Tingkatkan Ekspor, Jateng Optimalkan Sisi Hulu

Demi menunjang pertumbuhan ekspor non migas dalam jangka panjang, Jawa Tengah mempersiapkan ekspansi dari sisi hulu untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 04 September 2019  |  17:50 WIB
Tingkatkan Ekspor, Jateng Optimalkan Sisi Hulu
Aktivitas bongkar muat petikemas - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, SEMARANG—Demi menunjang pertumbuhan ekspor non migas dalam jangka panjang, Jawa Tengah mempersiapkan ekspansi dari sisi hulu untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah Arif Sambodo menyebutkan, dalam suatu proses produk ekspor dapat dikatakan sebagai hilir. Oleh karena itu, untuk memacu produknya, pembenahan harus dimulai dari sisi hulu.

Pemprov Jateng sedang menyiapkan kawasan industri baru di Brebes, Kebumen, dan Rembang. Selain itu, sejumlah sektor industri prioritas di Kawasan Industri Kendal (KIK) akan mendapatkan fasilitas seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Selama ini, kita masih banyak impor untuk barang modal. Ini yang menjadi prioritas untuk dibangun. Di KIK juga nantinya industri subtitusi impor bisa mendapat fasilitas KEK. Dengan demikian, kinerja ekspor semakin bertumbuh ,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (3/9/2019).

Total impor non migas Jateng per Juli 2019 mencapai US$5.145,89 juta, naik 2,74% yoy. Artinya masih ada defisit neraca dagang sebesar US$27,63 juta.

Kendati masih mengalami defisit, sambung Arif, pada 7 bulan pertama 2019 komposisi bahan baku/penolong sebesar 72,67%, barang modal 21,14%, dan barang konsumsi 6,19%. Hal itu masih lebih baik dibandingkan pada Januari—Juli 2018 masing-masing sebesar 81,6%, 11,03% dan 7,38%.

“Impor barang modal naik karena industri impor mesin-mesin mekanik, untuk meningkatkan kapasitas atau upgrade alat. Impor sisi konsumsi dan bahan baku menurun, artinya trennya sudah positif, walaupun bisa ditingkatkan,” tuturnya.

Dalam memacu ekspor, Jateng semakin mendapat angin segar seiring dengan pendirian Free Trade Agreement (FTA) Center di Semarang pada 2020. Saat ini ada 5 FTA Center di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Karena ekspor di Surabaya sudah maju, pemerintah pusat akan memindahkan FTA Center itu ke Semarang, tepatnya di Kantor Disperindag Jateng. FTA Center akan memfasilitasi seluruh kebutuhan ekspor, mulai dari informasi, pelatihan, pendampingan, perizinan, dan sebagainya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non migas Jateng pada Januari—Juli 2019 mencapai US$4.823,5 juta. Nilai itu tumbuh 3,78% year on year (yoy) dari Januari—Juli 2018 sebesar US$4.648,04 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, jateng

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top