Fenomena Erupsi Merapi Jadi Daya Tarik Wisata

Fenomena guguran lava pijar yang kerap terjadi di puncak Merapi justru bisa menjadi daya tarik wisata termasuk saat libur Lebaran.
Taufik Sidik Prakoso
Taufik Sidik Prakoso - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  11:23 WIB
Fenomena Erupsi Merapi Jadi Daya Tarik Wisata
Aktivitas Gunung Merapi terlihat dari Deles Indah, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (23/4/2019). Berdasarkan laporan pengamatan Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terpantau tiga kali guguran lava ke arah hulu Kali Gendol dengan jarak 350-1100 meter pada tanggal 23 April 2019 pukul 06.00 - 18.00 WIB. - Antara/Aloysius Jarot Nugroho

Bisnis.com, KLATEN – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memastikan aktivitas Gunung Merapi belum membahayakan penduduk meski bertahan pada level waspada lebih dari setahun terakhir.

Fenomena guguran lava pijar yang kerap terjadi di puncak Merapi justru bisa menjadi daya tarik wisata termasuk saat libur Lebaran.

Status Gunung Merapi naik level dari normal menjadi waspada pada 21 Mei 2018. Sejak peningkatan status tersebut, BPPTKG mengeluarkan rekomendasi agar radius 3 km dari puncak Merapi steril dari aktivitas manusia.

Kepala Seksi (Kasi) Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, mengatakan aktivitas Merapi relatif monoton. Sejak 29 Januari 2019, ada perubahan fase dari pertumbuhan kubah lava memasuki pembentukan awan panas dan lava pijar.

“Sejauh ini dari data pemantauan, [pembentukan awan panas] sepertinya masih berlanjut. Indikasinya adalah gempa-gempa internal yang menunjukkan suplai magma itu masih ada namun jumlahnya tidak signifikan. Sehingga kami sampaikan bawah erupsi ini masih berlangsung dan eskalasinya tidak meningkat tajam,” kata Agus saat ditemui di BPBD Klaten, Selasa (28/5/2019) malam.

Sejumlah wisatawan mengambil gambar puncak Gunung Merapi di Bukit Klangon, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (24/5/2019). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta merekomendasikan jarak aman melihat fenomena guguran lava pijar Gunung Merapi menjadi obyek wisata adalah radius tiga kilometer dari puncak./Antara-Hendra Nurdiyansyah

Pembentukan kubah lava baru sudah berhenti. Volume kubah lava yang terbentuk sejak Agustus 2018 di puncak Merapi tersebut diperkirakan 458.000 meter kubik. Jika kubah lava runtuh, guguran tak bakal mencapai jarak 3 km.

Sementara, kejadian luncuran awan panas di puncak Merapi sekitar 80 kali sejak Januari lalu. Aktivitas luncuran awan panas sangat kecil dibanding kejadian luncuran awan panas pada erupsi 2006 silam. “Luncuran awan panas pada 2006 itu 80 kali bisa terjadi dalam sehari,” katanya.

Agus memastikan meski status Merapi masih berada pada level waspada, hingga kini aktivitas Merapi tak membahayakan penduduk. Luncuran awan panas atau lava pijar paling jauh 2 km dari puncak atau tak sampai menjangkau daerah aman yang direkomendasikan BPPTKG yakni 3 km dari puncak.

“Rekomendasi kami sejak awal penetapan status waspada masih sama yakni daerah aman itu di luar 3 km. Itu berdasarkan lontaran material di bawah 1,5 km dan awan panasnya masih di bawah 2 km,” urai dia.

Agus mengatakan fenomena erupsi Merapi kali ini justru lebih banyak mengandung aspek keindahan ketimbang aspek bahaya. Fenomena luncuran awan panas atau lava pijar yang kerap terjadi itu bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri selama dinikmati di radius aman yakni lebih dari 3 km dari puncak.

Sejumlah lokasi di Klaten yang bisa menjadi tempat untuk menikmati keindahan fenomena tersebut seperti objek wisata Kali Talang di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang atau kawasan objek wisata Deles Indah di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

Soal aktivitas pendakian, BPPTKG hingga kini masih menyarankan agar seluruh jalur pendakian Merapi ditutup. “Dengan rekomendasi jarak aman di luar 3 km, otomatis pendakian masih ditutup untuk antisipasi jika ada letusan eksplosif yang kecil dengan lontaran material yang bisa mematikan. Lontaran bisa menjangkau jarak 1,5 km,” kata dia.

Sekretaris BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan warga hingga kini masih beraktivitas seperti biasa meski status Merapi bertahan pada level waspada setahun terakhir. Meski biasa saja, selama ini warga sudah meningkatkan kewaspadaan salah satunya menggelar ronda malam yang rutin digelar saban hari.

“Dari BPBD mendukung aktivitas ronda malam tersebut. kami dorong logistik dan sukarelawan sering menyambangi warga,” kata dia.

Salah satu warga Desa Sidorejo, Riyadi, mengatakan warga masih beraktivitas normal meski status Merapi hingga kini berada pada level waspada. Guguran awan panas atau lava pijar yang masih sering terjadi tak memengaruhi aktivitas warga.

“Mereka yang mencari rumput juga beraktivitas seperti biasa. Begitu juga dengan para penambang manual. Pantauan saya aktivitas warga landai-landai saja,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
destinasi wisata, gunung merapi

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top