Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Antrean Mengular Demi Isi Pertalite di Semarang

Pasokan Pertalite kerap terlambat, tak cuma sehari, tapi hingga 3 hari. Imbasnya, tumpukan antrean kendaraan terjadi di beberapa SPBU di sekitaran Undip.
Antrean sepeda motor di SPBU Sumurboto, Banyumanik, Kota Semarang pada Rabu (15/5/2024). Tingginya kebutuhan Pertalite di kalangan mahasiswa tak sebanding dengan ketersediaan./Bisnis-Vatrischa Putri Nur Sutrisno.
Antrean sepeda motor di SPBU Sumurboto, Banyumanik, Kota Semarang pada Rabu (15/5/2024). Tingginya kebutuhan Pertalite di kalangan mahasiswa tak sebanding dengan ketersediaan./Bisnis-Vatrischa Putri Nur Sutrisno.

Bisnis.com, SEMARANG - Puluhan motor berjejer mengantre bahan bakar di salah satu SPBU di sekitar Universitas Diponegoro (Undip). Pemandangan tersebut sudah bukan hal yang baru. Sebab beberapa waktu terakhir banyak mahasiswa mengaku kesulitan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite.

Osama, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan Undip, mengaku pernah mengantre hingga satu jam lamanya untuk mendapat Pertalite. Padahal, mahasiswa yang juga bekerja sebagai pengemudi antar jemput mahasiswa itu bisa dua kali mengisi BBM dalam sehari.

"Saya [antre] di Pom Bensin Ngesrep, rekor nunggu sejaman. Tapi terus enggak jadi beli karena ga mood,” aku Osama kepada Bisnis, Selasa (14/5/2024).

Osama menceritakan, meskipun pengelola SPBU telah menyediakan dua ruas untuk sepeda motor, namun jumlah antrean tetap mengular bahkan hampir menyentuh jalan. Kondisi itu diperparah dengan minimnya petugas SPBU yang melayani pembeli.

Tak Ada Stok

Di sekitaran Undip, setidaknya ada 2 SPBU yang beroperasi melayani kebutuhan BBM, yakni SPBU Pertamina Sumurboto atau dikenal juga SPBU Ngesrep dan SPBU Pertamina Mulawarman.

Kepada Bisnis, Salah satu pegawai SPBU Sumurboto mengatakan bahwa jika dilakukan sesuai jadwal, pengisisan Pertalite di SPBU tersebut dilakukan setiap hari saat subuh. “Cuman memang kadang-kadang telat gitu, jadi kadang kosong,” beber pegawai yang enggan menyebutkan namanya itu pada Minggu (12/5/2024).

Keterlambatan pengiriman itu berbuntut panjang. Sasa, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Undip yang mengekos tak jauh dari SPBU Sumurboto mengungkapkan bahwa stok Pertalite di SPBU tersebut bisa kosong hingga berhari-hari.

“Aku punya jadwal isi Pertalite di hari Sabtu atau Minggu, nah dua hari itu pernah, lho, habis. Sampai Senin pun masih nggak ada. Jadi aku cari bensin sampai ke Pom Mulawarman, terus Pom Banyumanik, ke Pom Bukit Sari, juga sama-sama nggak ada. Ya, akhirnya aku beli bensin eceran,” keluh Sasa.

Sasa menduga, selain keterlambatan pasokan, penumpukan antrean Pertalite di sekitaran Undip juga disebabkan oleh berkurangnya satu SPBU akibat kejadian kebakaran pada Januari 2024 lalu. Letupan api atau flash fire terjadi di SPBU Pertamina Undip dan menyebabkan kerusakan unit pompa yang hingga hari ini masih belum diperbaiki.

“Kebakaran Pom Undip itu ngefek banget. Dulu sebelum itu, pom bensin deket kos aku [SPBU Ngesrep] masih normal, kadang sepi. Jadi menurut aku itu sangat berpengaruh. Please, kalau bisa itu buka lagi,” ungkap Sasa.

Sayangnya, mahasiswa sebagai pengguna Pertalite tak punya banyak opsi. Osama misalnya, mengaku rela beralih ke Pertamax apabila sama sekali tak menemukan stok Pertalite di sekitar kampus. Kondisi tersebut tentunya bukan pilihan utama. Pasalnya, dengan menggunakan BBM non-subsidi itu, margin keuntungan dari jasa antar jemput yang ditawarkannya pun ikut berkurang.

Tetap Sediakan Pertalite

Sulitnya mengakses Pertalite tak cuma dialami mahasiswa Undip. Hal yang sama juga dikhawatirkan banyak masyarakat di berbagai daerah. Terlebih dengan munculnya isu penghapusan BBM bersubsidi itu. PT Pertamina Patra Niaga sendiri telah membantah isu tersebut dan menegaskan masih menyalurkan BBM jenis Pertalite (RON 90) kepada masyarakat sesuai kuota tahun 2024 yang ditetapkan pemerintah.

“Hingga saat ini, kami masih menyalurkan Pertalite di semua wilayah sesuai dengan penugasan yang diberikan pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, lewat siaran pers.

Sebagai informasi, kuota penjualan Pertalite pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Total kuota Pertalite tahun 2024 sebesar 31,7 juta kiloliter (KL), sedangkan pada tahun 2023 total pertalite sebesar 32,56 juta KL.

Saat ini, berdasarkan data BUMN hingga April 2024, realisasi penyaluran Pertalite secara nasional telah mencapai 9,9 juta KL dari total kuota. Sehingga kuota Pertalite yang belum disalurkan berada di angka 21,8 KL.

Di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sendiri, Pertamina Patra Niaga Region Jawa Bagian Tengah mencatat rerata konsumsi harian BBM jenis Gasoline berada di angka 12.824 KL per hari. (Vatrischa Putri Nur Sutrisno)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Redaksi
Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper