Proyek SPAM Semarang Barat untuk Tekan Pemakaian Air Tanah

Pemerintah Kota Semarang berharap, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) 2019 nanti dapat menekan penggunaan air tanah. Pasalnya, penurunan permukaan tanah di Kota Semarang cukup memperhatikan yang berkisar antara 7 sampai 10 centimeter pertahunnya.
Alif Nazzala Rizqi | 23 November 2018 18:42 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, SEMARANG - Pemerintah Kota Semarang berharap pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) 2019 dapat menekan penggunaan air tanah. Pasalnya, penurunan permukaan tanah di Kota Semarang cukup memperhatikan yang berkisar antara 7 sampai 10 centimeter pertahun.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, SPAM Semarang Barat merupakan proyek penyediaan air bersih pertama di Indonesia yang menggunakan sistem KPBU. Dia menjelaskan, jika sudah jadi maka SPAM bisa mengurangi penggunaan air tanah.

"SPAM Semarang Barat akan mengairi beberapa kecamatan di wilayah Semarang bagian barat. Dan kami berharap adanya SPAM ini dapat mengurangi penggunaan air tanah secara berlebih," tegas Hendi Jumat (23/11/2018).

Adapun, pembangunan proyek ini akan dimulai tahun depan dengan nilai investasi Rp1,2 triliun. Kelebihan lain dari SPAM Semarang Barat, yakni tidak semata-mata menyediakan air bersih bagi warga Kota Semarang. 

Hendi juga menekankan proyek ini juga memperhatikan aspek lingkungan, yakni menekan penggunaan air tanah. Bahkan hal ini juga diatur dalam perda.

"Jadi ini menjadi proyek percontohan, sebagai sistem penyedia air yang menggunakan sistem KPBU. Persiapannya, 10 bulan dan sudah ada pemenangnya. Tahun depan, pembangunan dimulai, dan ditarget rampung 2020,” tuturnya.

Keberadaan SPAM Semarang Barat juga dalam rangka mewujudkan akses universal, 100% kebutuhan air di Kota Semarang terpenuhi.

SPAM Semarang Barat akan menghasilkan 1.000 liter/detik, untuk mengairi 60.000- 70.000 sambungan.

''Masih ada pekerjaan rumah untuk PDAM yaitu pembangunan SPAM Jatisari dan SPAM Pudak Payung. Kedua SPAM tersebut juga dinanti oleh warga Kota Semarang,” tegasnya. 
 
Sementara itu, Pjs Dirut PDAM Tirta Moedal Semarang M. Farchan, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang tentang aturan pembatasan penggunaan air bawah tanah. Pasalnya, jika pengambilan ABT ini tidak dibatasi dikhawatirkan penurunan tanah semakin tajam yang dampak lanjutannya adalah banjir dan rob.

''Tujuan Pembangunan  SPAM Semarang Barat ini antara lain juga untuk mengatasi persoalan tersebut,'' jelasnya.

Dia memaparkan, pembangunan SPAM ini dilakukan oleh tidak pihak yakni PDAM Tirta Moedal, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) dan PT Air Semarang Barat (ABS).

PT ABS dibentuk oleh Konsorsium PT Aetra Jakarta-PT Medco Gas Indonesia sebagai pemenang lelang proyek Kerja Sama antara Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) SPAM Semarang Barat. Setelah proyek tersebut selesai dibangun, akan dikelola PT ABS.

Meski nantinya SPAM Semarang Barat dikelola PT ABS, imbuh dia, namun tetap terus berkoordinasi dengan PDAM, termasuk soal tarif kepada pelanggan. Nantinya, PTABS akan mengelola selama 25 tahun, baru kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah. 

”Tahapan demi tahapan proses proyek KPBU SPAM Semarang Barat hingga saat ini berjalan sesuai jadwal. Kami optimistis target masa bangun tahun 2019 - 2021,'' terangnya.

Proyek ini, lanjut dia, juga menjadi pioner dalam investasi dengan skema KPBU. Banyak sekali dari pemerintah daerah lain, BUMD, dan badan usaha yang melakukan studi banding di PDAM Tirta Moedal Kota Semarang untuk mempelajari skema KPBU.

Tag : pdam, semarang
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top