Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gedung OJK Jateng Roboh Ungkit Kisah Raja Gula Oei Tiong Ham

Lobi depan gedung Otoritas Jasa Keuangan (bekas peninggalan Oei Tiong Ham) yang terletak di Jalan Kyai Saleh No 12-14 Kota Semarang roboh pada Selasa (28/7/2020) sore.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  10:34 WIB
Gedug bagian depan roboh, Selasa (28/7 - 2020).
Gedug bagian depan roboh, Selasa (28/7 - 2020).

Bisnis.com, SEMARANG - Salah satu sisa peninggalan Oei Tiong Ham atau yang sering dikenal dengan raja gula pada masanya kini telah roboh.

Bangunan cagar budaya yang kini ditempati OJK Jateng-DIY memang sedang dalam tahap renovasi dan terpaksa merubuhkan bagian depan gedung tersebut, kemarin sore (28/7/2020).

Ketika membahas bangunan cagar budaya bekas Oei Tiong Ham, kita akan teringat dengan masa kejayaan raja gula tersebut sampai dengan masa jatuhnya.

Yogi Fajri salah satu pegiat sejarah di Kota Semarang bercerita, sebelum dibeli oleh Oei Tjie Sien (ayah Oei Tiong Ham), gedung ini dimiliki oleh Hoo Yam Loo, seorang saudagar Tionghoa yang memiliki pachter Candu.

"Kepemilikan jatuh kepada Oei Tjie Sien setelah gedung dibelinya setelah pada 1883 Hoo Yam Loo dinyatakan bangkrut dan assetnya dilelang pada 1883," kata Yogi kepada Bisnis, Rabu (29/7/2020).

Oei Tiong Ham mewarisi perusahaan ayahnya, NV. Kian Gwan pada 1888 kemudian membesarkannya. Lambat lain setelah mewarisi perusahaan tersebut, bisnis gula yang dijalankan oleh Oei Tiong Ham semakin berkembang dan terus maju di tanah Jawa.

Waktu itu, kekayaan Oei Tiong Ham sangatlah banyak, sampai, surat kabar De Locomotief pernah melabelinya sebagai orang terkaya dari Shanghai hingga Melbourne.

"Ketika itu Oei Tiong Ham memiliki sejumlah bisnis yang cukup besar dari dari pabrik-pabrik gula (Rejoagung, Ponen, Krebet, Tanggulangin dan Pakis), perkapalan (NV. Java China Lijn), Perbankan (N.V. Bankvereeniging Oei Tiong Ham) dan lain sebagainya," tuturnya.

Pada periode sekitar 1880 an Oei Tiong Ham mengakuisisi pabrik-pabrik gula yang terkena dampak resesi. Kemudian, dia melakukan revitalisasi melalui penggantian mesin-mesin pengolahan gula yang lebih modern.

"Salah satu contohnya adalah Pabrik Gula Rejoagung di Madiun yang tercatat sebagai pabrik gula pertama di Hindia Belanda yang menggunakan tenaga listrik," tuturnya.

Akhir cerita pada dekade 1900 an aset-aset Oei Tiong Ham sudah dikelola oleh keturunannya.

"Seluruh aset Oei Tiong Ham disita oleh negara pada 1961 karena tuduhan penggelapan pajak, termasuk Istana Gergaji yang kemudian menjadi milik negara," katanya.

Seperti diketahui, lobi depan gedung Otoritas Jasa Keuangan (bekas peninggalan Oei Tiong Ham) yang terletak di Jalan Kyai Saleh No 12-14 Kota Semarang roboh pada Selasa (28/7/2020) sore.

Berdasarkan pantauan Bisnis, lokasi, gedung cagar budaya tersebut roboh di bagian depan, dan menyisakan potongan kayu yang bertebaran.

Kepala OJK Jateng DIY Aman Santosa mengatakan, terkait dengan informasi yang beredar di masyarakat mengenai kondisi gedung OJK Kantor Regional 3 dirinya memberikan tanggapan.

"Kami informasikan bahwa gedung tersebut memang sedang dalam proses renovasi dan sebelumnya sudah dikosongkan," kata Aman Selasa (28/7/2020).

Menurutnya, selama proses renovasi, dipastikan bahwa pelayanan kepada masyarakat dan aktivitas operasional pegawai OJK Jateng DIY tetap berjalan normal.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan salah satu petugas keamanan Kantor OJK Jawa Tengah, Irawan, sebelum insiden ini terjadi, sudah nampak beberapa titik kerusakan.

"Iya sudah nampak tanda-tanda kerusakannya. Ada retakan di beberapa titik," ungkapnya.

Untuk itu, pihak manajemen kantor melarang para pegawainya berada disekitar bangunan depan OJK. "Sudah diingatkan untuk tidak berada di area itu," tambahnya. (k28)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng OJK semarang
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top