Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemicu Inflasi Jateng Melampaui Nasional, Ini Kata BI

Kenaikan inflasi pada bulan ini terutama didorong oleh kelompok transportasi, sebagai dampak kenaikan harga bensin dan solar.
Alif Nazzala R.
Alif Nazzala R. - Bisnis.com 05 Oktober 2022  |  13:24 WIB
Pemicu Inflasi Jateng Melampaui Nasional, Ini Kata BI
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) ke mobil. - JIBI/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, SEMARANG - Bank Indonesia menyebut September 2022, Provinsi Jawa Tengah mencatatkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 1,19% (mtm), setelah di bulan sebelumnya mencatatkan deflasi sebesar 0,39% (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra menjelaskan peningkatan inflasi ini terutama bersumber dari kelompok transportasi. Realisasi inflasi tersebut tercatat sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional yang sebesar 1,17 persen (mtm).

"Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada September 2022mencapai 6,40 persen (yoy) , lebih tinggi dari inflasi nasional yang sebesar 5,95 persen (yoy)," kata Rahmat, Rabu (5/10/2022).

Kenaikan inflasi pada bulan ini terutama didorong oleh kelompok transportasi, sebagai dampak kenaikan harga bensin dan solar.

Adapun, pada 3 September 2022 lalu, pemerintah secara resmi mengumumkan kenaikan harga Pertalite (dari Rp7.650 menjadiRp10.000 per liter), Solar subsidi (dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter), serta Pertamax (dari Rp12.500 menjadi Rp14.500 per liter).

Lebih lanjut, kenaikan harga tersebut turut mempengaruhi kenaikan tarif transportasi. Salah satunya tercermin pada tarif angkutan antar kota yang turut mengalami peningkatan pada September 2022.

"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mulai menunjukkan peningkatan indeks harga meskipun masih tercatat mengalami deflasi sebesar -0,15% (mtm)," jelasnya.

Indikasi peningkatan harga pada kelompok komoditas ini terutama didorong oleh kenaikan harga beras seiring dengan berlalunya masa panen di Jawa Tengah.

Selain itu, telah terjadi serangan hama di beberapa wilayah sentra di Jawa Tengah sehingga turut mempengaruhi panen padi, salah satunya seperti yang terjadi di Kabupaten Semarang. Meski demikian, diperkirakan pada Oktober mendatang terdapat beberapa wilayah yangmulai memasuki masa panen sehingga diperkirakan harga beras akan segera kembali ke level normalnya.

Di sisi lain, beberapa komoditas seperti bawang merah dan daging ayam ras masih menunjukkan penurunan harga.

"Berlanjutnya penurunan harga bawang merah terjadi seiring dengan sejumlah daerah sentra di Jawa Tengah yang telah memasuki masa panen, di antaranya wilayah Brebes dan Kendal," tambahnya.

Selanjutnya, penurunan harga daging ayam ras ditengarai akibat kondisi kelebihan pasokan yang saat ini terjadi di pasar.

Di sisi lain, harga emas perhiasan justru mencatatkan penurun pada periode ini. Penurunan ini sejalan dengan penurunan harga emas dunia. Secara bulanan, harga emas dunia turun sebesar 2,81 persen.

Untuk menjaga inflasi kembali pada sasarannya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah akan terus melakukan koordinasi dan mengalokasikan sumberdaya untuk program pengendalian inflasi dan meredam dampak inflasi pasca kenaikan BBM subsidi.

Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah pusat yang membolehkan penggunaan pos anggaran Belanja Tidak Terduga untuk program pengendalian inflasi di daerah. (k28)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi jateng semarang
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top