [PSHT] enggak tahu kalau ada aksi seperti itu. Malam itu saya mendampingi Bu Kapolres [AKBP Uri Nartanti Istiwidayati] untuk mengendalikan anak-anak [PSHT],” kata Sekretaris PSHT Wonogiri, Bambang Muladi, saat dihubungi JIBI, Kamis (9/5/2019).

Ia menjelaskan konvoi dari timur meliputi Magetan, Ponorogo, dan sekitarnya, juga kembali ke timur. Namun, ia menduga aksi perusakan tugu lambang PSH Winongo terus berlanjut. Sebab, di Kismantoro ada tugu besar yang berhasil dirusak. “Di Kismantoro, ada petugas dari Polsek dan Koramil yang juga menghalau massa agar tak sampai meluas merusak rumah warga,” imbuh dia.

Bambang menduga pergerakan massa PSHT itu akan menuju wilayah Sidoharjo bagian selatan seperti Patoman dan sekitarnya. Di sana diyakini menjadi pusat massa PSH Winongo. Ia bersyukur massa berhasil dihalau oleh petugas Polres Wonogiri dan mencegah terjadinya konflik yang lebih besar. “Massa bisa kami blokir. Mereka lalu bergerak ke timur,” beber dia.

Menurut dia, pergerakan ribuan massa PSHT itu bermula dari sederetan kasus-kasus kecil sebelumnya. Salah satunya adalah anggota PSHT yang sedang berlatih di Kismantoro diganggu oleh sekelompok orang yang diduga dari PSH Winongo. Kemudian, di Jatiroto, seorang anak anggota PSHT dikeroyok lima oknum diduga anggota PSH Winongo. Lalu, di Tirtomoyo, terjadi perusakan tugu lambang PSHT.

“Untuk yang di Jatiroto, saya tidak tahu kondisi anak tersebut sebab dia adalah anggota ranting Ponorogo bukan Wonogiri,” terang dia.

Perwakilan Sub Ranting PSH Winongo Sudimoro, Eno Dwi Priambodo, menyikapi Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani, yang menjadi korban, Eno menyatakan turut prihatin.

Dia tak menyangka ada polisi yang sebenarnya mengamankan wilayah justru menjadi korban. Eno menceritakan, pada Rabu (8/5) malam itu anggota PSH Winongo Sudimoro awalnya berjaga mengamankan tugu. Namun, lantaran massa yang datang sangat banyak, anggota perguruan mengamankan diri dan memantau dari jauh.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
polisi, pengeroyokan, Pencak Silat

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup