Diduga Terkena Proyek Jalur Kereta, Warga Sleman Resah Lahan Tiba-Tiba Dipatok Tanpa Sosialisasi

Warga Dusun Senden, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Sleman resah terkait dengan adanya pemasangan patok di lahan-lahan milik warga oleh petugas. Pemasangan patok tersebut dikabarkan untuk keperluan perkeretaapian.
Yogi Anugrah
Yogi Anugrah - Bisnis.com 31 Juli 2019  |  20:33 WIB
Diduga Terkena Proyek Jalur Kereta, Warga Sleman Resah Lahan Tiba-Tiba Dipatok Tanpa Sosialisasi
Salah satu patok dari kayu di depan rumah milik warga di Dusun Senden, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Rabu (31/7/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah

Bisnis.com, SLEMAN- Warga Dusun Senden, Desa Sumberadi, Kecamatan Mlati, Sleman resah terkait dengan adanya pemasangan patok di lahan-lahan milik warga oleh petugas. Pemasangan patok tersebut dikabarkan untuk keperluan perkeretaapian.

Pantauan Harianjogja.com, lahan yang dipatok tersebut berada di beberapa titik, mulai dari rumah-rumah yang ditempati oleh warga, ada juga lahan pertanian. Patok menggunakan kayu dan ada juga patok menggunakan semen dengan logo Ditjen Perkeretaapian.

Salah seorang warga Senden yang rumahnya dipatok, Nanda, 43, mengatakan, pemasangan patok di lahan tersebut dilakukan oleh petugas pada Selasa (30/7/2019) lalu.

“Ini porosnya [yang dipatok], informasinya akan diambil ke kanan dan kiri. Dengar-dengar katanya untuk kepentingan kereta api, untuk stasiun,” kata dia saat ditemui di rumahnya, Rabu (31/7/2019).

Ia mengatakan, warga belum ada yang mendapat sosialisasi maupun diberikan informasi dari pihak-pihak terkait. Alhasil informasi yang beredar di warga pun simpang siur. “Katanya dua minggu lagi mau datang survei, belum disosialisasi, tiba-tiba mendadak datang, jadinya warga resah dan harap-harap cemas,” ucap dia.

Ia mengatakan, lahan dan rumah yang ditempatinya tersebut merupakan lahan pribadi, ia pun mengaku belum terpikir jika nantinya akan terdampak proyek pembangunan.

“Saya sudah tinggal di sini selama 40 tahun, jadi belum terpikir, kalau nantinya terdampak, informasinya juga belum jelas,” ujar dia.

Sekretaris Desa Sumberadi Dedy Widayatno mengatakan, pihak Desa juga tidak mengetahui adanya pemasangan patok tersebut.

“Biasanya kalau ada apa-apa, seperti pemasangan patok di lahan milik warga, pasti pihak Desa dikomunikasikan dan diberikan informasi,” kata dia, Rabu (31/7/2019).

Ia mengatakan, jika pemasangan patok tersebut merupakan program dari pemerintah, pihak desa pasti mendukung dan membantu sosialisasi ke masyarakat.
“Kalau pihak desa diinformasikan, kan kami bisa membuat tim untuk wilayah yang terdampak, untuk melakukan sosialisasi dan memberikan informasi ke masyarakat,” kata dia.

Terpisah, Manajer Humas PT KAI Daop 6 Eko Budiyanto mengatakan, jika patok yang dipasang tersebut memang ada label dan logo dari Ditjen Perkeretaapian, tentunya hal tersebut merupakan wewenang dari Kementerian Perhubungan.

“Saya kurang tau persis itu untuk keperluan apa, tapi kalau masalah pembangunan rel, reaktivasi rel, pembangunan jalur ganda itu ranahnya Kemenhub. Kalau itu sudah selesai reaktivasi atau dibangun baru diserahkan dan dioperasikan ke PT KAI,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DIY Sigit Sapto Raharjo memperkirakan pemasangan patok tersebut kepentingan Kemenhub dalam membuat detail engineering design (DED) jalur kereta api dari Semarang-Borobudur-Patukan (Sleman).

“Saya tahunya dari Kementerian Perhubungan akan membuat DED untuk jalur kereta api, kemungkinan patok-patok itu untuk kepentingan DED, perkiraannya seperti itu,” kata dia.

Disinggung mengenai belum adanya sosialisasi ke masyarakat, menurut dia, karena masih dalam tahap membuat DED, wajar belum ada sosialisasi ke masyarakat

“Setelah DED nanti hitung-hitungan, baru nanti akan disosialisasikan kalau mau eksekusi, masuk ke Provinsi, masuk ke Kabupaten,” kata Sigit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sleman, jalur kereta api

Sumber : harianjogja.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top