Disnaker: Belum Ada Laporan PHK Massal di Manufaktur Tekstil Jawa Tengah

Disnaker Jawa Tengah (Jateng) mengklaim belum ada laporan PHK massal di manufaktur tekstil di wilayahnya.
Disnaker: Belum Ada Laporan PHK Massal di Manufaktur Tekstil Jawa Tengah. Ilustrasi. JIBI-Nurul Hidayat
Disnaker: Belum Ada Laporan PHK Massal di Manufaktur Tekstil Jawa Tengah. Ilustrasi. JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, SEMARANG - Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari, Jawa Tengah  mengatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan terkait gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada sektor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jawa Tengah.

"Belum ada aduan baik dari pekerja maupun Disnaker di kabupaten dan kota," katanya kepada Bisnis, Jumat (3/2/2023).

Senada, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah mengatakan bahwa investor justru menyasar wilayah Jawa Tengah pada saat gelombang PHK terjadi di Jawa Barat dan Banten.

"Beberapa investor itu banyak yang lari ke Jawa Tengah, Brebes itu [investor] alas kaki lari ke kita," ucapnya.

Meskipun demikian, manufaktur di Jawa Tengah masih belum bisa dikatakan stabil. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan bahwa hingga saat ini pelaku manufaktur masih terganjal pelemahan permintaan dari pasar luar negeri.

"Sejauh yang saya monitor, teman-teman memang masih belum ada perkembangan yang signifikan. Amerika Serikat sekarang sudah mulai oke. Ekonomi, inflasi, sudah mulai bagus. Tetapi Eropa masih belum," jelas Frans saat dihubungi Bisnis.

Dalam kondisi tersebut, Frans menyebut pengusaha sektor TPT di Jawa Tengah terus mencari cara buat mempertahankan kapasitas produksi serta serapan tenaga kerja. Meskipun permintaan mengalami penurunan, namun Frans menjelaskan bahwa hingga saat ini kapasitas produksi masih bisa dipertahankan dan berada di kondisi yang masih jauh lebih baik dibandingkan dengan puncak pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, pada sektor TPT, Frans menjelaskan bahwa pelaku industri di Jawa Tengah saat ini sedang mencari pasar baru di luar negara utama tujuan ekspor. Langkah tersebut diambil untuk menyiasati jenuhnya persaingan di pasar domestik yang sudah memiliki ekosistem tersendiri.

"Domestik itu mereka punya produksi banyak. Tetapi karena ekspor kesulitan, betul-betul mereka buat untuk dalam negeri. Tetapi ini karena persaingan sudah banyak, persaingan dalam negeri saja pasarnya diperebutkan sehingga tidak begitu banyak penyerapan. Sudah ada produk yang khusus lokal," jelas Frans.

Awal 2023 lalu, Apindo Provinsi Jawa Tengah sendiri telah memperkirakan permintaan ekspor bakal mengalami perbaikan pada akhir Kuartal I/2023 ini.

"Ada yang memperkirakan lebih lambat sedikit. Tetapi harapan kita seperti tadi. Itu berarti sudah ada titik terang," ucap Frans.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper