Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Epidemiolog : Rapid Tes dan Swab bagi Pelaku Perjalanan Memperparah Penyebaran Covid-19

Kepala daerah perlu mengambil kebijakan. Khususnya terkait potensi penularan Covid-19 dari pemudik atau wisatawan yang bepergian ke luar kota saat libur Nataru.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  17:47 WIB
Petugas melakukan uji usap (swab test). -  KAI
Petugas melakukan uji usap (swab test). - KAI

Bisnis.com, SEMARANG – Epidemiolog menilai pewajiban rapid atau swab test antigen untuk membatasi pergerakan selama libur Natal dan tahun baru tidak signifikan menekan penyebaran Covid-19, malah sebaliknya meningkatkan risiko transmisi virus antardaerah.

Epidemiolog Universitas Gadjah Mada Riris Andono Ahmad mengatakan sekarang ini dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, mobilitas antar wilayah berpotensi memperparah penyebaran Covid-19.

“Ketika wilayah yang didatangi transmisinya tinggi, sebenarnya mengizinkan orang yang bebas dari infeksi untuk memaparkan pada risiko penularan sekaligus membawa balik penyakit tersebut [ke wilayah asalnya],” jelasnya kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Potensi ini perlu diwaspadai, mengingat beberapa wilayah di Jawa Tengah dan DIY masih menjadi zona merah penularan Covid-19. Magelang misalnya, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah per 5 Januari 2021, terdapat 4,759 kasus terkonfirmasi.

Wilayah ini berada di peringkat kedua terbanyak jumlah kasus terkonfirmasi di Jawa Tengah. Meskipun demikian, destinasi wisata di wilayah ini masih tetap beroperasi.

Riris menjelaskan bahwa pemerintah daerah setidaknya perlu melakukan pembatasan mobilitas masyarakat selama 10 – 20 hari. Dengan asumsi periode infeksius virus Covid-19 selama 7 – 10 hari.

“Kalau kita bisa menghentikan mobilitas penduduk dua kali periode infeksiusnya, maka kemungkinan sebagian besar penularan akan terhenti. Karena pada saat itu, si virus tidak mampu mencari orang lain untuk ditulari,” jelasnya.

Pemerintah daerah mesti mengambil langkah lanjutan guna mencegah rIsiko lonjakan Covid-19 pasca libur Nataru. Tak hanya melalui pembatasan mobilitas masyarakat tapi juga melalui karantina wilayah.

“Kalau [dikarantina] di fasilitas terntentu, dia [pasien Covid-19] akan mengurangi penularan keluarga, tetapi butuh resource yang cukup besar,” jelas Riris.

Langkah untuk melakukan karantina atau isolasi mandiri di rumah juga memiliki konsekuensi. Menurutnya, potensi penularan dalam keluarga akan semakin besar. Meskipun demikian, apabila dilakukan dengan tepat, proses isolasi mandiri ini dapat mengurangi penyebaran di masyarakat luas dengan lebih signifikan.

“Kalau ada penularan ya hanya ada di keluarga, tapi kemudian berhenti. Tidak ke tempat lain. Itu adalah pilihan kebijakan, mana yang mau dilakukan,” pungkasnya.

Sinoeng N. Rachmadi, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah, di penghujung tahun 2020 mengungkapkan bahwa rapid test antigen hanya dibutuhkan bagi wisatawan dari luar Jawa Tengah.

“Kita lakukan pemeriksaan kepada wisatawan di TIC Borobudur, terutama bagi wisatawan yang berasal dari luar Jawa Tengah. Kita anjurkan untuk melakukan rapid test terlebih dahulu. Apabila wisatawan sudah mengantongi surat pemeriksaan dengan hasil negatif, bisa langsung menuju Candi Borobudur,” jelas Sinoeng, pekan lalu.

Hal serupa juga terjadi di DIY. Gubernur DIY melalui Sekretaris Daerah, mengeluarkan edaran yang berisikan instruksi penutupan objek wisata di empat kabupaten di DIY pada malam tahun baru. Meskipun demikian, kawasan Tugu dan Malioboro tetap dibuka untuk masyarakat dan wisatawan.

Memang, pembatasan kegiatan masyarakat pada malam tahun baru tidaklah efektif dalam meredam penyebaran Covid-19. “Menghentikan kerumunan pada malam tahun baru saja itu tidak mengubah situasi,” tegas Riris. “Jadi situasi akan tetap sama, yang diperlukan sebenarnya adalah menghentikan mobilitas masyarakat setempat dalam waktu yang cukup lama,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng Virus Corona
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top