Jelang Musim Penghujan, Waspadai Angin Kencang

Fenomena angin kencang yang melanda beberapa wilayah di Jateng seperti Dieng, Magelang dan Brebes terjadi karena memasuki puncak musim kemarau.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  16:58 WIB
Jelang Musim Penghujan, Waspadai Angin Kencang
Sejumlah warga melihat rumah yang ambruk akibat angin kencang di kawasan kaki Gunung Merbabu, Desa Ketundan, Pakis, Magelang, Jawa Tengah, Senin (21/10/2019). Angin kencang yang terjadi sejak Minggu (20/10/2019) menyebabkan ratusan rumah rusak dan ratusan warga dari tiga dusun mengungsi ke tempat yang lebih aman. - Antara/Anis Efizudin

Bisnis.com, SEMARANG - Fenomena angin kencang yang melanda beberapa wilayah di Jateng seperti Dieng, Magelang dan Brebes terjadi karena memasuki puncak musim kemarau.

Kepala Seksi Data dan Infokom Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng Lis Widyaharmoko mengatakan, adanya fenomena angin kencang memang kerap terjadi menjelang musim penghujan.

"tu terjadi karena angin monsun Australia yang bertiup cukup kencang karena adanya perbedaan tekanan udara yang signifikan sehingga menyebabkan angin kencang di beberapa wilayah Jateng," Senin (21/10/2019).

Dia menuturkan, intensitas angin masih sedang dengan kecepatan angin berkisar antara 13 km/perjam hingga 20 km/perjam. "Meski kencang tapi tidak berpotensi puting beliung," tambahnya.

Angin kencang ini, kata Iis, tidak berpotensi puting beliung. Kendati demikian, dengan fenomena berlangsungnya angin monsun dari Australia ini, pihaknya memprediksi angin kencang akan terjadi 2 sampai 3 hari bahkan 1 minggu.

"Angin kencang sejauh ini tidak memengaruhi gelombang tinggi, saat ini masih normal gelombang untuk laut selatan 2,5 meter dan laut jawa 1,25 meter," ujarnya.

Atas fenomena angin kencang ini dia mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada. Iis juga meminta agar masyarakat menghindari bangunan dengan konstruksi yang kurang kuat dan pohon besar yang rindang. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cuaca ekstrem, bencana alam

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top