Bencana Kekeringan: Petani Samigaluh Harapkan Solusi Irigasi

Kekeringan yang melanda Samigaluh, Kulonprogo, tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, namun juga membuat warga tidak bisa bercocok tanam.
Lajeng Padmaratri
Lajeng Padmaratri - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  20:21 WIB
Bencana Kekeringan: Petani Samigaluh Harapkan Solusi Irigasi
Ilustrasi saluran irigasi. /Solopos - Burhan Aris Nugraha

Bisnis.com, KULONPROGO- Kekeringan yang melanda Samigaluh, Kulonprogo, tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, namun juga membuat warga tidak bisa bercocok tanam.

Warga Besole, Purwoharjo, Samigaluh, Sutrisno, 55, menyebutkan kebutuhan air tidak hanya untuk makan dan minum, melainkan juga bertani. "Kalau untuk makan-minum kami di Purwoharjo masih bisa mencukupi, tapi nggak bisa bertani," kata dia.

Ia menuturkan selama ini dirinya bertanam padi menggunakan tadahan air hujan. Begitu memasuki musim kemarau, dirinya memilih untuk tidak menanam untuk meminimalisir kemungkinan gagal panen.

Ia berharap pemerintah mulai memberi perhatian untuk dapat membuat saluran irigasi di seluruh Samigaluh. "Purwoharjo yang kebagian irigasi dari Kalibawang kan cuma Dusun Kedungrong. Kami harap di sini [Dusun Besole] dibikin juga," ujar dia.

Harapan serupa diungkapkan oleh Boniyem, 70. Warga Dusun Banjarsari, Desa Banjarsari, Samigaluh ini juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk sawahnya jika kemarau datang. "Enggak bisa tani, garing banget," kata dia.

Meski begitu, baik Sutrisno maupun Boniyem bersyukur masih mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Boniyem memiliki sumur di depan rumahnya yang masih bisa ia gunakan untuk makan dan minum. "Kemarin sempat asat [surut], jadi nggak nyuci. Tapi kalau pas banyak air ya saya sering dimintai oleh tetangga," ujar dia.

Camat Samigaluh, Triyanto Raharjo mengakui memang sulit membuat saluran irigasi di Samigaluh. "Irigasi dari saluran Kalibawang itu kalau di Samigaluh cuma diperoleh oleh Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo. Di sini memang tidak irigasi teknis, tapi pakai tadah hujan," katanya ketika ditemui Harian Jogja pada Selasa (8/10/2019) di kantornya.

Ia menyebutkan, ada lima desa terdampak kekeringan, yaitu Banjarsari, Kebonharjo, Gerbosari, Pagerharjo, dan Sidoharjo. Adapun dua desa yang tidak terdampak kekeringan adalah Purwoharjo dan Ngargosari.

"Ada sekitar 32 pedukuhan di Samigaluh yang kekeringan," ujarnya.

Pihaknya mengucapkan terima kasih karena  sampai saat ini banyak donasi air dari berbagai pihak. Namun, ia mengharapkan hal lain dari pemerintah kabupaten sebagai solusi jangka panjang.

"Yang susah saat ini adalah cari titik mata air yang bisa dibor oleh desa. Itu kami masih belum bisa, harus ada ahlinya," ujarnya.

Triyanto berharap ada bantuan alat geolistrik untuk dapat membantu warga menemukan sumber mata air lain.

Selain itu, Triyanto juga berencana untuk membangun embung di Gerbosari. Saat ini Samigaluh sudah memiliki embung di Sidoharjo. "Masih kita upayakan," kata dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kekeringan

Sumber : harianjogja.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top