Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena La Nina Picu Penurunan Tangkapan Nelayan

Arus di laut cukup kencang sehingga ikan-ikannya sulit ditangkap dengan menggunakan pancing maupun jaring. Bahkan, terdapat perbedaan antara arus di permukaan laut dan arus di bawah laut.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 November 2020  |  00:17 WIB
Foto aerial kapal nelayan bersandar. - Bisnis/Himawan L Nugraha
Foto aerial kapal nelayan bersandar. - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, CILACAP - Hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menurun akibat La Nina moderat yang terjadi sejak Oktober, kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap Sarjono.

"Hasil tangkapan nelayan yang di tengah laut maupun di tepi berkurang sekali. Untuk tangkapan layur semua berkurang, kayak hilang terkena (dampak) La Nina," katanya di Cilacap, Senin (9/11/2020).

Dalam hal ini, kata dia, arus di laut cukup kencang sehingga ikan-ikannya sulit ditangkap dengan menggunakan pancing maupun jaring. Bahkan, lanjut dia, terdapat perbedaan antara arus di permukaan laut dan arus di bawah laut.

"Arusnya berlawan. Dampaknya besar sekali bagi nelayan besar maupun nelayan kecil. Dalam satu minggu kemarin sama sekali enggak ada isinya (hasil tangkapan) dan baru hari ini (9/11) yang agak lumayan, mulai ada yang dapat ditangkap lagi, meskipun sedikit-sedikit," katanya.

Ia berharap fenomena La Nina moderat segera menghilang agar nelayan bisa beraktivitas dengan normal dan mendapatkan hasil tangkapan secara maksimal.

Sarjono mengakui jika saat ini cuaca di laut selatan Jawa masih dalam masa peralihan musim angin timuran menuju musim angin baratan.

"Perkiraan masuk musim angin baratan pada bulan Desember. Saat ini perputaran anginnya masih antara selatan dan barat daya masih berebut," katanya.

Terkait dengan hal itu, dia mengimbau nelayan tetap harus waspada terhadap kondisi cuaca saat memasuki musim angin baratan dengan mengikuti arahan dari BMKG.

Dia juga menyarankan nelayan memanfaatkan aplikasi Windy untuk bisa mengetahui posisi badai di lautan lepas guna melengkapi informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG.

Menurut dia, hal itu disebabkan informasi prakiraan cuaca yang selama ini dikeluarkan BMKG hanya sebatas peringatan dini gelombang tinggi dan sebagainya yang bersifat umum tanpa menginformasikan lokasi pastinya.

"Kalau menggunakan aplikasi Windy bisa diketahui lokasi yang akan ada lintasan badainya. Jadi, nelayan sebaiknya menggunakan keduanya, baik informasi dari BMKG maupun aplikasi Windy, bisa saling melengkapi," katanya.

Dalam kesempatan terpisah Ketua Rukun Nelayan Pandanarang, Pantai Teluk Penyu, Cilacap, Tarmuji mengakui hasil tangkapan nelayan dalam satu pekan terakhir mengalami penurunan.

"Satu minggu kemarin enggak ada tangkapan. Nelayan yang berangkat melaut, ketika pulang tanpa membawa hasil," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perikanan nelayan La Nina

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top