Investasi Semut Rangrang Tutup, Investor Ada yang Bunuh Diri

Moh Khodiq Duhri
Moh Khodiq Duhri - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  13:31 WIB
Investasi Semut Rangrang Tutup, Investor Ada yang Bunuh Diri
Penampakan salah satu Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB), Rabu (12/6/2019), di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen, yang sudah ditutup sejak pertengahan Mei lalu. - JIBI/Moh. Khodiq Duhri

Bisnis.com, SRAGEN – Penutupan kantor dan gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) yang berlokasi di Sidoharjo, Sragen, sejak pertengahan Mei 2019 lalu membuat ribuan investornya kelabakan.

Sebagian investor mendadak sakit setelah mengetahui kantor dan gudang CV MSB yang berpusat di Sragen itu tutup. Bahkan di Karanganyar ada investor yang memilih mengakhiri hidupnya karena frustasi setelah investasi yang ia tanam tidak membuahkan hasil.

Mereka frustrasi lantaran telah telanjur berinvestasi puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Paiyem, 47, merupakan salah satu investor ternak rangrang yang sempat dilanda stres dalam sebulan terakhir. Tutupnya CV MSB sempat membuat dia jatuh sakit. Selama berhari-hari, ia seperti orang yang linglung karena bingung harus berbuat apa.

“Saya daftar investasi atas nama anak saya, Aulia Febrianto. Kami rela utang bank dengan jaminan sertifikat rumah untuk berinvestasi senilai Rp30 juta. Dari uang itu, kami mendapat 20 paket semut rangrang. Satu paket dengan harga Rp1,5 juta berisi dua toples rangrang,” jelas Paiyem yang tinggal tak jauh dari gudang itu saat ditemui JIBI di warung miliknya, Rabu (12/6/2019).

Kantor dan Gudang CV MSB sudah beroperasi di Desa Taraman sejak 2014 lalu. Di Dusun Kroyo, hampir 60% atau sekitar 200 warganya sudah menjadi mitra CV MSB.

Mereka menanamkan investasi mulai dari Rp30 juta hingga Rp500 juta. Paiyem sendiri baru tertarik menanamkan modalnya kepada CV MSB tujuh bulan lalu.

Sesuai perjanjian kedua belah pihak, semut rangrang yang sudah berusia lima bulan akan dibeli lagi oleh CV MSB. Setiap investor berhak mendapat keuntungan sebesar Rp700.000/paket setelah lima bulan beternak rangrang.

“Lima bulan pertama berjalan lancar. Dari modal awal Rp30 juta, saya dapat keuntungan Rp14 juta sehingga dana saya berkembang jadi Rp44 juta. Tapi, dana Rp30 juta itu saya investasikan lagi. Tapi, baru dua bulan berjalan, kantor dan gudang CV MSB sudah tutup. Sekarang saya bingung bagaimana harus mengansur pinjaman di bank,” keluh Paiyem.

“Sampai saat ini belum ada yang lapor polisi karena masih berharap uang mereka bisa kembali,” kata adik Paiyem, Subandi, 40.

Kepada calon investor, CV MSB berdalih hasil peternakan semut rangrang itu bakal dijadikan bahan pembuatan kosmetik di luar negeri. Namun, Subandi menyadari hal itu adalah pepesan kosong yang digunakan CV MSB untuk meyakinkan calon investor.

“Pada awalnya, gudang itu tertutup untuk semua mitra. Tapi, saya pernah masuk ke gudang. Di sana, semut rangrang yang dibeli dari mitra itu dimusnahkan dengan cara disemprot cairan kimia. Setelah itu, toples itu dicuci bersih lalu diisi lagi oleh bibit baru yang didatangkan dari Jogja. Jadi, tujuan beternak rangrang itu untuk apa ya tidak jelas. Bukan untuk bahan kosmetik, bukan pula untuk diambil krotonya,” tegas Subandi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi bodong

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top