Tingkat Inflasi Jateng 2019 Diprediksi 2,85 Persen

Tingkat inflasi Jawa Tengah pada 2019 diprediksi berada di kisaran 2,75%-2,85%, atau di bawah level nasional sekitar 3%, seiring dengan terkendalinya harga kelompok makanan volatil (volatile food).
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  20:53 WIB
Tingkat Inflasi Jateng 2019 Diprediksi 2,85 Persen
Pedagang melayani pembeli buah kolang kaling di Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, SEMARANG—Tingkat inflasi Jawa Tengah pada 2019 diprediksi berada di kisaran 2,75%-2,85%, atau di bawah level nasional sekitar 3%, seiring dengan terkendalinya harga kelompok makanan volatil (volatile food).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka inflasi nasional pada November 2019 naik 0,14% month on month (mom), 3% year on year (yoy), dan 2,37% sepanjang tahun berjalan (year to date). Tingkat inflasi di Jateng lebih rendah, yakni 0,2% mom, 2,79% yoy, dan 2,35% ytd.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jawa Tengah Soekowardojo menyampaikan sampai akhir 2019 diperkirakan tingkat inflasi Jateng terjaga di kisaraan 2,75%-2,85%, atau di bawah nasional sekitar 3%. Hal ini terjadi karena kondisi harga volatile food yang lebih terkendali.

“Memang Desember ada momen Natal dan Tahun Baru, sehingga inflasi di Jateng bisa meningkat hingga 0,5%. Artinya dari November sebesar 2,35%, sampai akhir 2019 berkisar 2,75%-2,85%,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (4/12/2019).

Adapun, harga bahan makanan yang biasanya cenderung volatil dan menjadi fokus pengendalian adalah beras, bawang merah, bawang putih, cabai, daging ayam, dan telur. Pada tahun ini, komoditas-komoditas tersebut cenderung terjaga pasokannnya, sehingga inflasi Jateng cenderung stabil.

Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan dilanjutkan dengan Tahun Baru, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jateng akan melakukan rapat koordinasi pada Kamis (5/12/2019). Rapat itu rencananya dihadiri oleh tim dari Kementerian Perdagangan.

Setelah itu, TPID akan melakukan operasi pasar untuk memastikan barang-barang yang dibutuhkan saat momen hari besar, seperti terigu, gula, dan telur.

“Kalau terjadi kekurangan [bahan makanan] atau diprediksi kurang di pasar, kita harus berusaha. Mumpung masih ada waktu tiga pekan. Tentu banyak pihak yang terlibat dari pemerintah daerah, Bulog, pedagang, kita akan diskusikan memenuhi kebutuhannnya,” paparnya.

Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono menyampaikan dari inflasi Jateng sebesar 2,79% yoy, inflasi tertinggi terjadi di bahan makanan sebesar 5,2% yoy. Adapun, inflasi terendah berasal dari transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,97%.

“Kenaikan bahan makanan ini yang perlu diantisipasi, agar ke depannya tidak menyebabkan inflasi yang lebih tinggi. Harapannya inflasi tetap terjaga di bawah 3% sampai akhir tahun,” ujarnya.

Adapun, komoditas yang menjadi penyumbang inflasi utama di Jateng pada November 2019 ialah bawang merah, telur ayam ras, daging ayam ras, rokok kretek filter, dan jeruk.

Sebaliknya, komoditas penyumbang deflasi terbesar ialah cabai merah, cabai rawit, cabe hijau, apel, dan pisang. Menurut Sentot, tampaknya harga cabai sudah tidak ‘sepedas’ sebelumnya.

“Harga cabai yang tidak begitu pedas membuat inflasi terjaga,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, jateng

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top