Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berwisata ke Sangiran Naik Transjateng, Begini Keseruannya

Bus ini mulai beroperasi pada September 2020 dengan rute Solo-Sumberlawang yang salah satu pemberhentiannya berada di sub-terminal Sangiran.
Chelin Indra Sushmita
Chelin Indra Sushmita - Bisnis.com 12 April 2021  |  09:51 WIB
Bus Rapid Transit (BRT) Transjateng yang melayani rute Solo-Sumberlawang dan singgah di Sangiran. - JIBI/Moh Khodiq Duhri
Bus Rapid Transit (BRT) Transjateng yang melayani rute Solo-Sumberlawang dan singgah di Sangiran. - JIBI/Moh Khodiq Duhri

Bisnis.com, SOLO – Perjalanan tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja hari ini, Sabtu (10/4/2021) berlanjut ke sebelah utara Kota Solo tepatnya di Sragen, Jawa Tengah. Kami mengunjungi situs purbakala Museum Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen.

Perjalanan ke Sangiran yang jaraknya 15 km dari Kota Solo kami mulai dari Stasiun Balapan. Dari sini kami berjalan menyusuri Sky Bridge yang merupakan pintu masuk penumpang naik KRL Solo Jogja dan KA Bandara, sekaligus jembatan penyeberangan sebagai akses menuju ke Terminal Tirtonadi.

Sebenarnya sih bisa saja kami menumpang angkutan dari stasiun ke terminal, tapi tentu harus menambah ongkos. Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar? Ya kan....

Setelah 10 menit berjalan menyusuri Sky Bridge kami pun tiba di Terminal Tirtonadi. Dari kejauhan tampak bus rapid transit (BRT) Transjateng yang akan kami tumpangi menuju ke Museum Sangiran.

Bus ini mulai beroperasi pada September 2020 dengan rute Solo-Sumberlawang yang salah satu pemberhentiannya berada di sub-terminal Sangiran. Keberadaan moda transportasi ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah pengunjung ke Museum Sangiran.

Tidak butuh waktu lama, bus yang kami tumpangi berangkat dari Terminal Tirtonadi melewati Pasar Nusukan, menyebrang rel di palang Joglo dan lurus terus ke utara menyusuri Jl Solo-Purwodadi yang bergelombang. Tarif naik bus ini pun cukup terjangkau, yakni Rp4.000/orang untuk sekali jalan.

Sesekali terasa guncangan glondang-glondang karena jalan yang dilewati bus ini bergelombang. Sembari menikmati perjalanan naik bus yang melaju cukup kencang, saya berbincang dengan beberapa penumpang yang sudah sepuh di dalam bus. Para sesepuh ini menilai BRT Transjateng cukup nyaman ditumpangi dibandingkan bus lain yang biasa mereka naiki.

Di tengah perjalanan bus ini berbelok ke kanan menyusuri jalan desa yang dicor membelah areal persawahan luas dengan hamparan padi yang masih hijau sejuk dipandang mata. Pemandangan yang menyejukkan, karena setiap hari saya selalu melihat gedung-gedung bertingkat dan kemacetan di kawasan perkotaan.

Saya pun bertanya kepada ibu-ibu di samping saya mengapa BRT Transjateng melintasi areal persawahan. Dia mengatakan bus berbelok memasuki jalan desa karena ada ruas Jl Solo Purwodadi yang sedang dicor.

Sesekali bus harus berhenti karena bersimpangan dengan mobil lain dari arah berlawanan, karena jalan yang dilalui sempit.

"Ini namanya daerah Kaliwang mbak di Kalijambe. Masih banyak sawah begini. Busnya lewat sini soalnya di jalan utama sana dicor, nanti malah kena macet," kata ibu-ibu yang tidak sempat saya tanya siapa namanya karena keburu turun.

Sekitar 10 menit menyusuri jalan desa, bus berbelok menuju jalur utama ke arah Museum Sangiran. Alarm otomatis berbunyi mengingatkan penumpang bahwa halte pemberhentian yang dituju sudah dekat.

Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Chelin Indra Sushmita, berbincang dengan penumpang BRT Transjateng menuju ke Sangiran./JIBI-Adhika Ali

Pramujasa BRT Transjateng yang kami tumpangi, Abdurrahman, mengingatkan saya untuk bersiap turun di sub-terminal Sangiran yang masih dalam tahap pembangunan.

“Sangiran, mbak. Nanti jalan sedikit ke sana [sambil menunjuk jalur alternatif menuju ke Sangiran dari dalam bus],” katanya ramah.

Sebelum turun tim Ekspedisi KRL Solo Jogja yang digelar Solopos bersama PT KAI Commuter, Badan Otorita Borobudur (BOB), dan Perum Perumnas, mengucapkan terima kasih kepada penumpang lain yang menemani perjalanan kami siang ini.

Sub-terminal Sangiran menempati lahan milik desa yang belum selesai dibangun. Ada satu halte berwarna merah menyala di sudut terminal yang merupakan pemberhentian BRT Transjateng.

Butuh waktu 30 menit menumpang BRT Transjateng dari Terminal Tirtonadi ke Museum Sangiran. Waktu tempuh yang singkat dan terasa menyenangkan karena ada banyak cerita menarik selama perjalanan.

Setelah turun dari bus, saya bertanya kepada warga setempat akses menuju ke Museum Sangiran. Bapak-bapak yang berada di terminal itu pun menjelaskan pengunjung bisa menumpang angkutan yang disediakan dengan membayar jasa Rp2.000 atau berjalan kaki sekitar 500 meter dari terminal menuju ke pintu masuk Museum Sangiran.

Saya dan Dhika memilih menumpang angkutan karena siang ini cuaca sangat panas. Setelah menunggu 10 menit, angkutan yang kami tunggu datang. Dari parkiran tempat menunggu saya melihat mobil pikap pelat merah berwarna hijau tua dengan tulisan Sangiran di depannya datang membawa penumpang. Mereka adalah pengunjung yang telah selesai jalan-jalan di hari pertama uji coba terbatas pembukaan Museum Sangiran setelah setahun lebih tutup karena pandemi.

Sayangnya kami tidak bisa langsung naik karena sudah ada sejumlah penumpang yang mengantre sebelumnya. Angkutan ini tidak bisa mengangkut banyak penumpang karena protokol kesehatan jaga jarak.

Kami pun kembali menunggu sekitar lima menit sampai angkutan itu kembali. Namun, sopir angkutan yang belakangan kami ketahui bernama Wijanto memberitahukan bahwa kapasitas pengunjung museum sudah melebihi kapasitas. Jadi, penumpang selanjutnya kemungkinan tidak bisa masuk ke museum.

Mobil penelitian Museum Sangiran yang sementara difungsikan sebagai angkutan penumpang./JIBI-Chelin Indra Sushmita

Pada hari pertama uji coba, pengelola Museum Sangiran membatasi jumlah pengunjung yang boleh masuk, yakni 100 orang dengan maksimal waktu kunjungan 30 menit per orang.

"Mohon maaf bapak ibu, jumlah pengunjungnya sudah melebihi kapasitas. Kalau mau diantar ya saya antarkan, tapi saya tidak bisa menjamin panjenengan semua bisa masuk ke museum," kata Wijanto yang merupakan Ketia Pokdarwis Purba Budaya Desa Wisata Sangir.

Saya melihat ke sekeliling, ternyata hanya tinggal saya, Dhika, dan empat orang sekeluarga dari Wonosobo yang hendak menumpang angkutan itu. Saya pun menyampaikan tujuan saya untuk liputan dan menjelaskan sudah ada janji dengan pengelola museum. Dengan senang hati Pak wijanto menyanggupi mengantarkan saya. Saya juga meminta Pak Wijanto mengantar keluarga dari Wonosobo itu sebagai tombo gela.

Selama perjalanan menuju ke Museum Sangiran saya banyak berbincang dengan Wijanto soal mobil penumpang itu. Dia pun mengatakan mobil itu milik Museum Sangiran yang biasa dipakai sebagai kendaraan operasional penelitian.

Dia meminjam kendaraan tersebut sebagai angkutan penumpang untuk memberikan contoh kepada masyarakat setempat agar segera mendirikan paguyuban yang menyediakan jasa transportasi kepada pengunjung sebagai akses masuk Museum Sangiran dari sub terminal.

"Kendaraan ini saya pinjam. Saya berharap masyarakat segera bikin paguyuban untuk menyediakan jasa transportasi, karena sekarang ada sub terminal dan akses ke Sangiran ini semakin mudah dengan adanya BRT Transjateng," jelas dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata jateng

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top