Bukan Soal UMR, Ini Alasan Investor Ekspansi Pabrik ke Kendal

Pengelola KIK menyebut insentif dan stimulus yang diberikan pemerintah menjadi magnet investor. Faktor kedekatan distribusi dan jalur logistik juga berpengaruh.
Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah./cjip.jatengprov.go.id
Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah./cjip.jatengprov.go.id

Bisnis.com, SEMARANG - Kawasan Industri Kendal (KIK) mencatat ada ekspansi dilakukan investor pada tahun 2023 ini.

"Utamanya di tekstil dan sepatu. Dulunya tersebar di Jawa Barat dan Banten. Mereka kebanyakan pindah, tetapi ada perusahaan yang melakukan ekspansi untuk tetap mau di Jawa Barat," jelas Juliani Kusumaningrum, Head of Marketing & Sales KIK kepada Bisnis, Kamis (25/5/2023).

Juliani menyebut bahwa pelaku industri manufaktur masih bertahan di Jawa Barat lantaran telah terlanjur membangun jaringan distribusi hingga ke perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ekspansi industri ke Jawa Tengah sendiri dilakukan buat memangkas rantai distribusi dari dan menuju kawasan timur Jawa Tengah seperti Jepara.

"Kalau misalkan [sektor] makanan, ada mereka yang melakukan ekspansi karena dengan ada di Jawa Tengah logistic costnya jauh lebih rendah. Dalam artian, bahan baku kebanyakan dari Jawa Tengah dan mereka punya rencana ekspor. Jadi lebih baik di Jawa Tengah," jelas Juliani.

Juliani mengungkapkan, selain faktor distribusi dan logistik, investor yang masuk ke KIK tertarik dengan tawaran insentif dan stimulus yang diberikan pemerintah, seperti fasilitas Tax Holiday.

"Ekspansi mereka di Kendal bukan karena upah faktor utamanya, justru karena di Kendal mereka mendapatkan tax holiday, itu yang menjadi daya tarik," jelasnya.

Selain investor yang mengembangkan usahanya, KIK juga mencatat masuknya investor dari luar negeri yang bergerak di sejumlah sektor industri. Mulai industri pendukung kendaraan listrik dengan masuknya industri katoda dan anoda, industri lampu untuk dekorasi rumah, juga pabrik mainan dan peralatan kesehatan. Sektor industri berbasis ekonomi sirkular juga menjadi incaran KIK.

"Ini bisa dibilang industri baru yang seharusnya semuanya serba sustainable dan renewable. Ini tanggal 6 Juni akan ada acara ground breaking, induk perusahaannya dari Jerman, kerja sama dengan perusahaan lokal. Mereka recycle PET, jadi plastik bekas yang ada di sekitar Jawa Tengah di-recycle menjadi pellet PET lalu diekspor 100 persen," jelas Juliani.

Untuk mendukung industri daur ulang itu, KIK membutuhkan akses jaringan pipa gas. Untungnya, proyek pembangunan pipa gas Semarang-Cirebon sudah sampai di dekat pintu masuk kawasan.

Juliani menargetkan, pada Oktober mendatang, pasokan gas sudah bisa didistribusikan ke area dalam kawasan.

Pada perkembangan lainnya, terkait pernyataan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Jawa Tengah tentang enggannya investor untuk masuk ke kawasan industri di Jawa Tengah, KIK menanggapi hal tersebut dengan ringan.

Menurut Juliani, setiap investor memang memiliki preferensi dan kebutuhan yang beragam."Ada investor luar yang mau masuk ke kawasan karena ada kejelasan dari segi sertifikat. Tidak ada masalah. Mengenai fasilitas, mereka tinggal connect saja, semua sudah ready. Di Kendal sendiri, ada kemudahan perpajakan atau insentif. Investor dalam negeri, termasuk company blue chip, mereka tidak mau buat pabrik di luar kawasan. Misal, karena sewaktu ada audit dari luar, ketika berada di dalam kawasan itu akses akan lebih mudah," jelas Juliani.

Lebih lanjut, tren membuka fasilitas produksi di luar kawasan sejatinya telah lama dilakukan investor di Jawa Tengah. Terlebih bagi investor yang sudah memiliki fasilitas produksi di dalam kawasan.

"Ketika mereka buka second plant, mereka biasa pilih mendirikan di zona industri. Itu ada juga yang seperti itu, sudah bukan hal baru juga," ucap Juliani.

Terlepas dari isu tersebut, bagi Juliani, keberadaan kawasan industri dengan beragam karakter dan fasilitas yang ditawarkan membawa keuntungan bagi Jawa Tengah. Pasalnya, calon investor bisa menyesuaikan kebutuhan dengan banyaknya opsi yang tersedia.

"Mereka pasti punya mindset untuk membandingkan kawasan industri di Indonesia dengan China atau Vietnam. Mereka jauh lebih advance, kalau Jawa Tengah punya banyak opsi, mereka yang punya standar yang lain akan terbantu," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper