Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

2023, Jateng Perlu Waspadai Krisis Pangan dan Energi

BI bakal mengambil kebijakan stabilisasi harga sembari tetap mengeluarkan kebijakan yang bersifat akomodatif.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 30 November 2022  |  15:37 WIB
2023, Jateng Perlu Waspadai Krisis Pangan dan Energi
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Firdauz Muttaqin (kiri) mendampingi Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, memberikan penghargaan kepada para penerima Aprisiasi pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI), Rabu (30/11/2022). - Foto: Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG - Hingga Oktober 2022, angka inflasi di Jawa Tengah masih berada di kisaran 6 persen. Angka itu jauh melampaui target inflasi nasional di tahun 2022 yang dipatok di 3±1 persen.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah, M. Firdauz Muttaqin, menjelaskan bahwa tekanan inflasi tersebut bersumber dari peningkatan harga komoditas pangan dan energi dunia.

"Selain itu, gangguan produksi pada beberapa komoditas pangan juga menjadi sumber utama yang mendorong inflasi yang cukup tinggi pada tahun ini," jelasnya, Rabu (30/11/2022).

Firdauz mengungkapkan, beberapa langkah telah dilakukan KPw BI Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah daerah dan berbagai instansi dan lembaga terkait. Misalnya dengan menggelar operasi pasar, hingga peningkatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan badan otoritas pangan di Jawa Tengah.

"Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut, kami memperkirakan perekonomian Jawa Tengah pada 2022 mampu tumbuh di kisaran 4,90-5,7 persen. Meskipun inflasi masih berada di atas target nasional," jelas Firdauz.

Jawa Tengah sendiri masih punya potensi pertumbuhan ekonomi dari sisi domestik. Firdauz menjelaskan, hal tersebut terlihat dari banyaknya jumlah penduduk usia muda, pasokan pangan yang melimpah, serta tenaga kerja yang kompetitif. Potensi itu jadi keunggulan Jawa Tengah yang belum tentu dimiliki wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.

Lebih lanjut, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2023 mendatang, KPw BI Provinsi Jawa Tengah bakal mengambil kebijakan stabilisasi harga sembari tetap mengeluarkan kebijakan yang bersifat akomodatif.

"Kami akan terus menarik investasi potensial di berbagai daerah di kawasan industri, meningkatkan kapasitas dan akses pasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) baik di dalam maupun luar negeri, mendorong perluasan digitalisasi dan penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)," jelas Firdaus.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menambahkan bahwa selain kenaikan harga pangan inflasi di Jawa Tengah juga bergerak seiring naiknya harga bahan bakar di tingkat global. Gus Yasin, sapaan akrabnya, memberikan beberapa contoh keberhasilan yang diharapkan bisa direplikasi untuk mengantisipasi krisis energi itu.

"Masyarakat kita sebenarnya memiliki paling tidak satu ekor sapi, kalau kita masuk ke kampung-kampung," kata Gus Yasin. Di beberapa daerah, kotoran ternak itu sudah dimanfaatkan untuk menjadi biogas sebagai alternatif energi. Adapun daerah yang sudah relatif berhasil menerapkan strategi itu adalah Kabupaten Semarang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Magelang.

Gus Yasin menuturkan, pemanfaatan biogas itu jadi langkah alternatif untuk mengendalikan inflasi dengan cara menghemat pengeluaran masyarakat. "Kalau bicara masalah ekonomi tentu yang dihitung tidak hanya pemasukan. Tetapi pengeluarannya juga dihitung," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bi jateng
Editor : Farodlilah Muqoddam
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top