Penderes Pelestari Adat: Kisah Pemberdayaan Ekonomi Berbalut Kearifan Lokal Banyumas

Komunitas adat di Banyumas merawat mimpi untuk bisa sejahtera dari tetesan nira. Koperasi jadi alat perjuangan mereka.
Suasana ritual slametan yang digelar masyarakat adat di Banyumas setiap tanggal 12 Mulud penanggalan Aboge./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.
Suasana ritual slametan yang digelar masyarakat adat di Banyumas setiap tanggal 12 Mulud penanggalan Aboge./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Bisnis.com, SEMARANG - Jawa Tengah masih diguyur hujan hingga pengujung bulan Januari 2023. Di lereng-lereng perbukitan, potensi longsor dan banjir bandang bahkan ikut menghantui. Namun, masyarakat di Dukuh Banjaran, Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas, punya ketakutan lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, periode puncak musim penghujan berubah bak musim duka. Para penderes, sebutan masyarakat setempat buat penyadap nira, banyak jatuh dari pohon.

Risiko jatuh dari pohon memang menjadi momok serius bagi mereka yang bermata pencaharian sebagai penderes. Tak ada cara lain untuk memanen nira selain dengan memanjat pohon aren yang bermeter-meter tingginya. Batang pohon yang licin ditambah lumut yang tumbuh bisa jadi petaka ketika penderes itu salah mengambil langkah.

Bukan tanpa alasan jika masyarakat Banyumas banyak menggantungkan hidupnya dari tetesan nira. Meskipun mesti bertaruh besar, namun nira yang nantinya diolah menjadi gula aren ataupun gula semut itu bisa menghasilkan cuan. Dalam catatan sejarah, masyarakat Banyumas disebut sudah bermata pencaharian sebagai penderes sejak Era Kolonial.

Jika wilayah di utara lembah Serayu lebih banyak menggantungkan hidupnya dari kebun tembakau, di sebelah selatan masyarakat lebih akrab dengan hasil perkebunan seperti kopi, kopra, buah-buahan, juga gula aren. Yustina Hastrini Nurwanti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, dalam publikasinya pada 2015 lalu bahkan menyebut hasil perkebunan di wilayah selatan lembah Serayu itu sejak Era Kolonial sudah mampu menembus pasar ekspor.

"Dalam legendanya, itu [menderes nira] berasal dari zaman yang lebih tua lagi," kata Ahmad Tohari, penulis sekaligus budayawan asal Banyumas. Masyarakat setempat punya mitos tersendiri yang diyakini sebagai awal kebiasaan menyadap nira. "Dari seorang petani yang melemparkan sabitnya untuk membunuh seekor burung. Tapi lemparan sabit itu meleset, lalu mengenai manggar dan mengeluarkan tetesan air yang rasanya manis dan ditampung. Lama-lama, air nira itu dijadikan gua kelapa," jelasnya saat dihubungi Bisnis pada Jumat (27/1/2023).

Tohari sendiri mengamini bahwa menjadi penderes adalah keputusan yang tak bisa dilepaskan dari tradisi dan kebudayaan Banyumas. "Ada hubungannya, terutama sebagai tradisi untuk mencari nafkah paling sederhana dan paling praktis. Karena itu bisa menghasilkan uang setiap hari. Berbeda dengan bertani, itu kan harus menunggu sampai panen," ucapnya.

Eksistensi Penderes dan Komunitas Adat di Banyumas

Oktober lalu, Bisnis menyambangi kediaman Tarmono Gadal, sesepuh dari Paguyuban Galih Warangka Jati Padepokan Tunjung Kusuma yang berlokasi di Desa Ketanda. Pria paruh baya itu belum rampung membersihkan sejumlah pusaka yang dititipkan di kediamannya. Tarmono menjelaskan bahwa tradisi membersihkan pusaka itu sudah dipercaya dan dilakukan turun temurun oleh masyarakat Banyumas, terlebih menjelang masuknya bulan Mulud penanggalan Alip Rebo Wage (Aboge). Diiringi suara hujan yang masih turun, Tarmono mengerjakan tugas itu hingga nyaris tengah malam.

Keesokan harinya, sejak pagi buta, Tarmono sudah bersiap buat memimpin upacara adat. Upacara Mulud itu bakal berlangsung tepat di samping kediamannya, tepatnya di pendopo sederhana yang saban hari jadi pusat kegiatan Paguyuban Galih Warangka Jati Padepokan Tunjung Kusuma. Satu per satu, anggota komunitas adat dengan pakaian serba hitam, lengkap dengan ikat kepala khas Banyumas, datang membawa bakul yang dianyam dari bambu. Di dalamnya, berbagai hidangan tradisional disiapkan, mulai ayam ingkung, nasi aneka warna, juga sayur mayur. Tak lupa, lapisan daun pisang digunakan untuk melapisi bagian dalam bakul bambu tersebut.

Bakul-bakul itu ditaruh tepat di tengah-tengah halaman pendopo. Asap rokok mengepul tak putus-putus di tengah suasana yang masih dingin, sisa hujan yang turun hampir tiga hari tiga malam. Sesekali, orang-orang bersenda gurau dalam bahasa Banyumas yang kental. Sesekali pula, lika liku kehidupan penderes ikut dilontarkan. Seperti kabar duka yang datang dari desa tetangga. Dimana dalam dua bulan terakhir, ada dua orang yang meninggal akibat jatuh dari pohon.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Tarmono keluar dari kediamannya. Seketika, suasana berubah khidmat ketika Tarmono duduk di depan besek-besek berisi aneka sajian itu. Orang-orang mengikutinya dengan duduk bersila di sekitar sesaji. Dengan raut muka yang serius, Tarmono merapalkan doa-doa dalam bahasa Banyumas. Upacara dan doa itu dipanjatkan Paguyuban Galih Warangka Jati Padepokan Tunjung Kusuma sebagai bentuk syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa.

"Ini untuk nguri-uri alam, budaya, dan adat. Karena alam yang memberikan hidup, mati. Menyembuhkan dan membawa penyakit. Makanya harus dihormati, di-slameti," jelasnya dalam campuran bahasa Indonesia.

Perkara keselamatan memang jadi narasi utama dalam keseharian komunitas adat tersebut. Tak cuma keselamatan rohani yang coba diraih melalui berbagai ritual, upacara, dan doa-doa. Anggota komunitas adat itu juga tak kenal lelah mengupayakan keselamatannya ketika menderes nira. Harapannya tak muluk-muluk, supaya penderes-penderes di Desa Ketanda bisa mencari nafkah dengan aman dan sejahtera. Berbekal kedekatan kultural yang sudah terjalin erat, anggota komunitas adat itu kemudian mendirikan Koperasi Argo Mulyo Jati yang menjadi alat untuk mewujudkan mimpi mereka.

Semangat Generasi Kedua

Mimpi besar itu juga diamini oleh Niko Hermawan, putra bungsu Tarmono. Beberapa tahun lalu, Niko sempat merantau ke luar daerah untuk mencari nafkah. Langkah yang sebenarnya sudah lazim diambil bagi pemuda-pemuda lainnya. Maklum saja, sebab memang tak mudah buat mencari pekerjaan di Banyumas. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah itu masih lebih tinggi ketimbang Jawa Tengah. Pada 2022 misalnya, BPS mencatat TPT Banyumas di angka 6,05 persen. Sementara TPT Jawa Tengah masih berada di angka 5,57 persen.

Di atas kertas, mencari nafkah di luar daerah memang terlihat menjanjikan. Namun, kehidupan kota yang demikian riuh dirasa kurang cocok dengan pribadi Niko. Prinsip dan keyakinan yang dulunya akrab dihidupi dalam komunitas adat juga dirasa kian sulit untuk dilakoni. Kegelisahan itulah yang menyeret Niko untuk pulang ke kampung halamannya.

Niko lantas kembali aktif di Paguyuban Galih Warangka Jati Padepokan Tunjung Kusuma. Komunikasi dengan komunitas adat lainnya pun dijalin, hingga Niko merapat dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Di lembaga itu, Niko ikut memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, termasuk upaya pengakuan penganut kepercayaan di kolom Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Di Desa Ketanda, Niko memilih menjadi penderes. Perjuangan pemuda itu terus berlanjut dengan ikut menginisiasi pendirian Koperasi Argo Mulyo Jati yang dibentuk oleh kakak dan anggota komunitas adat lainnya. Dari seratusan orang penderes yang jadi anggota koperasi, puluhan diantaranya adalah anak-anak muda yang sebagian juga menjadi generasi kedua dari komunitas adat Paguyuban Galih Warangka Jati Padepokan Tunjung Kusuma.

"Kemarin kita baru Rapat Anggota Tahunan (RAT), kebetulan untuk tahun ini pas banget agendanya pergantian pengurus, karena sudah lima tahun. Sekarang aku di pengurus jadi sekretaris," jelas Niko saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (27/1/2023).

Baik komunitas adat maupun koperasi saling berkelindan dalam kehidupan masyarakat Desa Ketanda. Usaha yang dijalankan koperasi tak lepas dari pertimbangan-pertimbangan para sesepuh adat.

"Koperasi sendiri ikut mendukung kegiatan adat, seperti acara rutinan atau pementasan. Walaupun tidak kita support full, tapi sedikit meringankan lah," jelas Niko.

Terkait usaha yang dijalankan Koperasi Argo Mulyo Jati, Niko menjelaskan bahwa saat ini permintaan gula aren dan gula semut sedang baik-baiknya. Harga gula aren di tingkat penderes bisa menyentuh Rp13.000 per kilogram. Sementara untuk gula semut, harganya bisa mencapai Rp16.000 per kilogram. "Cuma permasalahan klasiknya di persaingan antar kompetitor. Koperasi menghadapi tengkulak yang datang langsung ke penderes, biasanya dari luar daerah. Pemain besarnya berani main di harga yang lebih tinggi. Penderes pasti lebih memilih ke sana, walaupun selisihnya cuma Rp200-300," katanya.

Dengan kondisi tersebut, tak banyak yang bisa dilakukan Koperasi Argo Mulyo Jati. Semangat ekonomi kerakyatan berbasis komunitas adat itu seolah menjadi David yang mesti berhadapan dengan Goliat.

"Akses pasar ini juga susah buat kami. Mereka [pemerintah] harus mengerti kondisi riil di lapangan seperti apa. Kompetitor yang punya modal besar bisa masuk dengan mudah ke pemerintahan, tetapi kita yang berniat menyejahterakan petani malah makin susah," kata Niko.

Pada tahun 2023 ini, Koperasi Argo Mulyo Jati sendiri menargetkan kapasitas produksi bulanan di angka 20-30 ton. Tak heran jika selain akses pasar, Niko dan penderes-penderes lainnya itu begitu mengharap dukungan alat produksi. Sebab, peningkatan kualitas dan kapasitas produksi bakal berkaitan erat dengan cuan yang bisa diraih. Secara tidak langsung, faktor itu juga bisa mendekatkan mimpi anggota Koperasi Argo Mulyo Jati untuk hidup sejahtera dan sejalan dengan nilai adat yang dipegang erat.

Belum cukup digempur persaingan pasar, Niko dan anggota koperasi lainnya juga mesti berpikir panjang sebelum menderes di musim penghujan ini. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga Pemerintah Kabupaten Banyumas memang punya program khusus buat penderes-penderes seperti mereka. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, misalnya, punya program Melindungi Seluruh Pekerja dengan Gerakan Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan atau disingkat Mesra dengan Ganjar.

Program itu digagas Asosiasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan Indonesia (Almadhina) dan Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai). Program Mesra dengan Ganjar terlaksana berkat kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Badan Penyedia Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK). Pada 2021 silam, program itu digadang-gadang sudah menyalurkan Rp300 juta asuransi kepada penderes nira dan penyadap pinus di wilayah Banyumas.

Adapun program sejenis juga ikut diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dana sebesar Rp5 juta disalurkan buat penderes yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Sementara itu, buat penderes yang cacat permanen bakal menerima bantuan sebesar Rp10 juta. Lain dengan program Mesra dengan Ganjar yang mewajibkan penderes buat membayar premi setiap bulannya, program jaminan sosial dari Pemerintah Kabupaten Banyumas itu disebut bebas biaya dan dapat selesai dalam satu hari kerja.

Program-program itu seolah menjadi jawaban atas masalah yang dihadapi penderes. Namun, fakta di lapangan berkata lain. "Isunya malah itu sudah tidak berlaku. Sempat ada anggota koperasi yang jatuh, kita klaim langsung ke desa, dulu dapat Rp10 juta untuk pengobatan. Cairnya tapi lumayan lama, dua tahun, gak tau ada permasalahan apa di birokrasi pemerintahan," ungkap Niko.

Terlepas dari sekelumit permasalahan itu, semangat Niko dan pemuda-pemuda anggota koperasi dan komunitas adat itu tampaknya masih belum surut. Komunikasi dengan pemangku kebijakan terus coba diupayakan, begitu pula komunikasi dengan antar komunitas adat dan sesama petani. Dalam waktu dekat, Niko juga mengaku bakal singgah ke Yogyakarta. "Ketemu pemuda yang bergerak di bidang pertanian juga. Mau belajar," katanya sebelum menutup sambungan telepon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Editor : Ajijah
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper