Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jaga Kinerja Ekspor, Diperlukan Pengendalian Hama Salak di Jateng dan DIY

Badan Karantina mendorong komitmen pemangku kebijakan untuk ikut melakukan perbaikan menyusul ditolaknya produk salak asal Indonesia di China.
Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin, Bambang, meninjau aktivitas pekerja perkebunan salak di Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu./Ist.
Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin, Bambang, meninjau aktivitas pekerja perkebunan salak di Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu./Ist.

Bisnis.com, SEMARANG - Ekspor komoditas salak dari Indonesia sempat ditolak masuk ke China pada Maret lalu.

"Karena adanya temuan lalat buah pada ekspor salak kita," jelas Bambang, Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Badan Karantina Indonesia (Barantin), dikutip Jumat (31/5/2024).

Menyusul temuan dan pemberhentian tersebut, Barantin segera mengambil tindakan untuk memastikan kinerja ekspor pertanian dapat berjalan baik. Salah satunya melalui kegiatan diskusi kelompok terpumpun yang digelar di Magelang, Jawa Tengah.

Bambang menyebut, lalat buah yang ditemukan dalam kiriman salak dari Indonesia merupakan hama yang kerap menimbulkan masalah. Pasalnya, selain komoditas salak, temuan hama sejenis juga ikut menghambat ekspor buah mangga asal indonesia ke Jepang selama 18 tahun.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh pemangku kepentingan di wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. "Diharapkan, seluruh pemangku kepentingan dapat konsisten menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari perawatan tanaman, sanitasi, pengendalian hama penyakit, pemilihan komoditas yang berkualitas, hingga pengemasannya," jelasnya dalam siaran pers.

DI Yogyakarta dan Jawa Tengah memang menjadi salah satu sentra produksi salak di Indonesia. Luasan perkebunan salak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bisa mencapai 1.200 hektare. Sementara itu, di DI Yogyakarta, luasnya mencapai 600 hektare.

"Kami bersama Karantina Jawa Tengah sejak awal Mei sudah melakukan bimbingan teknis kepada petani. Harapannya, perbaikan bisa segera selesai dan ekspor salak dapat kembali dibuka," jelas Kepala Karantina Yogyakarta, Ina Soelistyani.

Penolakan salak asal Indonesia di pasar China itu menambah panjang deret penolakan komoditas pertanian di pasar ekspor. Sebelumnya, pada 2012 lalu, buah manggis asal Indonesia juga sempat ditolak tanpa alasan.

Pada 2018, China juga kembali menolak masuk komoditas buah-buahan tropis asal Indonesia seperti salak dan manggis. Sebagai informasi, selain China, salak asal Indonesia juga telah menembus pasar negara-negara Asia Tenggara seperti Kamboja, Malaysia, juga Singapura. Di Timur Tengah, salak telah diekspor hingga ke Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Belanda, Jerman, juga Inggris dikenal sebagai beberapa negara importir salak terbesar di kawasan Eropa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper