Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pameran Seni Lukis Eksplorasi Diri dari Denny Apriyanto

Perupa Denny Apriyanto menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Homo Hipokritus’ pada 3 Juni hingga 3 Agustus 2022.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 06 Juni 2022  |  12:39 WIB
'White Clown' (kiri), karya perupa Denny Apriyanto yang dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk 'Homo Hipokritus' di Artotel Gajahmada Semarang pada 3 Juni-3 Agustus 2022. - BISNIS/Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
'White Clown' (kiri), karya perupa Denny Apriyanto yang dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk 'Homo Hipokritus' di Artotel Gajahmada Semarang pada 3 Juni-3 Agustus 2022. - BISNIS/Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Bisnis.com, SEMARANG – Denny Apriyanto merangkai 14 panel plywood jadi sebuah buku besar. Di atas media itu, Denny merupakan ide-idenya dengan cat akrilik. Ada warna-warna cerah, di atas latar putih.

Sebagian karya dibuat lain, latarnya hitam gelap dengan guratan tebal-tipis cat akrilik berwarna putih. Tiap-tiap karya lalu disusun menyerupai lembar halaman. ‘Buku itu Aku’ adalah sebutan Denny buat karyanya barusan.

Denny menyebut ‘Buku itu Aku’ sebagai perlambang diri manusia sebagai individu. Dimana hitam dan putih, baik ataupun buruk, pasti melekat dalam diri yang tak sempurna. Gagasan itu menjadi jembatan dari tema pameran tunggal yang digelar Denny. Pameran bertajuk ‘Homo Hipokritus’ itu digelar di Artotel Gajahmada Semarang pada 3 Juni hingga 3 Agustus 2022 nanti. 

‘Homo Hipokritus’ sendiri merupakan respon Denny akan upaya manusia untuk terlihat sempurna. Menurutnya, sifat hipokrit secara tidak langsung menghilangkan sifat-sifat asli dalam diri manusia itu sendiri. Dimana pengalaman individu yang tak selalu berbahagia, tak luput dari pergumulan hidup, serta kesedihan menjadi fakta dari pengalaman sehari-hari yang dihilangkan demi penilaian liyan.

“Kekurangan atau ketidaksempurnaan tadi pastinya ingin tidak dimunculkan dalam postingan media sosial mereka, karena tak lain mereka ingin terlihat bahagia di mata orang lain,” tulis Denny dalam katalog pamerannya. Manusia sebagai subjek yang tak jujur itu coba dieksplorasi Denny dengan karya-karya bergaya kontemporer. Di atas kanvas, plywood, kertas, hingga akar wangi.

Denny menyiapkan pameran tunggal itu sejak 2018 lalu. Namun demikian, ada beberapa karya baru rampung pada tahun ini, seperti ‘Buku itu Aku’. Sementara itu, karya ‘Buta, Tuli, Peka’ telah digarap Denny sejak 2016. Secara eksklusif, Denny juga hanya menggunakan jenis cat akrilik sebagai pewarna dalam karya-karya yang dipamerkan. Pemilihan akrilik sendiri bisa dilihat sebagai upaya Denny untuk menohok mata penikmat karyanya dengan warna-warna yang cerah.

Namun demikian, karakter akrilik itu coba dieksplorasi lebih lanjut dalam beberapa karya Denny. ‘Buta, Tuli, Peka’ misalnya, masih menggunakan akrilik dengan warna hijau cerah bak papan sirkuit cetak atau Printed Circuit Board (PCB). Tidak ada bentuk atau figur yang jelas dalam karya itu, namun Denny bermain dengan garis-garis tipis, gradasi warna dari hijau ke merah ataupun putih. Kombinasi tulisan tangan Denny dengan cat hitam juga memberikan kontras tersendiri di tengah warna-warna dan bentuk yang kabur itu.

‘Buta, Tuli, Peka’ seakan mengajak penikmat seni untuk tenggelam dalam pengalaman reflektif yang memerlukan kepekaan. Sesuatu yang absen dalam gaya hidup sehari-hari yang serba cepat dan praktis. Dimana keindahan atau aspek estetis segala sesuatu dimunculkan dalam wujud yang paling sederhana. 

Denny Apriyanto (depan kiri), memberikan sambutan dalam acara pembukaan pameran tunggal bertajuk 'Homo Hipokritus' pada Jumat (4/6/2022) pekan lalu di Artotel Gajahmada Semarang./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan

Eksplorasi itu juga ditunjukkan Denny dalam 44 panel karya di atas akar wangi. Karya bertajuk ‘Minderwaardig’ digarapnya pada 2019 lalu. Secara sekilas, terlihat figur-figur hewan, manusia, serta objek sehari-hari dalam karya itu. Namun demikian, Denny kembali mengajak penikmat karya untuk mengasah kepekaan estetisnya. Warna-warna yang cerah serta garis-garis yang kabur mengacaukan bentuk-bentuk figuratif tadi.

‘Minderwaardig’ sendiri dalam bahasa Belanda berarti inferior. Sesuatu yang bernilai rendah, tidak sempurna, atau dalam bahasa yang lebih lugas, cacat. Denny seperti menantang dugaan publik soal imaji kesempurnaan yang mesti hadir dalam hidup. Bahwa pada faktanya, nilai estetis pun bisa muncul dari bentuk yang terlihat cacat sekalipun.

Pemilihan akar wangi sebagai media karya juga menegaskan dugaan itu. “Media ini banyak digunakan di restoran-restoran di Semarang, beberapa waktu lalu,” ucapnya dalam pembukaan pameran pada Jumat (4/6/2022) pekan lalu. Memang, akar wangi kerap kali digunakan sebagai taplak meja makan. Meskipun masuk ke restoran-restoran, namun secara ekonomis akar wangi itu tidak bernilai tinggi. Harganya tak sampai Rp50.000 per lembar.

Dengan ‘Minderwaardig’, Denny memang berharap agar akar wangi itu punya nilai ekonomis yang lebih baik. Sehingga petani hingga penggarap kerajinan akar wangi bisa lebih sejahtera. Namun demikian, penjelasan itu boleh juga ditangkap lain. Tak salah apabila publik mengaitkan pemilihan akar wangi itu dengan tema pameran, dengan diri manusia yang tak jujur. Sebab akar wangi tetap media murah yang minderwaardig kalau dibandingkan dengan kanvas. Sebab, penilai karya tak memerlukan penjelasan si pembuat karya, setidaknya begitu kata Roland Barthes.

Motivasi Denny itu juga bisa ditangkap sebagai kepura-puraan yang lain. Bahwa sebagai perupa, Denny toh tak luput dari sikap hipokritnya sendiri, yang justru semakin menguatkan kegelisahan Denny lewat ‘Homo Hipokritus’-nya. Bahwa siapapun tak luput untuk menjadi diri yang tak jujur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pameran lukisan seni lukis
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top