Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Panen Raya Jatuh di Bulan Maret, Harga Beras Diharapkan Ikut Turun

Berkurangnya pasokan menyebabkan harga beras terus naik. Panen raya yang jatuh pada bulan Maret, diharapkan bisa menekan harga beras saat momen Ramadan.
Berkurangnya pasokan menyebabkan harga beras terus naik. Panen raya yang jatuh pada bulan Maret, diharapkan bisa menekan harga beras saat momen Ramadan. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Berkurangnya pasokan menyebabkan harga beras terus naik. Panen raya yang jatuh pada bulan Maret, diharapkan bisa menekan harga beras saat momen Ramadan. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, SEMARANG — Mendekati Ramadan, harga komoditas pangan di Jawa Tengah terus mengalami kenaikan. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Awaludin Iqbal, menyebut kondisi itu disebabkan oleh berkurangnya pasokan beras di pasaran.

“Secara umum, November sampai Januari kita masuk masa tanam, kalau pun ada wilayah yang panen, itu tidak besar. Panen mungkin mulai pada periode akhir Maret. Jadi kalau dilihat, kondisi saat ini belum panen. Supply tentu berkurang dibanding demand-nya. Dalam kondisi seperti ini, beras di pasar pasti menjadi incaran,” jelas Awaludin, dalam diskusi yang digelar Jaringan Informasi Bisnis Indonesia Solopos pada Selasa (28/02/2023).

Awaludin juga mengatakan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, surplus tahun ini relatif lebih rendah, sehingga menyebabkan harga pangan secara umum cenderung naik. Tak hanya di pasar-pasar tradisional, harga beras di pasar-pasar modern juga naik akibat berkurangnya pasokan barang.

Mengetahui permasalahan tersebut, Bulog bekerja sama dengan pemerintah melakukan beberapa program yang diharapnya bisa menekan kenaikan harga beras. Salah satunya adalah mengeluarkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Nah, untuk menjawab persoalan tersebut, program pemerintah bersama Bulog adalah SPHP. Beras SPHP ini dijual dengan harga Rp9.950 [per Kg] di zona 1, HET-nya Rp11.500,” terangnya.

Awaludin juga mengatakan bahwa beras SPHP ini tak hanya akan digelontorkan di pasar tradisional, tetapi juga akan dijual melalui ritel pasar modern. Bulog juga akan melakukan penjualan cadangan pemerintah secara komersial. Hal ini ditujukan kepada pelaku usaha beras untuk disediakan barang bakunya, sehingga pelaku usaha tetap bisa beroperasi.

“Jadi kita menjual dengan harga lebih rendah dari rata-rata untuk mengisi penggilingan, supaya mereka tetap bisa beroperasi, tetap bisa menjalankan produksi, memiliki bahan baku, sehingga bisa mengisi ritel-ritel modern,” jelas Awaludin.

Upaya lain juga dilakukan untuk mengendalikan harga pangan di daerah. Bulog telah bekerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk menyelenggarakan Gerakan Pangan Murah (GPM) termasuk di Jawa Tengah. Dia juga menjelaskan bahwa pemerintah akan tetap menggelontorkan bantuan beras sebanyak 220.000 ton setiap bulan untuk dibagikan kepada 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sampai bulan Juni.

“Gerakan Pangan Murah ini memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan komoditas pangan yang murah, dan perlu kita ingatkan sampai bulan Juni pemerintah akan tetap melaksanakan bantuan pangan beras,” jelas Awaludin.

Awaludin berharap bahwa akan datangnya panen raya di Bulan Maret sampai April akan senantiana menurunkan harga beras jelang Ramadan.

“Terkait bulan puasa, bila kita merenung sedikit, kebutuhan beras itu sebenarnya cenderung menurun, tetapi kenaikan konsumsi seperti daging dan telur itu akan naik. Bila kita lihat kurasi panen, itu sudah ada beberapa daerah yang panen, Bulog tentu akan menambah terus pasokan untuk meningkatkan cadangan supaya terjadi stabilitas pangan,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Analis Data dan Statistik Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo Hafidh Amrullah mengatakan bahwa BI sudah mulai waspada terkait inflasi yang terjadi saat ini.

Sebelumnya, target inflasi di tahun 2024 secara nasional ditetapkan pada range 2,5%±1. Saat ini, dia mengatakan, kondisi inflasi sudah melebihi target, yakni mencapai lebih dari 3,5%.Maka dari itu, BI telah membuat langkah-langkah intervensi.

“Terkait kondisi inflasi memang sudah diwaspadai oleh kami dari BI. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) setempat khususnya Solo melakukan langkah-langkah intervensi, yaitu 4K,” jelas Hafidh.

Langkah-langkah intervensi 4K tersebut adalah pertama keterjangkauan harga, kedua ketersediaan pasokan, ketiga kelancaran distribusi, dan keempat komunikasi efektif. (VATRISCHA PUTRI NUR SUTRISNO)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper