Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Suara Senyap Lokananta di Tengah Semarak Surakarta

Label rekaman plat merah pertama di Indonesia itu perlu mendapat perhatian khusus. Tak sekedar untuk bertahan, tapi juga untuk tetap mendulang cuan.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 14 Juli 2022  |  06:48 WIB
Suara Senyap Lokananta di Tengah Semarak Surakarta
Tampak depan dari Lokananta yang sempat menjadi pusat dari aktivitas rekaman musik di Tanah Air. Kini bangunan itu telah menjadi museum. - Bisnis/Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG – Di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Laweyan, Kota Surakarta, berdiri plang berwarna biru muda dengan tulisan ‘Lokananta’ berukuran besar. Tiang-tiang penyangga plang itu sudah berkarat, penanda dimakan usia. Namun, di kawasan itu, ada yang lebih tua dari sekedar tiang penyangga papan nama.

Pada mulanya, Lokananta merupakan perusahaan piringan hitam yang didirikan pada 29 Oktober 1956 dan berada di bawah Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Berselang beberapa tahun sejak awal didirikan, Lokananta mencoba memasarkan piringan hitam pada masyarakat melalui Radio Republik Indonesia (RRI).

Lokananta mengantongi status sebagai perusahaan negara pada 1961. Pada periode itu, Lokananta diberikan tugas oleh pemerintah untuk menjadi label rekaman untuk mempromosikan lagu-lagu daerah. Tak heran jika katalog rekaman Lokananta kebanyakan diisi oleh musik gamelan Jawa, Bali, Sunda, Batak, serta lagu-lagu rakyat. Beberapa musisi legendaris Tanah Air juga pernah rekaman di Lokananta, seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, hingga dalang carangan tersohor, Ki Nartosabdo.

“Pada tahun 1998, ketika Kementerian Penerangan dibubarkan, Lokananta tidak punya induk. Akhirnya, Direktur Utama Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) pada saat itu mengambil alih Lokananta karena pure ingin nguri-uri kebudayaan Jawa, melanjutkan apa yang sudah dilakukan,” jelas Anggit Wicaksono, tim Pemasaran Lokananta saat ditemui Bisnis beberapa waktu lalu.

Dari luar, Lokananta mungkin terlihat sepi. Namun, hingga hari ini, ada banyak aktivitas yang berjalan di situ. Bangunan asli yang kini berstatus cagar budaya difungsikan sebagai museum yang siap menerima kunjungan. Sementara itu, lahan luas di kawasan Lokananta dialihfungsikan menjadi kafe dan restoran oleh pihak ketiga.

Banting Tulang Kejar Setoran

Lokananta memang punya sejarah panjang sebagai label rekaman plat merah. Namun, di bawah PNRI, Lokananta mesti menyesuaikan diri dan mencari pemasukan lain. Aktivitas duplikasi rekaman masih terus dilakukan, namun persentase keuntungannya hanya sebagian kecil dari pemasukan Lokananta. Untuk memenuhi target pendapatan yang ditetapkan pemerintah, Lokananta mesti putar otak untuk memanfaatkan aset yang dimiliki. 

“Lokananta itu memang menyewakan tempat, itu jadi salah satu core business kita yang sekarang dibawah PNRI. Karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kan tetap diharuskan untuk mencari profit, salah satunya dengan menyewakan lahan kosong. Lumayan, untuk sewanya sendiri sekitar Rp25 juta per tahun,” jelas Anggit.

Angka Rp25 juta per tahun tentu tak seberapa dibandingkan dengan target penerimaan tahunan dari Lokananta. Anggit mengungkapkan, Lokananta mesti memenuhi target sekitar Rp4 miliar setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar pemasukan berasal dari aktivitas percetakan.

“Percetakan itu lebih ke security printing, ijazah, sertifikat, berita negara yang itu berhubungan dengan notaris. Itu pemasukan yang paling besar karena tendernya dipegang langsung oleh PNRI dan masuk ke sini, mungkin sekitar 50-60 persen dari omzet tahunan. Sisanya baru lini bisnis yang lain,” jelas Anggit.

Anggit tak bisa menyebut persis berapa besar omzet yang disumbangkan dari aktivitas duplikasi rekaman di Lokananta, hal yang mulanya sempat menjadi core business perusahaan itu. Pada 2014 lalu misalnya, Anggit menyebut Lokananta bisa menggandakan hingga 200.000 kaset dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) di kisaran Rp18.000 per kaset pita. “Itu sudah komplit sama cover, sticker, atau sablon. Harga jualnya sekitar Rp35.000-50.000 per kaset pita, lumayan. Tahun itu memang sedang kenceng-kenceng-nya,” tambahnya.

Sembari berkeliling di bangunan yang kini dijadikan Museum Lokananta, Anggit menyeritakan bahwa kebangkitan aktivitas duplikasi rekaman di Lokananta pada tahun 2014 lalu itu berasal dari dorongan anak-anak muda.

“Itu terasa juga sampai di pertengahan 2010-an dimulai dari Glenn Fredly, kemudian Pandai Besi, Shaggy Dog, dan terakhir Slank yang mencoba rekaman di studio milik Lokananta, kualitasnya masih bagus,” jelas Anggit.

Meski masih berfungsi, namun studio yang dimiliki Lokananta boleh dibilang sudah uzur. Maklum, meskipun bisa disebut sebagai studio terbesar di Indonesia, namun studio di Lokananta sudah berusia puluhan tahun. Kondisinya bahkan tak jauh berbeda sejak diresmikan pada 1985 lalu. Teknologinya masih berbasis analog. Bahkan, langit-langit studio itu sebagian telah rontok, habis dimakan usia.

Glenn sendiri sempat melakukan rekaman di studio Lokananta pada 2012 lalu. Rekaman DVD bertajuk ‘Glenn Fredly and Bakucakar Live from Lokananta’ menjadi awal kebangkitan. Musisi-musisi dari Ibukota mulai berdatangan.

Band-band baru itu malah bikin kaset pita. Mocca itu paling kenceng dan Raisa. Jadi gak cuma band indie, tapi artis nasional pun sudah mulai melirik. Kalau dari Solo sendiri, kemarin ada yang rilis band skinhead punk dari Sriwedari, ada juga semacam orkes melayu dari Laweyan,” jelas Anggit.

Berharap Banyak pada Renovasi

Endang Supriyadi, Kepala PNRI Cabang Surakarta Lokananta, berharap agar eksistensi Lokananta bisa terus terdengar di masyarakat. “Karena banyak warga yang di sekitar sini ketiga masuk Lokananta kaget, dikira sudah tutup, karena dari luar terlihat sepi,” ucapnya.

Harapan itu tentunya perlu mendapat dukungan, sebagai bentuk apresiasi sekaligus konservasi dari sejarah panjang Lokananta bagi industri musik di Tanah Air. Endang mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat pemerintah melalui Kementerian BUMN berencana melakukan perbaikan besar-besaran di Lokananta. 

Insyaallah, tahun ini kita akan merenovasi, merevitalisasi semua, total. Tanpa mengubah struktur bangunan. Artinya, mungkin hanya memberikan sentuhan, juga dari bahan bangunan akan dikembalikan termasuk jendela, bakal dikembalikan ke bentuk aslinya. Doakan semoga semuanya lancar,” ungkap Endang kepada Bisnis.

Rencananya, Lokananta juga bakal membangun amfiteater atau panggung pertunjukan terbuka di halaman depan. Fasilitas yang diharapkan bisa menambah pundi-pundi pendapatan, yang secara tidak langsung bakal kembali memeriahkan Lokananta.

Jika benar-benar terealisasi, nantinya studio Lokananta juga bakal mendapat perhatian khusus. Peralatan yang sudah usang bakal dimuseumkan, dipamerkan ke hadapan pengunjung yang datang. Sementara itu, ruangan studio bakal diperbaiki. “Karena akustiknya sudah 65 tahun, itu kayunya sudah harus diganti karena tidak boleh menggunakan besi, mengganggu akustik,” jelas Endang.

Rencana perbaikan itu juga bakal menambah pundi-pundi pendapatan Lokananta. Pasalnya, dengan pembaruan teknologi produksi, Lokananta bisa memanfaatkan katalog musik yang dimilikinya. Endang menyebut Lokananta bisa melakukan remaster pada rekaman-rekaman lawas itu untuk kemudian diunggah ke platform music streaming.

Kini, Endang hanya bisa berharap. Semoga rencana renovasi itu bisa benar-benar terwujud. “Ini bukan mau saya atau beberapa orang, tapi mau masyarakat, juga para musisi. Tinggal menunggu momen saja. Semoga rencana renovasi ini menjadi momen yang baik,” ucapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

musik LOKANANTA Piringan Hitam surakarta Features
Editor : M Faisal Nur Ikhsan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top