Gubernur Ganjar Tegaskan Proyek Tol Bawen-Jogja Tetap Berjalan

Oleh: Alif Nazzala Rizqi 23 Oktober 2018 | 13:13 WIB
Gubernur Ganjar Tegaskan Proyek Tol Bawen-Jogja Tetap Berjalan
Foto udara tol Batang-Semarang yang masih dalam pembangunan, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2018). PT. Jasa Marga menargetkan jalan tol Batang-Semarang yang progres pembangunannya sudah mencapai 93 persen, dapat beroperasi pada awal 2019./Antara-Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan proyek tol Bawen - Jogja akan tetap berjalan.

Kendati sempat menimbulkan polemik karena Pansus Perda RTRW DPRD Jawa Tengah menolak rencana pembangunan tol. Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, proyek tol Bawen - Jogja akan tetap berlangsung. Pasalnya, setelah dilakukan pengecekan ternyata daerah yang dilalui tidak berada pada lahan rawan gempa.

"Jadi, itu tetap berjalan. Kan kemarin ada penolakan karena katanya faktor kegempaan, setelah kita cek ternyata daerah yang dilalui tidak berada di daerah rawan gempa. Kemudian alasan kedua soal lahan subur, setelah dicek ternyata mayoritas lahan di sana itu tadah hujan, jadi data itu juga tidak benar," kata Ganjar Selasa (23/10/2018).

Dia menjelaskan, jika proyek pembangunan tol tersebut tetap terlaksana. Sebab, selain sudah menjadi proyek nasional, sampai saat ini belum ada alternatif lain.

"Jika alternatifnya kereta api, itu belum ada project atau dorongan kita untuk melakukan itu, yang sudah ada hanya reaktivasi," tambahnya.

Selain itu, saat Musrembangnas, pihaknya juga mengaku sudah menyampaikan terkait proyek jalan tol itu. Menurutnya, hanya hanya persoalan data yang belum valid sehingga terjadi polemik. "Sudah saya sampaikan (soal tol) dan Jogja sudah setuju. Menurut saya ini hanya persoalan data saja yang tidak valid," tegasnya.

Pansus Perda RTRW DPRD Jateng lanjut Ganjar juga sudah setuju untuk duduk bersama merapikan data. Dia menegaskan, kerapihan data menjadi hal yang penting untuk memulai sebuah pembangunan.

"Kalau itu memang bahaya sekali, saya juga oke untuk memindahkan. Kita carikan tempat lain yang tidak menggangu. Soal nanti lewat mana, kalau memang mengganggu RTRW akan kita tata ulang," katanya.

Sepeti diketahui sebelumnya, Pansus RTRW DPRD Provinsi Jateng menghapus proyek tol Bawen Jogja. Pasalnya, pemerintah saat ini diminta untuk mengoptimalkan transportasi masal seperti kereta api, ketimbang pembangunan jalan tol.

Ketua Pansus Raperda Revisi RTRW DPRD Jateng, Abdul Azis menuturkan, dengan menghapus proyek tol Bawen Jogja sepanjang 71 kilometer akan menyelamatkan lahan pertanian seluas 350 hektare.

"Keuntungannya efisiensi anggaran, dapat menghindari pembangunan di tanah rawan gempa, menyelamatkan 350 hektare lahan basah atau lahan produktif, dan pencegahan eksploitasi material jutaan kubik, jika yang dibangun jalan tol," ujarnya.

Menurut Aziz, adanya revisi RTRW betujuan mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan pembangunan reaktivasi rel kereta api Semarang - Jogja. Pasalnya, dengan reaktivasi jarak antara Semarang - Jogja akan semakin dekat dengan menggunakan moda transportasi kereta api.

"Komitmen pemerintah harus lebih serius membangun sistem transportasi berbasis massal. Kita hanya memberi satu-satunya opsi, selain pengembangan jalan nasional, ya reaktivasi rel kereta api," ujarnya.

Aziz menegaskan, investasi kereta api lebih murah dibandingkan pembangunan jalan tol, dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja.

"Nilai investasinya lebih murah, kalau kereta api itu Rp25 - Rp30 miliar per kilometer dan secara keseluruhan hanya Rp2 triliun. Sementara pembangunan jalan tol Rp150 miliar perkilometer dan keseluruhan anggaran mencapai Rp10 triliun. Kita bisa menyimpan Rp8 triliun, digunakan membangun rel kereta api dari Semarang, ke arah Kudus dan Rembang," terangnya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya