Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Bergantung pada Tiga Wilayah ini

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sampai saat ini bergantung kepada tiga kota/kabupaten utama, yakni Semarang, Cilacap, dan Kudus.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 21 November 2019  |  19:27 WIB

Bisnis.com, SEMARANG - Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sampai saat ini bergantung kepada tiga kota/kabupaten utama, yakni Semarang, Cilacap, dan Kudus.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah, ada 3 wilayah yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi, yakni Semarang, Cilacap, dan Kudus.

Kota Semarang berkontribusi 13,45 persen, Kabupaten Cilacap menyumbang 9,22 persen, dan Kabupaten Kudus sebesar 8,3 persen. Adapun, 32 kota/kabupaten lainnya berkontribusi di bawah 4 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Jateng.

Ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Andreas Lako, mengatakan Kota Semarang bertumbuh paling tinggi karena tingkat konsumsi yang juga meningkat. Adapun, Cilacap dan Kudus didukung industri, terutama migas dan rokok.

“Yang perlu menjadi perhatian adalah agar pertumbuhan ini bisa menyebar, tidak hanya di 3 wilayah Semarang, Cilacap, dan Kudus,” ujarnya.

PDRB atau pertumbuhan ekonomi Jateng pada kuartal III/2019 mencapai 5,66 persen year on year (yoy). Atas dasar harga berlaku, nilai PDRB itu sejumlah Rp351,48 triliun.

Pengeluaran konsumsi rumah tangga masih berkontribusi paling besar, yakni 59,09 persen atau Rp207,69 triliun.

Selanjutnya, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi langsung  sejumlah 33,77 persen atau Rp118,68 triliun, serta ekspor barang dan jasa 42,95 persen atau Rp150,96 triliun.

Namun, kinerja neraca perdagangan memberatkan laju PDRB, karena impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang mencapai 45,17 persen atau Rp158,77 triliun.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Jateng dapat mencapai 7 persen pada 2023. Hal yang perlu diperhatikan ialah agar peningkatan ekonomi juga memerhatikan dampak sosial dan lingkungan.

“Karena faktor sosial dan lingkungan berkaitan dengan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi 7 persen dalam jangka panjang,” paparnya.

Menurutnya, bila kesenjangan sosial dan tingkat kemiskinan semakin menipis, suasana kondusif dalam suatu wilayah akan terbentuk. Suasana yang kondusif ini menjadi modal dasar agar investasi masuk ke suatu daerah.

Di sisi lain, keberpihakan terhadap lingkungan membuat keberlanjutan bisnis dan kegiatan masyarakat terjaga untuk jangka panjang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top