Cipatakan Genting Berbahan Styrofoam, Mahasiswa Undip Sabet Medali Emas Ajang Internasional

Tim mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berhasil meraih medali emas dalam ajang International Trade Fair of Ideas, Inventions, and New Products (iENA) di Nuremberg berkat inovasi pembuatan genting ringan menggunakan limbah styrofoam.
Lucky Leonard | 26 November 2018 21:29 WIB
Styrofoam - www.ecomaine.org

Bisnis.com, SEMARANG - Tim mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) berhasil meraih medali emas dalam ajang International Trade Fair of Ideas, Inventions, and New Products (iENA) di Nuremberg berkat inovasi pembuatan genting ringan menggunakan limbah styrofoam.

Ajang tersebut diikuti 800 peneliti muda dari 30 negara. Ada dua tim dari Indonesia yang mengirimkan penelitiannya, termasuk Undip yang berhasil meraih medali emas.

Ketua tim mahasiswa Yunnia Rahmandanni mengatakan ada beberapa hal yang melatarbelakangi ide membuat genting dengan campuran styrofoam. Salah satunya adalah permasalahan polusi styrofoam sulit untuk didaur ulang.

"Ini berangkat dari kegelisahan kami karena di dunia ini styrofoam sudah menyebabkan banyak polusi. Jadi, kami berpikir bagaimana limbah ini bisa dimanfaatkan," katanya saat mendemonstrasikan pembuatan genting tersebut di kampus Undip, Senin (26/11/2018).

Bersama empat anggota tim lainnya dan dibantu oleh dosen pembimbing, dilakukan banyak percobaan sebelum menemukan komposisi yang tepat. Adapun genting tersebut diharapkan memiliki fungsi seperti genting pada umumnya, namun dengan berat yang lebih ringan.

"Komposisi semen dan pasirnya satu banding satu. Styrofoam-nya 2%-3%. Kalau terlalu banyak bisa menurunkan kualitas," ujarnya.

Dia berharap hasil dari inovasi timnya tersebut bisa diproduksi secara masal. Adapun sejauh ini belum ada pengujian lebih lanjut terhadap genting tersebut.

Sementara itu, Moh. Nur Sholeh, dosen pembimbing tim tersebut, mengatakan genting tersebut memang dikonsepkan untuk bisa diproduksi secara masal. Namun, perlu modal yang cukup dan banyak pengujian langsung.

Menurut Sholeh, dengan berat yang lebih ringan, genting tersebut bisa menurunkan risiko cedera fatal pada saat terjadi gempa. Hal tersebut membuat genting tersebut cocok diterapkan di Indonesia yang risiko kegempaannya tinggi.

"Kita buat ringan juga karena banyak bencana gempa. Jadi, mengurangi risiko kejadian fatal kalau orang kejatuhan," tuturnya.

Tag : undip, universitas diponegoro
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top