Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Semarang Menjerit

Warsino, perajin tahu Kampung Tandang, Mrican, Tembalang, Kota Semarang pasrah dengan kondisi bahan baku kedelai yang mahal.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 09 Januari 2021  |  13:42 WIB
Perajin memproduksi tahu. - Antara
Perajin memproduksi tahu. - Antara

Bisnis.com, SEMARANG - Kenaikan harga kedelai berdampak pada hasil produksi perajin tahu di Kota Semarang. Pasalnya, harga kedelai saat ini menyentuh angka Rp9.000 di pasaran membuat perajin tahu was-was. Mengingat, kedelai merupakan bahan baku utama dalam membuat tahu.

Warsino, perajin tahu Kampung Tandang, Mrican, Tembalang, Kota Semarang pasrah dengan kondisi bahan baku kedelai yang mahal. Menurutnya, baru kali ini dirinya merasa kaget dengan kenaikan harga kedelai yang bertubi-tubi.

"Tahun-tahun sebelumnya ya naik, tapi sedikit lalu turun lagi. Tapi kalau ini harga normal sekitar Rp6.500-7.000 perkilogram naik sampai ada yang Rp9.400. Naik sampai sekitar 30 persen," ujarnya saat ditemui di tempat produksi, Sabtu (9/1/2021).

Untuk bisa terus berproduksi, dirinya memangkas kapasitas produksinya. Dari awalnya bisa memproduksi 130.000 buah setiap hari. Kini dirinya harus mengurangi kapasitas produksinya menjadi 90.000-100.000 buah per hari.

"Biasanya kita produksi tahu 130.000 buah per hari. Sekarang kita cuma masak 90.000 sampai 100.000 sehari. Atau kalau diitung kiloannya, kita cuma memproduksi 1 ton," imbuhnya.

Menurutnya, dirinya lebih memilih untuk mengurangi jumlah produksi ketimbang mengurangi kualitas tahu buatannya. Dengan pengurangan produksi otomatis berpengaruh pula dengan pendapatannya.

"Kalau tahu nggak bisa mas kalau dikurangi bahan bakunya. Nanti jadi kualitasnya jelek. Kasihan pelanggan kita," katanya.

Sementara itu, Ponidi, salah satu pegawai di rumah produksi tahu tersebut mengatakan telah mengurangi produksi tahu sekitar 3 hari lalu. Menurutnya, meski harga kedelai yang meroket, dirinya dan teman-teman pegawainya tetap bertahan.

"Sudah kita kurangi sejak 3 hari lalu, ya mau gimana lagi, kedelai sampai detik ini harganya masih tinggi," ujarnya.

Dia berharap harga kedelai bisa kembali normal lagi. Mengingat saat ini juga masih dalam situasi pandemi covid-19.

"Harapannya segera normal kembali mas. Saya sudah hampir 47 tahun jadi perajin kedelai, harga kedelai kok sampai setinggi ini. Kalau kita nggak produksi kan kasihan juga orang-orang seperti saya," katanya. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng kedelai
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top