Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cara Dongkrak Penjualan Produk UKM di Pasar Digital

UKM Virtual Expo 2021 ajak pelaku UKM beralih ke e-commerce.
M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan - Bisnis.com 17 Februari 2021  |  14:55 WIB
Salah satu booth dalam gelaran UKM Virtual Expo 2021. Sebanyak 500 pelaku UKM asal Jawa Tengah ambil bagian dalam pelaksanaan UVO di tahun kedua ini, 150 UKM di antaranya berasal dari sektor usaha makanan dan minuman.  -  Muhammad Faisal Nur Ikhsan / BISNIS
Salah satu booth dalam gelaran UKM Virtual Expo 2021. Sebanyak 500 pelaku UKM asal Jawa Tengah ambil bagian dalam pelaksanaan UVO di tahun kedua ini, 150 UKM di antaranya berasal dari sektor usaha makanan dan minuman. - Muhammad Faisal Nur Ikhsan / BISNIS

Bisnis.com, SEMARANG – UKM Virtual Expo (UVO) 2021 memberikan tips dan trik bagi pelaku UKM yang ingin beralih ke pasar digital lewat diskusi bertajuk “E-Commerce & Branding” UVO 2021 menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya.

Addi Ippe, Founder sekaligus CEO dari Kencar Creative, memberikan paparan mengenai pentingnya branding bagi pelaku UKM. Alumnus jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Dian Nuswantoro ini mengungkapkan bahwa seringkali pelaku UKM gagal paham terkait apa itu branding.

Marketing dan branding itu dua hal yang berbeda. Branding adalah apa yang orang katakan [tentang produk atau jasa yang ditawarkan,],” tuturnya, Rabu (17/2/2021).

Ia menjelaskan seringkali pelaku UKM membuat logo dan kemasan untuk produk yang dijualnya. Meskipun demikian, ketika ditanya terkait nilai lebih produk yang dijual, tak banyak yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

Ketika saya tanya ini, banyak sekali yang tidak tahu mendeskripsikan keunggulan produknya seperti apa. Kebanyakan yang diunggulkan hanya rasanya enak, isinya banyak, dan harganya murah. Tapi sampai kapan kayak gitu terus?,” jelasnya.

Branding memang berperan penting pada penjualan produk. Pasalnya, branding mampu mempengaruhi persepsi yang diterima calon pembeli. Misalnya saja, penggunaan warna merah yang identik dengan rasa pedas, hijau dengan sesuatu yang organik, dan cokelat yang identik dengan cake dan kopi.

Teman-teman UKM ini mengalami stuck kalau saya lihat. Setelah bikin brand dan brand identity ini ditaruh saja. Tiba-tiba langsung di-upload ke sosial media, tiba-tiba di-upload di e-commerce, tiba-tiba minta bantuan untuk dijualkan,” tambah Addi.

Untuk memudahkan proses branding, pelaku UKM bisa membuat toko daring sendiri. Hal tersebut disampaikan Agung Pambudi, praktisi pemasaran digital yang juga ikut jadi narasumber dalam acara tersebut.

“Kita bisa bikin toko online kita sendiri, kita bisa bangun. Atau kita bisa manfaatkan marketplace yang sudah ada. Dua pilihan inilah yang bisa teman-teman UKM ambil,” jelasnya.

Meskipun lebih leluasa dalam melakukan branding, membangun toko daring akan membutuhkan modal yang lebih besar ketimbang bergabung dengan platform marketplace yang sudah ada. Selain itu, dengan bergabung ke marketplace, pelaku UKM juga dapat memanfaatkan berbagai promo menarik yang diberikan. Seperti ongkos kirim gratis hingga potongan harga yang didukung oleh pihak marketplace.

“Kita juga gak perlu mencari-cari orang yang mau pakai platform [penjualan] ini,” tambah Agung.

Ia juga menjelaskan, apabila pelaku UKM memutuskan untuk terjun ke pasar digital, maka ada beberapa hal yang mesti disiapkan. “75 persen orang gak jadi beli di satu toko karena seller-nya slow respond,” jelasnya.

Oleh karena itu, pengusaha mesti memiliki respons yang cepat. “Karena orang belanja di marketplace ini gak kenal jam,” tuturnya.

Pelaku UKM yang menjual produk buatannya sendiri juga akan sangat diuntungkan apabila melakukan penjualan di pasar digital. “Kalau kita jual produk original, kita bisa lebih fleksibel menentukan harga,” jelas Agung.

Hal sebaliknya terjadi apabila produk yang dijual adalah hasil produksi massal, dimana salah satu jalan yang bisa diambil adalah bersaing dalam menawarkan harga terendah. “Barang [yang ditawarkan banyak yang] mirip, mana yang murah ya saya beli,” jelasnya.

Selain memberikan informasi dan edukasi bagi pelaku UKM di Jawa Tengah, UVO 2021 juga menawarkan berbagai acara lainnya. Pada hari ketiga (18/2/2021), UVO 2021 akan memperkenalkan teknik fruits carving dan plating tumpeng. Selain itu, pada sesi kedua, pelaku UKM akan diajak untuk meningkatkan literasi keuangan bersama Bank Jateng.

Sebanyak 500 pelaku UKM asal Jawa Tengah ambil bagian pada gelaran UVO 2021. Ada 150 pelaku UKM yang bergerak di sektor makanan dan minuman. Pada hari pertama pelaksanaannya, nominal transaksi yang dibukukan telah mencapai Rp15 juta.

Perajin melukis lampu hias dari perabot rumah tangga daur ulang di Fairus Art Solo, Jawa Tengah, Senin (15/2/2021). Penjualan kerajinan perabot lukis mengalami kenaikan sebesar 50 persen selama masa pandemi COVID-19 karena banyaknya transaksi pembelian secara daring dan bantuan promosi lewat pameran produk UMKM digital./Antara-Maulana Surya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm jateng
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top