Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minat Petani Jadi Ganjalan Peningkatan Produksi Kedelai

Minat petani untuk menanam kedelai masih rendah. Para petani lebih memilih menanam padi atau jenis palawija seperti jagung.
R Bony Eko Wicaksono
R Bony Eko Wicaksono - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  12:58 WIB
Minat Petani Jadi Ganjalan Peningkatan Produksi Kedelai
Tanaman kedelai rusak - Antara/Rudi Mulya
Bagikan

Bisnis.com, SUKOHARJO -Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo menyayangkan rendahnya minat petani menanam kedelai. Petani lebih banyak menanam palawija jenis lain seperti jagung.

Hal ini lah yang menjadi persoalan dan membuat pengusaha tahu dan tempe menggantungkan pada kedelai impor untuk produksi mereka. Ketika harga kedelai impor naik tinggi, para pengusaha itu kelimpungan, seperti yang terjadi saat ini.

“Minat petani untuk menanam kedelai masih rendah. Para petani lebih memilih menanam padi atau jenis palawija seperti jagung. Ini yang menjadi persoalan untuk menggenjot produksi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Netty Harjianti, saat wawancara dengan JIBI di Gedung DPRD Sukoharjo, Senin (4/1/2020).

Netty mengaku sangat menyayangkan rendahnya minta petani Sukoharjo menanam kedelai. Menurutnya, kualitas kedelai lokal tak jauh berbeda daripada kedelai impor asal Amerika.

Biji kedelai lokal juga bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe. Netty menyebut di Sukoharjo hanya dua wilayah yang memiliki perkebunan kedelai yakni Weru dan Tawangsari.

Lahan perkebunan yang ditanami kedelai seluas 1.700 hektare di sejumlah desa pada dua wilayah tersebut. Pada Februari, lahan perkebunan kedelai yang bakal dipanen seluas 237 hektare.

Netty bakal memperluas lahan perkebunan kedelai untuk meningkatkan produksi kedelai dari petani lokal Sukoharjo pada masa mendatang.

“Pemerintah telah memberikan bantuan untuk para petani kedelai. Saya berharap para petani berminat menanam kedelai karena cukup menjanjikan pada masa mendatang,” ujarnya.

Mengurangi Ketergantungan Impor
Netty meminta agar para pengrajin tahu dan tempe menggunakan kedelai lokal sebagai bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu. Dengan begitu akan memberdayakan produk lokal dan mengurangi ketergantungan kedelai impor.

Saat harga kedelai membubung tinggi, para pengrajin tempe dan tahu tetap bisa menjalankan roda usaha setiap hari.

“Namun, para petani kedelai lokal harus ada penyuluhan secara intensif. Misalnya, jangan menjemur hasil panen di jalan raya karena bisa tercampur dengan kerikil dan kotoran. Ini yang jadi keluhan para pengrajin tahu dan tempe,” paparnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sukoharjo, Umi Sunarsih, meminta agar instansi terkait menggenjot produksi kedelai dari petani lokal dengan memperluas lahan perkebunan ke sejumlah wilayah.

Politikus PDIP ini menyampaikan apabila produksi kedelai ditambah bisa menjadi solusi alternatif jika harga kedelai impor naik. Umi meyakini harga kedelai terus melonjak selama masa pandemi Covid-19.

“Saya yakin harga kedelai tidak akan turun hingga harga normal karena pengaruh wabah Covid-19. Sehingga harus ada solusi alternatif yakni sinergi antara pengrajin tahu dan tempe dan petani kedelai lokal,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jateng kedelai

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top