Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

1 Januari 2020 Cukai Tembakau dan Harga Jual Eceran Rokok Naik, Asosiasi Petani Tembakau Keberatan

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia tak begitu saja menerima rencana pemerintah yang akan menaikkan cukai tembakau dan harga jual eceran rokok pada 1 Januari 2020. APTI pun memberikan catatan khusus.
Alif Nazzala Rizqi
Alif Nazzala Rizqi - Bisnis.com 12 November 2019  |  09:11 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan paparan dalam acaraMusyawarah Pimpinan Nasional APTI yang dihadiri petani tembakau dari sembilan provinsi di Hotel Trio Magelang Senin (11/11/2019). - Istimewa
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan paparan dalam acaraMusyawarah Pimpinan Nasional APTI yang dihadiri petani tembakau dari sembilan provinsi di Hotel Trio Magelang Senin (11/11/2019). - Istimewa

Bisnis.com, SEMARANG  - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia tak begitu saja menerima rencana pemerintah yang akan menaikkan cukai tembakau dan harga jual eceran rokok pada 1 Januari 2020. APTI pun memberikan catatan khusus.

Ketua APTI Jateng Wisnu Brata di sela-sela Musyawarah Pimpinan Nasional APTI yang dihadiri petani tembakau dari sembilan provinsi di Hotel Trio Magelang Senin (11/11/2019) mengatakan, kenaikan cukai harus diikuti dengan pembatasan impor tembakau. Karena, jika ada pembiaran impor tanpa regulasi,  kenaikan cukai tembakau akan memiliki dampak kerugian yang luar biasa. 

"Rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian harus segera dilaksanakan, kalau tidak ya jadi proyek kematian. Kenaikan bagi kami tidak masalah, tapi HET rokok jangan sampai pula di atas harga psikologis konsumen. Nanti juga akan jadi petaka, industri ditinggal konsumen," jelas Wisnu.

Petani tembakau pun kata Wisnu, meminta kenaikan cukai yang proporsional dengan memperhatikan semua aspek. Mulai aspek pertumbuhan ekonomi, inflasi, kondisi IHT.

Ia juga meminta Pemerintah menjalankan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK 010/2018 (PMK 156/2018) tentang Perubahan Atas PMK Nomor 146/PMK 010/2017 (PMK 146/2017) tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang hadir dalam musyawarah yang dihadiri pengurus APTI perwakilan se-Indonesia itu juga menegaskan, kenaikan cukai khususnya tembakau kretek besarannya tidak bisa terlalu tinggi, karena kretek banyak menekan harga di tingkat petani. 

"Petani ini sebenarnya minta kejelasan tata niaganya, maka rekomendasi teknis harus ditindaklanjuti. Setiap impor satu ton tembakau luar negeri, tembakau kita harus dibeli dua ton, dan tembakau kita dulu yang dibeli," kata Ganjar melalui siaran persnya, diterima Selasa (12/11/2019).

Ganjar mengakui kebutuhan tembakau di Indonesia memang kurang. Pemerintah pun dipersilakan impor untuk memenuhi kebutuhan, asalkan tembakau dalam negeri harus dibeli terlebih dahulu, sehingga ada perimbangan dan tidak ada yang merugi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Rokok Cukai Tembakau
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top