Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menilik Produksi Beras Organik dari Desa Gentan

Selain ramah lingkungan, sistem pertanian organik juga mampu menekan biaya produksi yang ditanggung petani.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 21 September 2021  |  17:30 WIB
Samsul Hadi, petani di Desa Gentan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, menunjukkan butir padi yang dikembangkan menggunakan sistem pertanian organik. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan
Samsul Hadi, petani di Desa Gentan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, menunjukkan butir padi yang dikembangkan menggunakan sistem pertanian organik. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Bisnis.com, SEMARANG – Petani di Desa Gentan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, tengah mengembangkan sistem pertanian organik. Langkah tersebut diambil dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas sawah sembari mengurangi ongkos produksi yang mesti ditanggung petani.

"Yang kita tawarkan ke masyarakat ini bukan harga beras organik yang lebih tinggi di pasaran. Tapi justru biaya produksi yang bisa dipangkas sehingga keuntungan yang dirasakan petani bisa lebih besar,” jelas Andi Cahyono, Pimpinan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gentan Sukses Mandiri, Selasa (21/9/2021).

Andi membayangkan ke depannya lahan pertanian di desanya tersebut bisa menjadi ‘pabrik’ beras organik. Untuk mewujudkan hal tersebut, BUMDes Gentan Sukses Mandiri mengajak petani di wilayah tersebut untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik.

“Dengan cara konvensional, dari 50 kilogram gabah yang dipanen, beras yang dihasilkan itu hanya 25-30 kilogram. Separuhnya hilang. Sedangkan dengan sistem pertanian organik yang tengah kami kembangkan, dari 50 kilogram gabah 40 kilogram beras bisa kita hasilkan,” jelas Andi kepada Bisnis.

Tak hanya kualitas gabah, sistem pertanian organik tersebut juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan malai atau bunga padi yang dihasilkan. “Malai padi dulunya bisa tersisa 2 – 5 centimeter yang tidak berisi. Sekarang, dengan cara organik, kita bisa full, hasilnya lebih padat dan berbobot bijinya. Padahal bibitnya sama, tidak harus beli yang baru,” jelas Andi.

Samsul Huda, petani beras organik sekaligus salah seorang pelopor sistem pertanian organik di Desa Gentan, mengungkapkan bahwa kunci peningkatan hasil produksi tersebut ada pada pemberian nutrisi tanaman.

“Secara normal, dengan sistem pertanian konvensional, setiap panen raya kita bisa menghasilkan 9 ton beras per hektare lahan. Sedangkan dengan metode pertanian organik, menggunakan pupuk yang nutrisinya sesuai dengan kebutuhan tanaman, kita bisa optimalkan hasilnya hingga 18 – 22 ton per hektare lahan,” jelasnya.

Samsul mengungkapkan bahwa untuk menerapkan sistem pertanian organik, petani tidak perlu kesulitan untuk mendapatkan bahan baku baik bibit tanaman, pupuk, hingga pestisida. Pasalnya, semua bahan baku yang dibutuhkan telah tersedia di alam.

“Untuk pupuk misalnya, bisa kita manfaatkan limbah kotoran sapi atau kambing. Nanti kita olah kembali dengan campuran tertentu dan difermentasi cukup 10 hari. Nanti bisa digunakan selama setahun penuh. Pupuk organik ini juga akan kembali melebur bersama tanah, jadi tidak meninggalkan residu berupa bahan kimia,” tambah Samsul. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng semarang pertanian organik
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top