Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hari Bahasa Ibu Internasional, Kecerdasan Buatan Bisa Jadi Alternatif Upaya Pelestarian

Ketua Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Sahid Teguh Widodo, S.S., M.Hum., Ph.D. menyampaikan banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan bahasa Jawa.
Setyo Puji Santoso
Setyo Puji Santoso - Bisnis.com 21 Februari 2022  |  18:58 WIB
Diskusi daring tentang peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional - UNS
Diskusi daring tentang peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional - UNS

Bisnis.com, SOLO – Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Kedudukan bahasa ibu cukup krusial sebab banyak bahasa ibu atau bahasa daerah yang lambat laun mengalami kepunahan.

Hal ini tentu saja harus diantisipasi oleh bahasa ibu sekaligus bahasa daerah mayoritas masyarakat Jawa Tengah yakni bahasa Jawa.

Ketua Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Sahid Teguh Widodo, S.S., M.Hum., Ph.D. menyampaikan banyak cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan bahasa Jawa.

Salah satu cara yang bisa digunakan yakni dengan Natural Language Processing (NLP).

Prof. Sahid menjelaskan bahwa NLP merupakan salah satu cabang dari kecerdasan buatan (artificial intellegence/AI) yang merekam interaksi manusia dengan mesin menggunakan bahasa natural atau bahasa alami.

Meski usianya sudah setengah abad, NLP termasuk penemuan baru yang sangat membantu penggunanya mengakses data secara cepat.

“Saya mencoba mlipir-mlipir melintasi lorong benderang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dengan mencoba melihat kemungkinan sebuah simulasi dari kecerdasan berupa bahasa Jawa untuk dimodelkan sedemikian rupa di dalam mesin. Saya kira dengan kecanggihan AI proses pelestarian (pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan) bahasa Jawa dapat cepat terwujud,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (21/2/2022).

Lebih lanjut Prof. Sahid memaparkan bahwa data NLP terbagi menjadi dua kategori besar yakni data berlabel dan data tidak berlabel.

Data berlabel meliputi data yang berkaitan dengan aspek semantik sehingga harus dibuat secara manual. Sementara itu, data tidak berlabel adalah data lainnya yang berkaitan dengan sintaks.

Dengan adanya dua data tersebut, pengguna tidak hanya dapat menentukan arti kata tapi juga dapat memahami penerapan tata bahasa dan makna kata.

Dalam seminar daring yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan UNS itu, Prof. Sahid memuji peluncuran Kamus Digital Budaya Jawa.

Kamus digital yang dikembangkan Balai Bahasa Privinsi Jawa tengah tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan bahasa Jawa.

“Ide untuk membuat Kamus Digital Bahasa jawa sungguh merupakan loncatan pemikiran saintifik yang jitu. Selain dikerjakan secara manual, bisa juga menggunakan metode NLP,” imbuhnya.

Prof. Sahid berharap Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah segera dapat menyusun corpus bahasa Jawa. Dengan adanya corpus tersebut, pemertahanan bahasa Jawa melalui kecerdasan buatan dapat tercapai.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peringatan bahasa
Editor : Setyo Puji Santoso

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top