Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jumlah Wisatawan ke Solo Merosot, Sektor Pendukung Terpukul

Angka kunjungan wisatawan yang merosot tersebut turut memengaruhi okupansi hotel sepanjang 2020. Selama pandemi tahun lalu rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Solo hanya 29,35 persen.
Farida Trisnaningtyas
Farida Trisnaningtyas - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  11:10 WIB
Pekerja membuat alat cap batik di Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2020). Alat cap batik berbahan tembaga tersebut dijual seharga Rp300.000 hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan motif. - Antara
Pekerja membuat alat cap batik di Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/8/2020). Alat cap batik berbahan tembaga tersebut dijual seharga Rp300.000 hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan dan tingkat kerumitan motif. - Antara

Bisnis.com, SOLO — Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo merosot tajam selama pandemi Covid-19 pada 2020. Penurunan angka wisatawan ini mencapai 74 persen pada 2020 jika dibandingkan dengan 2019 lalu (year on year).

Sekretaris Dinas Pariwisata Solo, Budy Sartono, mengatakan ada penurunan jumlah wisatawan pada 2020 atau selama pandemi berlangsung. Ini terjadi baik pada wisatawan domestik maupun asing.

“Pandemi Covid-19 berdampak sangat besar pada sektor pariwisata. Jumlah kunjungan turis berkurang drastis dan banyak destinasi unggulan harus tutup,” ujar dia, kepada wartawan, Rabu (24/3/2021).

Disparta Solo mencatat pada 2019 angka kunjungan wisatawan ke Kota Solo sebanyak 5,353 juta orang (5.353.834). Jumlah ini jeblok pada 2020 menjadi hanya 1,42 juta orang (1.420.315) atau menurun hingga 74 persen. Dari jumlah tersebut, wisatawan domestik dari 5,321 juta (2019) menjadi hanya 1,415 juta orang (2020).

Sementara jumlah turis asing juga turut anjlok, yakni dari sebanyak 32.317 orang (2019) tinggal 4.485 orang (2020).

Menurutnya, dari angka kunjungan wisatawan yang merosot tersebut turut memengaruhi okupansi hotel sepanjang 2020. Selama pandemi tahun lalu rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Solo hanya 29,35 persen.

Begitu pula dengan lama waktu menginap mereka di Kota Solo. Pihaknya menyebut rata-rata lama menginap wisatawan (RLM) atau lenght of stay untuk wisatawan domestik 1,5 hari dan wisman 2,5 hari.

Lebih lanjut Budy menjelaskan jumlah hotel bintang ada 48 dan nonbintang sebanyak 97 hotel, dengan total kamar keseluruhan sebanyak 4.350 kamar pada 2020. Dalam hal ini, ada penurunan jumlah hotel khususnya nonbintang dari sebelumnya sebanyak 106 hotel pada 2019.

“Bagaimana pun pariwisata itu borderless. Jadi bisa berwisata ke daerah di luar Solo, tapi menginapnya di hotel di Solo. Kami menyiapkan sejumlah langkah kebijakan untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, yakni terkait manajemen brand, produk, dan customer,” imbuh dia.

Sebelumnya, okupansi hotel berbintang di Soloraya tercatat sekitar 20 persen - 30 persen pada triwulan I 2021. TPK yang masih rendah ini dipengaruhi masih adanya pandemi Covid-19. Meskipun begitu, revenue hotel tak hanya tergantung penjualan kamar, tapi juga produk lainnya seperti acara pernikahan, event meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE), dan lain-lain.

Ketua Bidang Humas dan Promosi BPC PHRI Solo, Sistho A Sreshtho, mengatakan pada triwulan I 2021 trennya masuk low season sehingga okupansi hotel terbilang rendah. Kondisi ini makin berat lantaran pandemi Covid-19 tak juga usai.

“Okupansi hotel memang masuk low season pada tiga bulan pertama 2021 ini. Januari 2021 sekitar 20 persen, lalu Februari 2021 ada kenaikan di angka 28 persen - 30 persen. Pada Maret harapannya naik. Trennya sebelum puasa, tamu khususnya government banyak menghabiskan untuk meeting,” papar dia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, Totok Tavirijanto, mengatakan BPS mencatat TPK hotel bintang di Kota Solo pada Januari 2021 tercatat sebesar 23,20 persen atau mengalami penurunan sebesar 10,91 poin dibanding TPK Desember 2020 yang tercatat sebesar 34,11 persen.

“Penurunan TPK yang cukup signifikan terjadi pada klasifikasi hotel bintang 4+ yang turun 13,94 poin. TPK tertinggi tercatat sebesar 27,29 persen terjadi pada hotel bintang 2. Sedangkan TPK terendah terjadi pada hotel bintang 3 yang hanya mencapai angka 17,54 persen. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, TPK hotel bintang Januari 2021 secara rata-rata turun 24,61 poin,” jelas dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata jateng Solo

Sumber : JIBI/Solopos

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top