Tantangannya Ekonomi DIY di Tahun 2024

BI mencatat, ada beberapa tantangan yang mesti diantisipasi DIY. Utamanya terkait dinamika perekonomian di tingkat global dan domestik.
Tugu Yogyakarta./webtempatwisata.com
Tugu Yogyakarta./webtempatwisata.com

Bisnis.com, SEMARANG - Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi di DI Yogyakarta sepanjang tahun 2023 tumbuh 5,08% dibandingkan tahun 2022 silam. Secara year-on-year, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal IV/2023 dilaporkan tumbuh 4,86%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DI Yogyakarta, Ibrahim, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Penghapusan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak akhir 2022 mendorong aktivitas pariwisata, termasuk momen Natal dan Tahun Baru.

Selain geliat pariwisata, persiapan kampanye Pemilu 2024 dan berlanjutnya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan beberapa proyek strategis daerah juga mendorong pertumbuhan ekonomi di DI Yogyakarta pada 2023.

"Meski demikian, kinerja positif ekonomi pada periode laporan tertahan oleh pengaruh dinamika cuaca yang menyebabkan mundurnya masa panen komoditas hortikultura dan ketidakpastian kondisi perekonomian yang menahan permintaan ekspor serta memengaruhi kinerja industri pengolahan," jelas Ibrahim, dikutip Rabu (7/2/2024).

Sebagai informasi, pada awal 2024, Indeks Harga Konsumen (IHK) di DI Yogyakarta tengah mengalami deflasi 0,02% (mtm). Namun demikian, komoditas pangan seperti beras, bawang merah, tomat, dan bawang putih masih mengalami kenaikan harga akibat fenomena cuaca El Nino yang memengaruhi ketersediaan pasokan.

Ibrahim menjelaskan, dari sisi pasokan atau lapangan usaha, kinerja perekonomian DI Yogyakarta didorong oleh sektor penyediaan akomodasi dan makan minum serta sektor konstruksi. "Dari sisi permintaan, kinerja net ekspor, konsumsi LNPRT, dan konsumsi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi DI Yogyakarta. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara pada periode Nataru mendorong kinerja ekspor jasa," tambahnya.

Diperkirakan, pada tahun 2024 ini, DI Yogyakarta masih bisa melanjutkan pertumbuhan positif pada kisaran 4,8-5,6%. Ibrahim mengungkapkan, untuk memenuhi target sasaran tersebut, ada beberapa faktor yang mesti mendapat perhatian.

"Beberapa tantangan yang berasal dari perekonomian global maupun domestik perlu diantisipasi. Agar dapat mencapai ekonomi DI Yogyakarta yang berkualitas dan berkesinambungan, sehingga mendorong kesejahteraan masyarakatnya. Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, BI, dan instansi terkait lainnya akan terus diperkuat guna meningkatkan perekonomian DI Yogyakarta," jelas Ibrahim dalam siaran persnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper