Solo Semi Lockdown, Ibadah, Wisata dan Belajar Mengajar Berubah

Seluruh destinasi wisata di Solo tutup, event yang mendatangkan massa dalam jumlah besar ditunda, serta pembatalan agenda wisata.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 15 Maret 2020  |  02:47 WIB
Solo Semi Lockdown, Ibadah, Wisata dan Belajar Mengajar Berubah
Sejumlah warga mengenakan masker di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (14/3/2020). Pemerintah Kota Solo menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) virus Corona dengan menutup tempat wisata dan meliburkan sekolah selama 14 hari menyusul adanya satu pasien positif COVID-19 yang meninggal dunia dan satu dirawat di ruang isolasi RSUD Moewardi. - Antara/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA - Menyusul status Solo KLB virus corona atau kejadian luar biasa corona atau Solo semi lockdown, prosesi ibadah akan disesuaikan. Hal ini mengingat kegiatan di rumah ibadah juga melibatkan banyak orang.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Solo, Musta'in Ahmad, mengaku segera berkoordinasi dengan tokoh agama dan organisasi agama menyesuaikan prosesi ibadah. Penyesuaian itu bisa dilakukan dengan penyederhanaan dalam hal durasi dan jumlah peserta.

“Kalau Islam dengan MUI dan ormas-ormas sedapat mungkin itu disederhanakan misalnya jumlahnya dibatasi kemudian durasinya diperpendek, ya, nanti kami akan konsultasi lagi dengan MUI untuk mendapatkan penegasan secara syar'i nya. Pandangan kami misalnya Jumatan itu diselesaikan lebih cepat. Namun, akan kami serahkan ke Dewan Masjid untuk kegiatan pembersihan dan juga kelengkapan PHBS di tempat ibadah,” kata Mustain kepada JIBI, Jumat (13/3/2020).

Status Solo KLB atau disebut media massa sebagai Solo semi lockdown diungkapkan oleh Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo atau Rudy, pasca-temuan tiga pasien positif corona di Solo. Hal itu juga mendasari keputusan meliburkan siswa SD/SMP/Madrasah selama 14 hari ke depan mulai Senin (16/3/2020).

Selain itu, seluruh destinasi wisata di Solo tutup, event yang mendatangkan massa dalam jumlah besar ditunda, serta pembatalan agenda wisata. Selain itu, car free day (CFD) di Jl. Slamet Riyadi dan Jl. Juanda sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Kepada wartawan seusai rapat terbatas di Rumah Dinas Loji Gandrung, Rudy, sapaan akrabnya, menyebut keputusan itu terpaksa diambil untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Khusus siswa-siswi SMA/sederajat, kebijakan itu baru diberlakukan usai mereka selesai menempuh ujian.

Sedangkan bagi perguruan tinggi akan dikoordinasikan dengan masing-masing kampus. "Tapi guru-guru tetap masuk dan melakukan tugas-tugas administrasi," kata dia, Jumat malam.

“Mau dikatakan lockdown boleh kalau saya melakukan juga salah, tidak juga saya salah. Mending saya disalahkan orang waras daripada disalahkan orang sakit. Orang waras menyalahkan dengan adanya lockdown dan sebagainya apa istilahnya akan berkurang pendapatannya. Mending dicibir oleh mereka yang waras daripada dicibir oleh mereka-mereka yang sakit Corona,” tegasnya soal istilah Solo semi lockdown.

Kendati begitu, Pemkot Solo memutuskan untuk tetap membuka pasar tradisional dan pusat perbelanjaan dengan menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Pengecualian tersebut juga berlaku untuk stasiun dan terminal.

Pihaknya juga akan mengundang pelaku usaha transportasi, agar mereka bisa melakukan pembersihan kendaraan. Keputusan KLB tersebut berlaku per Jumat dan mulai disosialisasikan pada Sabtu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
solo, Virus Corona

Sumber : Solopos

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top